Digital Pilihan

Jurnalisme Twitter: Antara Keterbukaan, Kecepatan, dan Keakuratan

8 Oktober 2018   22:02 Diperbarui: 8 Oktober 2018   22:46 374 2 1
Jurnalisme Twitter: Antara Keterbukaan, Kecepatan, dan Keakuratan
cyberspaceandtime.com

Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin cepat menciptakan inovasi-inovasi baru khususnya di bidang jurnalistik. Istilah jurnalisme online menjadi salah satu hasil dari adanya pertemuan antara praktik jurnalisme dengan perkembangan teknologi komunikasi (AR, 2016). Jurnalisme di era sekarang tidak lagi mengutamakan media konvensional tetapi mulai bergeser ke arah media daring. Media sosial menjadi media daring yang paling banyak digunakan untuk melaporkan dan menyebarluaskan hasil jurnalisme.

Keterbukaan dan Kecepatan

Twitter sebagai layanan jejaring sosial berupa mikroblog memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan yang disebut kicuan (tweets) (Sambo & Yusuf, 2017). Twitter dapat dikategorikan sebagai jurnalisme karena kemampuannya untuk berbagi gambar dan mendistribusikan suatu berita serta informasi. Kecepatan dan keterbukaan twitter sebagai salah satu media sosial dalam mendistribusikan berita menjadi daya tarik untuk mencari dan memperoleh berita terbaru atau menemukan berita/informasi lama yang ingin dibaca kembali. 

Twitter menjadi salah satu media sosial dengan sifat keterbukaan yang tinggi karena memberikan ruang tak terbatas untuk memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya pada khalayak luas. Konten liputan jurnalis dan non-jurnalis yang ditulis di Twitter juga menjadi sumber berita yang menarik bagi khalayak bahkan jurnalis. 

Segala bentuk tulisan (tweet) yang dibuat oleh pengguna Twitter berupa opini, cerita pribadi, masalah pribadi, atau bahkan cerita tentang peristiwa yang terjadi disekitarnya menjadi salah satu bentuk keterbukaan dalam Twitter, sehingga privasi sudah tidak lagi di permasalahkan. Kecepatan penyebaran berita di Twitter yang sangat cepat dan bahkan hanya dalam hitungan detik, dapat menjadikannya sebagai dampak postif maupun negatif. 

Ketika informasi yang masih mentah diterima oleh publik dan informasi yang belum dipastikan kebenarannya itu telah tersebar di Twitter, maka informasi tersebut dapat langsung diperbincangkan orang bahkan sampai menjadi trending topic tentu saja akan menciptakan kesalahpahaman. Akan tetapi, perkembangan teknologi yang membuat penyebaran berita semakin cepat sangatlah ideal bagi pemilik media penyiaran. Mereka memanfaatkannya untuk menyebarkan berita-berita breaking news dan headlines agar publik tidak perlu menunggu di hari berikutnya ketika koran diterbitkan untuk mendapatkan berita terbaru.

Keterbukaan yang ada didalam Twitter juga berkaitan erat dengan kecepatan Twitter dalam penyebarluasan berita. Tweet yang ditulis oleh orang penting dan terkenal, seperti selebriti akan cepat tersebar menjadi bahan berita bagi mereka para pencari berita infotainment atau bahkan menjadi bahan penulisan berita bagi para jurnalis. Jurnalis akan lebih mudah dalam mengutip kata-kata yang ditulis oleh tokoh terkenal tersebut dari status twitternya (tweet). 

Akan tetapi, pengutipan yang dilakukan oleh jurnalis tersebut terkadang tidak diikuti dengan verifikasi langsung dari pemilik akun tersebut. Bisa jadi akun tersebut adalah akun palsu yang sengaja dibuat untuk kepentingan-kepentingan pihak lain. Padahal dalam menyajikan sebuah berita/informasi, jurnalisme harus menyajikan fakta yang akurat dan sudah diverifikasi. 

Kebenaran atau fakta yang akurat adalah hal yang mutlak (Wendratama, 2017). Konten jurnalisme yang memiliki batas-batasannya sendiri mulai tergeser karena perkembangan internet. Sebelumnya, terdapat batas yang tegas antara konten serius berupa hal-hal penting bagi publik dan konten hiburan. Namun, saat ini batas-batas antara jurnalisme dan infotainment semakin lama semakin pudar akibat keterbukaan privasi yang diumbar melalui media sosial.

