Mohon tunggu...
Ferdinan Sutjiadi
Ferdinan Sutjiadi Mohon Tunggu... DATA PRIBADI

LAHIR DI JAKARTA 15 MEI 1962 PRIA BERKELUARGA DENGAN 1 ISTRI , 2 ANAK PENDIDIKAN S2 PEKERJAAN PENSIUNAN KARYAWAN SWASTA AGEN PROPERTI

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Dengan Cinta Pak Andis Berkarya, Dengan Cinta Beliau Mendidik Murid-muridnya

20 November 2020   19:13 Diperbarui: 20 November 2020   19:19 48 3 1 Mohon Tunggu...

Saat anak saya kelas 8 , Pak Andis mengajak seluruh anak2 dari Klub Rupa untuk membuat lukisan Acrilic dalam rangkah memeriahkan Ulang tahun dari Mesium Basoeki Abdullah. Klub Rupa adalah extra kulikuler dari SMP Kristen IPEKA Tomang 2, dimana anak saya ikut serta. Dan Pak Andis adalah Guru seni rupa yang menjadi pembimbing anak2 yang hobi melukis.

Lukisan anak saya tidak ada yang istimewah dibanding dengan teman-temannya yang lain serta karena penguasaan teknik acrilicnya masih kurang dan kurang mampu menciptakan konsep untuk lukisannya. Namun Pak Andis tetap dengan setia mendampingi seluruh anak2 anggota Klub Rupa untuk terus berkarya. Beliau memberikan semangat, memberikan arahan , menajamkan teknik2 lukis bagi para anggota klub Rupa. Beliau juga sangat proaktif untuk mencari kesempatan pameran dan perlombaan lukis ataw gambar.

Pada saat hari Anak Nasional tahun 2018, Pak Andis kembali menantang anak2 klub rupa untuk membuat lukisan dengan tema Main. Anak saya saat itu memang sedang belajar untuk melukis  dengan media acrylic dengan teknik palet. Kesukaan anak saya saya adalah melukis wajah. Dengan sabar tanpa mencela apa2 Pak Andis membiarkan anak saya melukis wajah dengan teknik pisau pallet. Awalnya kami sebagai orang tua yang kurang mengerti seni rupa hanya berpikir lukisan ini sangat aneh. Tetapi pada akhirnya dengan sentuhan kasih dan bimingan dari Pak Andis, anak kami berhasil melukiskan wajah seorang penari Tor2. Lukisan kecil itu bersama lukisan teman-temannya yang lain dikirim ke Galeri Nasional, sebagai sample. Beberapa saat kemudian lukisan Tor-Tor anak saya yang bergaya Expresionis dan 2 temannya yang bergaya Surealist dan Simbolis berhasil diterima di Galeri Nasional. Pihak Galeri national meminta agar Lukisan2 tersebut diperbesar untuk dipamerkan dalam hari Anak Nasional. Sejak saat itu anak saya memiliki kepercayaan diri untuk terus mengembangkan talentanya dibidang lukis.

Meskipun hanya tiga muridnya yang bisa dipilih Galeri Nasional Pak Andis tetap bersikap adil dan tidak pilih kasih sehingga tiap anak punya kesempatan sama untuk mengembangkan bakat ataw hobinya di bidang seni rupa. Selain seni lukis, beliau juga mengajarkan seni patung dari Clay. Ternyata banyak anak anak murid yang terlihat pasif dalam bidang lukis mampu menampilkan karya karya patung yang cukup mempesona. Tak lupa Pak Andis menanamkan rasa cinta tanah air lewat membatik pada seluruh siswa SMP. Lagi lagi tiap anak menampilkan imaginasinya kreativitasnya dengan bebas dengan media batik.

Dalam setiap kesempatan perlombaan Pak Andis menyeleksi anggota --anggota Club Rupa untuk bisa mengikuti tiap ajang bergengsi seperti Lomba Seni Rupa SMP se Jabodetabek, Lomba Seni rupa yang disponsori satu perusahaan alat lukis dll. Seleksi yang dilakukan berdasarkan karakter tiap anggota Club Rupa dan quota per sekolah yang boleh diiisi. Kalau tanpa batas quota maka seluruh anggota Club Rupa dapat turut serta, tapi kalau ada quota maka dengan bijak beliau membagi tiap anggota sesuai dengan karakter anak dan tuntutan perlombaannya. Dan hasilnya anak saya dapat menggondol juara Harapan 2 pada Lomba Seni rupa SMP sejabotabek. Dan teman- temannya seolah secara bergilir dapat memperoleh gelar juara pada Perlombaan Seni rupa lainnya.

Beliau juga menyiapkan tongkat estafet untuk adik2 kelas anak saya. Dan bahkan untuk matan siswa2nya yang telah lulus SMP tapi masih sekolah di SMAK yang sama, beliau tidak segan segan membantu mengikut sertakan siswa SMA dalam perlombaan2 yang ada, tentunya bekerja sama dengan guru rupa di SMA. Mantan muridnya di Club Rupa tetap meneruskan kecintaannya di bidang seni rupa dengan terus mengikuti lomba2 bergengsi dan salah satunya berhasil menjuarai Lomba Poster RSCM 2020.

