Mohon tunggu...
Frando Nainggolan
Frando Nainggolan Mohon Tunggu... Berkarya Tanpa Batas

Semakin Keras Kamu Bekerja Untuk Sesuatu, Maka Semakin Besar Pula Perasaanmu saat Mencapainya.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Makna Dimensi Politik Gereja

24 Februari 2021   08:23 Diperbarui: 24 Februari 2021   08:34 91 6 3 Mohon Tunggu...

MAKNA DIMENSI POLITIK GEREJA

Oleh : Frando Nainggolan

Dalam percakapan umum, terutama dalam dunia sekuler, politik sering diasosiasikan  dengan sesuatu yang kotor atau tidak jujur. Politik sering dimengerti sebagai hal yang berkaitan dengan kebohongan atau propaganda yang melibatkan korupsi, manipulasi dan perjuangan untuk kepentingan kelompok sendiri.. Politik dalam pengertian dan tujuannya yang asli adalah sangat mulia dan positif seperti yang diajarkan pemikir Aristoteles bahwa manusia dari kodratnya adalah makhluk politis. Politik merupakan kodrat dasar makhluk manusia yang adalah makluk pribadi dan sekaligus sosial. Ketika Gereja berbicara tentang dirinya sebagai entitas yang politis, maka ia berbicara tentang politik dalam arti positif seperti yang diajarkan oleh pemikir Aristoteles

Dalam pengertian positif, politik sesungguhnya sangat fundamental bagi iman Kristen. Ke dalam politik dalam arti positif ini Gereja dipanggil untuk terlibat mempromosikan Injil kasih, namun tanpa harus menjadikan sebagai salah satu entitas yang secara langsung bersaing dengan lembaga-lembaga politik partisan. Politik bagi Gereja tidak lain daripada sebuah tanggapan Gereja terhadap masalah ketakadilan sosial ekonomi dan politik yang di dalamnya Gereja ada dan hidup merupakan sesuatu yang sangat fundamental bagi iman, dan Gereja tidak dapat mengabaikannya. Tapi hal itu tidak berarti bahwa Gereja harus memerankan dirinya sebagai sebuah lembaga politik yang masuk dan ikut secara langsung bersaing dengan lembaga-lembaga politik lainnya atau bahwa Gereja memiliki proses politik sendiri. Juga hal itu tidak berarti bahwa Gereja kita berusaha mencari kepemimpinan politik.

Dalam hal ini saya mencoba berbicara tentang sebuah opsi yang otentik yaitu; bagi kaum miskin, tentang bagaimana Gereja menginkarnasikan dirinya di dalam dunia mereka (kaum miskin), tentang bagaimana memberitakan Injil kepada mereka, tentang bagaimana memberi mereka harapan, tentang bagaimana mendorong mereka untuk terlibat dalam praksis-praksis yang membebaskan, tentang bagaimana membela kepentingan hidup mereka dan berbela rasa dengan nasib mereka. Opsi Gereja bagi masyarakat miskin menyingkapkan dimensi politik dari iman Kristiani dalam hal-hal yang sangat fundamental. 

Oleh sebab itu kalau Gereja telah memilih untuk memihak mereka yang sungguh miskin, maka Gereja hidup dalam dunia politik dan Gereja mewujudkan kepenuhan eksistensi dirinya sebagai Gereja. Dengan kata lain, Gereja terlibat dalam politik tidak lain berarti secara profetis memihak kaum miskin dan bersikap solider dengan mereka, dan mengecam setiap struktur sosial sebagai penyebabnya.

Dengan demikian, bersifat politis bagi Gereja adalah sebuah panggilan yang mulia dan menjadi bagian konstitutif dari pelayanan kenabiannya. Kalaupun Gereja berpolitik itu adalah untuk menegakkan Keadilan Bagi Gereja, dimensi politiknya lahir  dan bertujuan untuk membela dan menegakkan keadilan bagi semua orang, memberika perlindungan martabat setiap pribadi manusia dan integritas alam ciptaan sebagai sumber hidup manusia, seperti yang direncanakan oleh Allah pencipta. Sebagai sebuah kelanjutan dari misi pembebasan dari Allah (missio Dei). Salah satu alasan keberadaan dimensi Politik dari Misi pembebasan Gereja adalah untuk menegakkan keadilan dan membebaskan umat manusia dari semua bentuk penindasan,

VIDEO PILIHAN