Mohon tunggu...
Fitri Haryanti Harsono
Fitri Haryanti Harsono Mohon Tunggu... Jurnalis Kesehatan Liputan6.com

Fitri Haryanti Harsono, akrab disapa Oshin, berprofesi sebagai Jurnalis Kesehatan Liputan6.com di Jakarta, Indonesia. Fitri baru menyelesaikan beasiswa untuk menggarap liputan khusus imunoterapi kanker periode November-Desember 2019. Selain isu kesehatan, Fitri juga menulis seputar pangan, lingkungan, perubahan iklim, serta perikanan dan kelautan. Terhubung dengan Fitri di Twitter @v3_aishiteru dan Facebook. Email: fitri.harsono91@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tinggalkan "Kegelapan Ilmu"!

16 Mei 2015   05:27 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:57 85 1 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tinggalkan "Kegelapan Ilmu"!
1431056555633547421




[caption id="attachment_382455" align="aligncenter" width="630" caption="Meninggalkan "][/caption]

Gelapnya malam tidak dipermasalahkan karena itu sesuatu yang alami. Kebutaan yang dialami tunanetra tak menghentikan mereka bekerja dan berkarya laiknya manusia normal lainnya. Namun, gelapnya ilmu bisa berakibat “buta” segalanya.

Bukan buta tidak bisa ‘melihat’ secara harfiah, melainkan “buta” menanggapi segala perubahan dan tantangan dari luar lingkup individu sehari-hari. Jalan ke luar menghadapi tantangan melalui ilmu. Ilmu menjadi pegangan individu menjalani kehidupan.

Orang kaya tidak melulu dipandang dari harta yang melimpah. Tapi seberapa besar kekayaan ilmu yang dimiliki. Ilmu memengaruhi pola pikir individu untuk maju. Gerbang pendidikan-lah yang terbuka sebagai jembatan ilmu bagi individu.

Dari otot ke otak

Keterbukaan pendidikan di Indonesia berawal dari perjuangan demi tercapainya kemerdekaan mandiri dari cengkeraman kolonialisme. Kesadaran berganti, perjuangan tidak sekadar pakai adu otot. Tapi harus dilengkapi dengan kekuatan otak.

Kekuatan otak berarti seseorang mesti berilmu. Orang berilmu berarti mengecap pendidikan. Meskipun dulu pendidikan hanya dinikmati kalangan bangsawan atau keluarga pejabat, tonggak para cendekiawan membawa Indonesia pada sebuah kemajuan.

Kemajuan “berperang” otak. Diplomasi diperlukan berhubungan dengan para penjajah. Serangkaian perjanjian-perjanjian dibuat. Hal tersebut dibuktikan, kiprah perjuangan bangsa Indonesia pada awal 1900-an yang mulai terbentuknya pelbagai organisasi perjuangan. Organisasi dibentuk oleh kalangan berpendidikan.

Terbentuknya organisasi menunjukkan kecakapan teknis sistematis, teratur, dan terkoordinasi. Perjuangan otak diperlukan kemampuan koordinasi yang baik. Keahlian berdiplomasi, kritis, dan terbentuknya organisasi ada ilmunya. Untuk itu, seseorang harus belajar lewat pendidikan.




“Seseorang yang berpendidikan tidak akan bisa ditindas.”Begitulah kata Nelson Mandela, bapak perjuangan kulit hitam di Afrika Selatan. Ia memandang ilmu yang didapat dari mengecap pendidikan menjadi senjata ‘mematikan’. Tanpa pendidikan, seseorang bisa dipandang sebelah mata dan mudah ditipu-daya.

“Kebutaan” memahami situasi berujung kerugian terhadap diri sendiri dan orang lain. Perjuangan kemerdekaan Indonesia mungkin tidak maksimal bila hanya mengenal otot—angkat senjata belaka. Akan tiba waktunya, perjuangan berganti ‘model’, tapi tetap tidak menghilangkan esensi perjuangan itu sendiri.

Pilihan

Di era kekinian, pendidikan masih dicap sebagai barang mewah. Walaupun kini, siapapun dan dari mana pun seseorang berasal berhak mengenyam pendidikan. Sekelumit persoalan pendidikan di Indonesia seakan tak kunjung tuntas.

Kendala terbentur ekonomi pas-pasan, sarana dan pra sarana yang kurang memadai maupun kultur masyarakat di suatu daerah yang enggan bersentuhan dengan pendidikan. Menurut tradisi setempat, adat tidak mengajarkan adanya baca-tulis-hitung juga dianggap bala.

Semakin seseorang berpendidikan tinggi, adakalanya asal usul makin terlupakan. Ada pula seseorang memperjuangkan asal usul, mengabdi ke tanah kelahirannya. Tergantung bagaimana menyikapi pola pikir.

Pada akhirnya, ‘ketakutan’ dan benturan-benturan yang terjadi membuka pemahaman. Pendidikan tak bisa dipaksakan. Mau tak mau menjadi pilihan. Pilihan, apakah ilmu yang dipelajari akan berguna bagi dirinya dan lingkup masyarakat.

Mandela menyentakkan pikiran;




“Pendidikan adalah mesin besar pengembangan pribadi. Melalui pendidikan anak seorang petani bisa menjadi dokter, anak penambang bisa menjadi kepala tambang, dan seorang anak buruh tani bisa menjadi seorang presiden.”

Jika seseorang ingin lepas dari “kebutaan” ilmu, maka dia akan belajar atau memberikan kesempatan pada sesamanya, betapa berharganya ilmu. Pendidikan bisa mengubah dunia. Dan orang berilmu bisa membawa kemajuan bagi kalangan sesamanya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x