Keakuratan

Rabu, 3 Oktober 2018 lalu, warga Indonesia dikejutkan dengan kabar meletusnya Gunung Soputan di Sulawesi Utara. Kabar tersebut bertambah heboh ketika tersebarnya foto dan video terkait meletusnya Gunung Soputan. Masyarakat mendapatkan video mengenai lava yang dikeluarkan oleh Gunung Soputan dan video detik-detik meletusnya gunung tersebut. Foto dan video ini juga tentunya tersebar luas di dunia media sosial di Indonesia, salah satunya Twitter. 

Dampak dari menyebarnya video dan foto ini sangatlah luas, masyarakat menjadi takut sekaligus merasa percaya akan keadaan yang ada di lokasi kejadian. Tentu saja hal ini membuat Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho harus mengeluarkan klarifikasi terkait beredarnya foto dan video tersebut. 

Melalui akun Twitternya, Sutopo mengatakan bahwa foto dan video tersebut tidak terjadi di daerah Gunung Soputan, Sulawesi Utara. Sutopo juga mengatakan bahwa foto yang tersebar merupakan rekayasa yang dibuat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Berdasarkan hal diatas dapat dikatakan bahwa pemberitaan yang diberikan dalam bentuk Jurnalisme Twitter dapat menyesatkan publik dan berdampak sangat luas. Kecepatan yang menjadi keunggulan dari Twitter acapkali mengabaikan kelengkapan dan mengorbankan akurasi. Kejaran pada kebenaran jurnalistik semakin lama semakin tidak terjangkau dengan rutinitas yang serba cepat (Ambard, Parahita, Lindawati, & Sukarno, 2018).

Hal ini semestinya dapat dihindari oleh para jurnalis, agar informasi yang diberikan kepada masyarakat sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Semakin mudahnya masyarakat dalam berpartisipasi dalam kegiatan jurnalistik juga harus memperhatikan fakta dan akurasi berita. Masyarakat melalui citizen journalism juga harus memastikan keakuratan berita yang diunggahnya, agar apa yang telah disebarkan di media sosial khususnya Twitter tidak memberikan dampak yang menyesatkan bagi publik. Karena dengan penyikapan yang salah atas berita online bisa jadi bentuk penyesatan (Ambard, Parahita, Lindawati, & Sukarno, 2018).

Keakuratan informasi yang harus dicari ketika melihat tweet seseorang adalah memastikan pemilik dari akun tersebut. Pemilik akun harus dicari tahu apakah benar-benar asli atau palsu. 

Keaslian dari akun Twitter biasanya ditandai dengan adanya tanda centang biru yang artinya akun tersebut sudah terverifikasi keasliannya. Sayangnya tidak semua akun dapat dengan mudah memiliki tanda centang biru tersebut. Tanda verifikasi biasanya hanya dimiliki oleh tokoh penting seperti pejabat, selebriti ataupun orang terkenal lainnya. Media daring hendaknya harus berupaya menemukan cara untuk menghubungkan benang merah dari suatu konten, sehingga konten tersebut dapat dipastikan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip jurnalisme.

Dengan demikian, semua pengguna Twitter ketika akan mengunggah informasi yang berakibat atau mempengaruhi banyak orang hendaknya disertai dengan data tambahan dan verifikasi. Hal ini menjadi hal yang penting di era komunikasi yang serba cepat dan terbuka seperti saat ini. 

Menurut Wendratama (2017), banyaknya konten warga yang tidak sesuai dengan prinsip dan etika jurnalisme, seperti kebenaran, keadilan, akuntabilitas, dan kemanusiaan menjadi alasan perlunya keakuratan berita/informasi di media sosial seperti Twitter. Kehadiran jurnalisme di internet harus bisa memberikan arah bagi khalayak supaya tidak tersesat dalam lautan informasi yang multimedia dan multinarasumber. Hal ini juga berlaku bagi media-media yang memiliki akun Twitter agar lebih memperhatikan lagi berita yang akan mereka publikasikan. Salah satu media yang telah menerapkan panduan di atas adalah BBC. BBC mengarahkan editornya supaya memastikan konten berita yang akan dipublikasikan sudah memenuhi standar, dan supaya warga tidak membahayakan diri mereka saat meliput.

Daftar Pustaka

  • Ambard, K., Parahita, G. D., Lindawati, L., & Sukarno, A. W. (2018). Kualitas Jurnalisme Publik di Media Online: Kasus Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • AR, M. F. (2016). Jurnalisme Kontekstual (Rahasia Menjadi Jurnalis di Era New Media). Malang: Universitas Brawijaya Press (UB Press).
  • Sambo, M., & Yusuf, J. (2017). Pengantar Jurnalisme Multiplatform. Depok: Prenadamedia Group.
  • Wendratama, E. (2017). Jurnalisme Online (Panduan Membuat Konten Online yang Berkualitas dan Menarik). Yogyakarta: Penerbit B First (PT Bentang Pustaka).