Tidaklah mengherankan kalau Pak Andis memiliki Kemampuan untuk mengajarkan dunia seni rupa, mencari bakat2 terpendam, mengenal karakter lukisan tiap anak dan memiliki jejaringnya yang kuat untuk mendapatkan Perlombaan ataw Pameran. Karena beliau adalah alumnus Institut Seni Indonesia Jogjakarta (ISI Jogja). ISI Jogja adalah hasil merger 3 Akademi Seni terkemuka di Indonesia yaitu Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Akademi Musik Indonesia (AMI) dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI).  ASRI sendiri sudah berusia 70 tahun dan telah menghasilkan seniman2 ternama  antara lain Alm GM Sidharta. Sehingga jelas saat masih kuliah Pak Andis Rifai Passaribu telah mendapat godokan yang keras di Kawah Cangdradimuka Seniman Indonesia tsb.

Di Semester Pertama tiap mahasiswa harus membuta sketsa sebanyak 500 buah per semester (16 kali pertemuan) dan itu berlaku sampai beberapa semester. Dalam dua semester pertama, melukis sketsa ini merupakan siksaan namun juga tantangan menurut Pak Andis yang merupakan lulusan dari SMA Negri 1 Siborongborong Sumatra Utara. Berbeda dengan mahasiswa lainnya yang berasal dari SMKN 3 Kasihan Bantul (terkenal dengan dengan nama SMSR Jogja), dimana bagi para mantan siswa SMKN 3 tersebut melukis sketsa dalam jumlah banyak adalah makanan sehari-hari mereka di SMKN 3. Tapi disemester ke 3 beliau mulai bisa mengimbangi kemampuan dari teman temanya mantan siswa SMSR, mengingat beliau juga pernah menjuarai Lomba Lukis tingkat kecamatan Siborong-borong, maupun di tingkat kabupaten Tapanuli Utara dan finalis di tingkat Provinsi Sumut. Bahkan di tahun 2008 pemuda Siborongborong tsb berhasil menjadi juara ke 2  UPT MPK ISI Jogja (artinya kurang lebih Unit Kegiatan Mahasiswa ISI) dalam rangka Hari Sumpah Pemuda. Setelah itu di tahun 2011 beliau juga menggondol Predikat Karya lukis terbaik DIES NATALIS XXVII ISI Yogyakarta. Dan saat akan menyelesaikan tugas akhirnya di tahun 2012 lagi lagi beliau memperoleh penghargaan yaitu 7 Finalis karya Lukis Terbaik Kompetisi Seni Lukis Pratisara Afandi Adhi

Selama kuliah, biaya adalah kendala yang cukup serius. Biaya yang terberat adalah membeli bahan bahan lukis seperti: cat baik cat maupun kanvas, sehingga beliau harus bergulat untuk membiayai pembelian kebutuhan sekolahnya tersebut. Untungnya uang kuliah sudah disubsidi Pemerintah.   Namun latar belakangnya sebagai anak petani yang sudah biasa membantu orang tuanya di ladang, telah menempanya untuk tidak menyerah dalam menggapai cita-citanya. Soft Skill lainnya adalah kemampuannya membangun Jejaring. Jejaring yang dia bangun sejak menjadi ketua OSIS di SMP dan SMA dilanjutkan waktu kuliah di Yogya dengan menjadi Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Seni Lukis dan Ketua perkumpulan pemuda Batak Siraja Borbor se-Yogyakarta. Kesempatan tersebut telah membentuk sikap kepemimpinan dan kebersamaan dalam semangat gotong royong. Dan tentunya beliau juga meng Imani Pimpinan dan Penyertaan Tuhan yang mengatur setiap langkah hidupnya. Akhirnya setelah menyelesaikan tugas ahkir yaitu membuat 24 lukisan diatas kanvas dan pameran tunggal dikampus beliau diwisuda sebagai Sarjana Seni SSn.  Tak lupa beliau membuat karya Publik di tahun 2013 yakni lukisan mozaik memakai bahan keramik bekas yang dibuat di dinding gereja HKBP YOGYAKARTA di Jl I Nyoman Oka, Kotabaru ,Yogyakarta yang menceritakan diaroma perjalanan orang batak dalam merantau dan menimba ilmu dan sukses di Yogyakarya(7 panel/ 1,5 m x 15 m).

Setelah menjadi Sarjana beliau memulai karir sebagai Guru Seni Rupa. Ditengah kesibukannya sebagai guru tak lupa beliau tetap berkarya dalam Pameran Tunggal atawpun Pameran bersama seperti di Taman Budaya Jambi, Galeri Nasional dan Mesium Basoeki Abdullah. Jejaring ini yang digunakannya agar murid-muridnya dalam Klub Rupa dapat mengikuti Pameran dan Perlombaan2 tingkat Provinsi dan Nasional.

Sempat saya berpikir bahwa karir seorang Sarjana Seni  apabila dia bukan anak orang terkenal ataw anak orang kaya hanyalah sampai menjadi guru sekolah ataw guru less. Seolah dunia tidak adil karena seorang seniman sekolahnya susah, perlu bakat khusus dan memakan biaya yang tidak sedikit tapi tidak memperoleh penghargaan yang semestinya. Karena masyarakat umum kurang menghargai nilai karya seni seseorang, tapi hanya menghargai kepopuleran orang tersebut. Tapi berkaca dari perjuangan Pak Andis Rifai Pasaribu  yang melayani  anak2 SMP dengan penuh Kasih, saya mendaptakan sudut pandang lain. Sudut pandang yang mengatakan bahwa :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN