Energi

Inovasi Pertamina Tangani Kebocoran Sumur Geothermal

20 Maret 2018   15:05 Diperbarui: 20 Maret 2018   15:59 288 0 0
Inovasi Pertamina Tangani Kebocoran Sumur Geothermal
Teknologi Slice berhasil mengatasi kebocoran sumur geotermal. (Foto: Humas PGE)

Dua tahun silam, tepatnya 28 April 2016, para pekerja di Cluster A Project Hulalis, Lebong, Bengkulu dikagetkan dengan bencana longsor yang datang tiba-tiba. Longsor tersebut berasal dari runtuhan Bukit Beriti Besar/Gedong Hululais yang berjarak sekitar 2,5 km dari lokasi sumur panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), salah satu anak usaha PT Pertamina (Persero). Saat itu, para pekerja  sedang melakukan monitoring sumur dan pengawasan water pump station (WPS) yang digunakan untuk suplai air bagi operasi pemboran di cluster Q. 

Tak ayal, kepanikan melanda seluruh pekerja.  Masing-masing berusaha menyelamatkan diri. Namun takdir berkata lain. Longsor besar yang datang dengan cepat tersebut, telah merenggut nyawa seorang petugas jaga. Sebanyak 5 pekerja, harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan intensif. Sebanyak 4 pekerja dinyatakan hilang dan terus dilakukan pencarian oleh Tim SAR.

Bencana longsor ini merupakan terbesar sepanjang tahun 2016, sehingga membuat 3 sumur geothermal milik PT PGE rusak parah. Ketiga kepala sumur geothermal mengalami patah (crash), yang menyebabkan luapan asap panas bumi membumbung ke atas. Bau belerang pun menyengat, melanda langit Hululais. Udara sekitar yang sebelumnya dingin pun berubah menjadi lebih panas. Kepulan asap tebal yang membumbung tinggi membuat petani di sekitar lokasi tidak berani pergi ke ladang. Semuanya dilanda ketakutan.

Kerusakan besar yang terjadi pada kepala sumur geothermal, merupakan peristiwa langka, sehingga perlu penanganan khusus. Para teknisi insan mutu Pertamina pun terus menjajaki berbagai teknologi untuk menutup luapan asap bumi yang keluar dari ketiga sumur tersebut. Berbagai upaya, terus dilakukan untuk menutup sumur tersebut, namun selalu gagal. Teknologi di dunia geothermal juga belum ada yang memadai, karena memang ini peristiwa langka di dunia. Selama kurang lebih 4 bulan para pekerja terus menerapkan berbagai teknologi untuk memperbaiki sumur tersebut tetapi tidak berhasil

Pada bulan Agustus 2016, para pekerja PGE dibawah pimpinan Apriansyah Toni, Ketua Gugus Ade Dwi Prasetyo serta 6 teknisi yakni Angga (Drilling), Budi Setiawan (Drilling), Ewon Sonjaya (HSSE), Fakhri Ade Andika (Drilling), M Bayu Saputra (Reservoir) serta Teguh Irawan (Drilling) mulai melakukan penelitian untuk menemukan teknologi baru yang tepat menangani kerusakan kepala sumur tersebut.  

Langkah yang dilakukan mulai Pra Design Study dengan mengumpulkan data-data untuk mengetahui kelakuan, kemampuan sumur dan bahaya yang akan timbul. Tahap berikutnya Surface Facility Preparation yakni pembersihan sumur dari material timbunan longsor yang dilanjutkan dengan Desain Capping Tool, yakni pembuatan desain alat capping disesusaikan dengan kondisi kepala sumur yang patah. Pembuatan desain dilakukan beberapa penyempurnaan mengikuti kondisi atau kendala saat pelaksanaan. Setelah akurat dan benar, maka dilakukan procurement dan pabrikasi, sehingga lahirlah alat hasil temuan tim yang sudah disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Total proses pembuatan alat ini membutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan, sejak Agustus hingga Januari 2017 dengan menghabiskan dana sekitar USD 2,4 juta.

Alat ini kemudian diberinama 'Sliding Capping Equipment (Slice), alat khusus untuk menangani patahan kepala sumur goethermal. Slice sudah diujicoba berkali-kali sehingga hasilnya lebih sempurna. Alat ini terbukti efektif untuk menutup sumur geothermal, sehingga kepala sumur bisa diperbaiki. Proses penutupan sumur geothermal (capping) hanya memerlukan waktu 3 menit dan pengelasan kepala sumur 15 menit, sehingga total waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki kepala sumur hanya 18 menit.

Penerapan teknologi Slice membuahkan hasil. Tidak ada lagi semburan liar dari ketiga sumur tersebut. Paparan panas dari semburan liar pun sudah sirna, bahkan tingkat kebisingan telah menurun drastis ke level ambang batas <85 dB. Masyarakat sekitar pun merasa tenang dan bisa kembali beraktivitas di sekitar lokasi, seperti bertani dan bejualan.

Temuan inovasi Slice sungguh sangat membanggakan, karena teknologi ini belum ditemukan di dunia. Boleh dibilang inilah teknologi the first in the world. Tak heran berbagai penghargaan pun telah diraih, antara lain Best Innovation FSTH 2017, Platinum Award UIIA 2017 serta 2nd Most Value Creation UIIA 2017.

Dari sisi korporasi, temuan ini memberikan nilai tambah yang luar biasa. Value creation Slice tercatat US$ 77,4 juta atau lebih dari Rp 1 triliun. Sebuah pencapain yang luar biasa, yang patut diacungi jempol. PT Pertamina (Persero) pun telah mendaftarkan hak paten temuan ini kepada Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Hasil survei menunjukkan, bahwa Slice memang belum pernah ada di dunia ini, sehingga insan mutu Pertamina yang menemukan inovasi ini berhak mendapatkan hak paten atas upaya dan kerja kerasnya selama ini. Dibalik musibah, ternyata menyimpan hikmah yang mendalam. Semoga kita bisa belajar dari musibah apapun yang menimpa kita.