R Firkan Maulana
R Firkan Maulana Peneliti, Konsultan Pembangunan

| Penjelajah | Pemotret | Sedang belajar menulis | Penikmat alam bebas | email: sadakawani@gmail.com | http://www.instagram.com/firkanmaulana

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Adakah Jurus Jitu Memadamkan Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut?

29 Agustus 2018   10:35 Diperbarui: 30 Agustus 2018   10:39 1777 2 2
Adakah Jurus Jitu Memadamkan Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut?
dokumentasi pribadi

Kebakaran hutan dan lahan gambut kembali terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Di Kalimantan Barat (Kalbar), diberitakan bahwa Kota Pontianak sudah dikepung asap.

Atas peristiwa itu pihak Kepolisian Daerah (Polda) Kalbar telah menetapkan 27 orang sebagai tersangka dalam kasus kebakaran hutan dan lahan, kemudian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menyegel area kehutanan terbakar yang dimiliki 5 perusahaan di Kalbar (Kompas, 27-28 Agustus 2018).

Kebakaran hutan dan lahan gambut juga terjadi di Provinsi Riau (Dumai dan Siak), di Provinsi Sumatera Selatan (Ogan Komering Ulu) dan Jambi (Muaro Jambi), walaupun belum sebesar kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalbar.

Kebakaran hutan dan lahan gambut ini selalu terulang setiap tahun pada saat musim kemarau. Hanya pada saat musim hujan saja, kebakaran hutan dan lahan gambut itu tidak sering terjadi. 

Kita tentu masih ingat kebakaran hutan dan lahan gambut di tahun 2015 lalu yang sangat hebat, bahkan saking hebatnya peristiwa kebakaran itu telah memanaskan hubungan dengan negara tetangga (Malaysia dan Singapura) yang terkena imbas asap kebakaran. 

Dari data KLHK, disebutkan bahwa seluas 2,6 juta hektar lahan dan hutan telah terbakar sepanjang Juni-November 2015, memakan korban jiwa sebanyak 19 orang dan 500.000 penduduk menderita infeksi saluran pernapasan akut.

Kebakaran tersebut telah meluluhlantakkan hutan dan kekayaan hayati di dalamnya. Tercatat pada Oktober 2015 lalu, 24.773 sekolah ditutup dan 4.692.537 siswa diliburkan.

Namun tidak di tahun 2015 saja kebakaran hebat terjadi, jauh sebelumnya di tahun 1997 juga telah terjadi kebakaran yang lebih hebat lagi, yang salah satu pemicunya adalah kekeringan panjang sebagai akibat fenomena El Nino. 

Kajian Bappenas dan Bank Pembangunan Asia, memperkirakan jumlah lahan yang terdampak akibat kebakaran mencapai 9,75 hektar.

Kondisi kebakaran hutan tersebut, mayoritas berada di lahan gambut sehingga kebakaran menjadi sulit ditanggulangi. 

Untuk mengatasi agar peristiwa kebakaran hutan dan lahan gambut tidak terulang, pemerintah telah membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) yang diberikan mandat untuk menjalankan koordinasi dan penguatan kebijakan, perencanaan, pengendalian, dan kerja sama untuk penyelenggaraan restorasi gambut. Cakupan luas kawasan yang harus direstorasi kurang lebih 2.000.000 hektar.

Mengenali  Lahan Gambut
Dari referensi Wetlands International, disebutkan lahan gambut adalah suatu ekosistem lahan basah yang terbentuk oleh adanya timbunan atau kumpulan bahan organik di lantai hutan, yang, berasal dari reruntuhan vegetasi di atasnya dalam kurun waktu lama (ribuan tahun).

Secara fisik, lahan gambut merupakan tanah organosol atau tanah histosol yang umumnya selalu jenuh air atau terendam sepanjang tahun kecuali didrainase. 

Kajian CIFOR (Center for International Forestry Research), menyebutkan pembentukan gambut di beberapa daerah pesisir Indonesia dimulai sejak 3.000 - 5.000 tahun lalu, sedangkan di daerah pedalaman lebih lama lagi yaitu sekitar 10.000 tahun lalu. Sifat gambut di Indonesia adalah gambut tropis.

Gambut memiliki daya hidrolik vertikal ke atas yang sangat lambat. Akibatnya, lapisan atas gambut sering mengalami kekeringan, meskipun lapisan bawahnya basah.

Selain itu, gambut juga mempunyai sifat kering tak balik. Artinya, gambut yang sudah mengalami kekeringan ekstrim, akan sulit menyerap air kembali.

Oleh karena itu, lahan gambut cenderung mudah terbakar karena kandungan bahan organik yang tinggi dan memiliki sifat kering tak balik dan porositas tinggi.

Gambut mempunyai fungsi hidrologis karena bersifat porositas yang tinggi sehingga berkemampuan menyerap air yang sangat besar.

Karena sifatnya itu, maka gambut memiliki kemampuan sebagai penambat air tawar (reservoir) yang cukup besar sehingga dapat menahan banjir saat musim hujan dan sebaliknya melepaskan air tersebut pada musim kemarau.

Fungsi gambut sebagai pengatur tata air (hidrologi) dapat terganggu apabila dibuat saluran drainase yang berlebihan sehingga air menjadi lekas keluar dari lahan gambut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3