Mohon tunggu...
Febroni Purba
Febroni Purba Mohon Tunggu... Bergiat di konservasi ayam asli Indonesia

Nama saya, Febroni Purba. Lahir, di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Menempuh pendidikan SD hingga SMA di Kota Medan. Melanjutkan kuliah ke jurusan ilmu Peternakan Universitas Andalas. Kini sedang menempuh pendidikan jurusan Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Pernah menjadi jurnalis di majalah Poultry Indonesia selama tiga tahun. Majalah yang berdiri sejak tahun 1970 ini fokus pada isu-isu ekonomi, bisnis, dan teknik perunggasan. Di sana ia berkenalan dengan banyak orang, mengakses beragam informasi seputar perunggasan Tanah Air dan internasional. Samapai kini ia masih rajin menulis, wawancara dan memotret serta berinteraksi dengan banyak pihak di bidang peternakan. Saat ini dia bergabung di salah satu pusat konservasi dan pembibitan peternakan terpadu ayam asli Indonesia. Dia begitu jatuh cinta pada plasma nutfah ayam asli Indonesia. Penulis bisa dihubungi di nomor HP/WA 0812.6576.106, atau via surel di alamat febronipoultry@gmail.com. atau FB: Febroni Purba dan Instagram: febronipurba. (*) Share this:

Selanjutnya

Tutup

Politik

Refleksi Hari Pangan Sedunia

16 Oktober 2015   11:38 Diperbarui: 16 Oktober 2015   11:58 0 0 2 Mohon Tunggu...

Tanggal 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia. Namun, apa yang perlu kita ingat dari perkara pangan? Sudahkah negara mampu menghadirkan pangan secara mandiri dan berdaulat? Sudahkah petani sejahtera dari hasik keringatnya? Apakah pangan yang kita makan berasal dari hasil tanah sendiri atau dari tanah negara lain? Sulit untuk mengatakan bahwa negara sudah menjamin pangan secara mandiri dan berdaulat. Di tanah air ini hampir semua bahan pangan diimpor: beras, kedelai, jagung, daging sapi, gula, ikan, garam, dll. Baru berapa hari yang lalu, pemerintah telah menyetujui impor beras 1 juta ton. Alamak!

Lalu bagaimana nasib petani? Data menyebutkan lahan petani sekarang rata-rata kurang dari 0,5 hektar. Lahan sempit untuk bertani tak cukup menopang perekonomian keluarga petani. Sedihnya, lahan mereka pun kerap tergadai untuk kepentingan korporasi: kebun dan tambang.

Masih hangat dalam ingatan kita kematian Salim Kancil lantaran menolak penambangan pasir di daerahnya. Ia pertaruhan nyawanya demi sawahnya, tempat dia bercocok tanam. Sejatinya, Salim telah melakukan bela negara dalam kapasitasnya sebagai petani. Kasus Salim tidak sendiri, masih banyak Salim lainnya yang mengalami hal yang harusnya dibela negara.

Perkembangan teknologi pangan di tanah air perlu ditingkatkan. Peran ini dimainkan oleh lembaga penelitian atau perguruan tinggi. Namun, setelah 70 tahun merdeka, hasilnya tak terlalu signifikan. Penelitian pertanian boleh dibilang belum sepenuhnya membumi. Penelitian masih sekadar memenuhi syarat wisuda bagi mahasiwa dan syarat naik pangkat bagi dosen.

Saya kaget sekaligus sedih mendengar bahwa ternyata salah satu perguruan tinggi kebangsaan Indonesia, Institut Pertanian Bogor, rupanya nyaris belum bisa maksimal dalam menghasilkan teknologi untuk diterapkan petani. Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Muladno Basar​ membeberkan, teknologi yang dihasilkan dari IPB hanya 2,5 persen saja yang sampai ke petani. Sisanya, 97,5 persen ngumpet di dosennya sendiri. Otokritik yang cukup pedas. Semoga menjadi bahan renungan bagi perguruan-perguruan tinggi lainnya.

Refleksi hari pangan sedunia ini harus menjadi semangat mendorong perbaikan di sektor pertanian. Selama manusia masih memubtuhkan pangan maka selama itu keberadaan pangan perlu dijaga supaya terus ada. Pangan, kata Bung Karno, adalah soal hidup matinya sebuah bangsa. Jika suatu bangsa kesulitan mendapat pangan, hancurlah bangsa itu.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x