Humaniora

Kebanyakan Micin

6 Maret 2018   19:47 Diperbarui: 6 Maret 2018   19:49 304 0 0

Yang ditangkap karena ujaran kebencian banyak mengaku hanya iseng saja mengunggah konten-kontennya di media sosial. Saya ndak terlalu paham, maksudnya iseng-iseng benci atau gimana?

Pengin eksis, mungkin ndak? Cari perhatian - - Gitu kan efek perkembangan media sosial? Tempat mencari perhatian. Orang-orang yang tidak yakin dengan dirinya sendiri. Masih perlu pengakuan orang lain. Masih merasa perlu di like atau komentari supaya dirinya sendiri yakin tentang dirinya.

Kita menjadi seperti yang orang lain pikirkan tentang diri kita. Bersedia menjadi seperti apapun yang orang lain inginkan tentang diri kita.

Budaya pamer. Budaya sekedar pencitraan diri. Budaya protes - - bukan kritis.

;Dua hal yang berbeda antara sekedar protes dan sikap kritis. Ini mungkin yang sering keliru. Bentuk sikap kritis sering diartikan hanya sebagai tindakan protes. Kerap protes, berarti kritis.

-- Sikap kritis itu, berusaha memahami dengan mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan perkaranya. Tidak mempersoalkan perbedaan pendapat. Selama perbedaan itu dapat memberikan masukan kebenaran untuk mendapatkan jawaban, tidak masalah.

Lha kalau protes? Protes itu yang penting kencang dan terkesan galak. Wis, gitu aja.

Cuma ya terserah ya. Mau gimanapun di media sosial.

Kalau saran saya, asal jangan iseng. Yang serius gitu, lho. Kalau mau pamer ya pamer yang serius. Kalau mau bikin pencitraan, ya bikin pencitraan yang serius. Kalau mau omong kosong, ya omong kosongnya yang serius. Benci, jangan iseng. Bencinya yang serius.

Jadi yang lihat juga ndak bingung. Sebelnya jadi serius. Enegnya serius. Ketawainnya serius. Ketangkapnya juga serius. Penghayatan ekspresinya jadi sungguhan, semacam itu.

Ini saya ndak lagi ngeledek. Sungguhan. Soalnya kalau cuma iseng malah bikin bingung. Kayak tulisan ini. Ini serius ndak, sih? Ndak jelas.

Gitu malah bikin kesal, kan?

-gwvk-