Muda

"Time Heals?"

12 Januari 2018   21:24 Diperbarui: 12 Januari 2018   21:27 237 0 0

"It has been said, 'time heals all wounds.' I do not agree. The wounds remain. In time, the mind, protecting its sanity, covers them with scar tissue and the pain lessens. But it is never gone." Rose Kennedy

"Tenang saja, tidak lama kamu pasti lupa."

"Kamu jalani saja hidupmu seperti biasa, beraktifitaslah, biarkan waktu menghapus pahit masa lalu."

Pernah dengar/baca/tidak sengaja melihat tulisan atau ucapan yang demikian? Saya sering. Saya bukan orang yang suka "curhat" hingga dapat banyak kesempatan untuk mendengar frasa yang demikian, tidak. Saya hanya percaya bahwa beliefitu cukup popular, 'time heals'.

Siapa di dunia ini yang tidak pernah dilukai? Siapa yang tidak pernah dikecewakan? Siapa yang tidak pernah berada di situasi atau berhadapan dengan orang yang bisa saja membuat kita kepahitan?

Tidak ada lah.

Semua orang pernah terluka, atau dilukai secara sengaja.

Pertanyaannya adalah apa benar 'lama-lama' lukanya akan pulih dengan sendirinya? Apa benar seiring berjalannya waktu, kita akan lupa dengan kejadian perih di masa lalu?

Kalau kita mau realistis, jelas saja tidak. Waktu tidak memulihkan kekecewaan kita. Waktu tidak menghapuskan kepahitan kita. Anda tidak akan lupa dengan orang yang pernah menipu anda hingga bangkrut walaupun sudah 5 tahun lalu. 

Anda tidak akan lupa dengan cinta pertama anda yang akhirnya menikah dengan orang lain, walaupun sudah 10 tahun. Anda tidak akan lupa dengan pahitnya perceraian orangtua anda walaupun sekarang anda sudah punya rumah tangga sendiri. 

Karena apa? Karena waktu tidak dapat menghapuskan rasa sakit hati. Waktu tidak punya kendali atas mana-mana saja yang boleh di-keepoleh memori kita.

Kita harus bisa membedakan mana yang benar-benar pulih dengan sekadar teralihkan. Kita bisa lupa ketika baca novel romantis, kemudian ingat lagi. Kita bisa teralihkan oleh kesibukkan, kemudian setelah senggang, kita ingat lagi. Waktu dan segala kesibukkan yang ada di dalamnya tidak membebaskan kita dari rasa kecewa yang pernah ada.

Haruskah kita setuju dengan pernyataan Rose Kennedy? Tidak harus. Tapi saya sangat setuju. "The wounds remain. In time, the mind, protecting its sanity, covers them with scar tissue and the pain lessens. But it is never gone".Lukanya masih ada. Di dalam waktu, sang pikiran, sembari melindungi kewarasannya, ia menutupi luka-luka itu dengan suatu jaringan yang bisa membuat luka itu terasa berkurang. Akan tetapi luka itu masih ada. Terjemahan bebas saja.

Mudah sekali manusia jatuh dalam kepahitan, sangat mudah. Mudah pula bagi manusia untuk berkata "ah itu masa lalu, aku sudah lupa, tidak apa-apa." karena pikiran kita punya jaringannya yang luar biasa yang atas kontrol kita ia dapat membuat segala sesuatu terasa membaik. 

Segala akumulasi aktifitas, memori baru, pacar baru, anak ke-2, IPK luar biasa dan kejadian-kejadian manis lainnya dapat membuat kita seakan-akan terlepas dari kepahitan yang sebenarnya cuma terkubur dan pastinya akan mencuat sewaktu-waktu.

Waktu tidak bisa menyembuhkan kita dari luka.

Diri kita sendiri apalagi. Kita tidak mampu memilah memori.

Kasihan. Yang dapat kita lakukan hanyalah bertahan hidup dalam luka, sampai mati. Dunia ini tidak adil memang, tapi ya sudah bertahan saja.

Tapi... Percayakah anda bahwa ada Pribadi yang punya kuasa lebih besar? Percayakah anda bahwa ada Pribadi yang punya kuasa bahkan atas waktu? Percayakah anda bahwa sebenarnya semua berat luka dan kesakitan anda bisa dihapuskan oleh kasihNya? Percayakah anda bahwa Ia mengerti apa yang anda rasakan? Percayakah anda bahwa Ia INGIN menyembuhkan anda?

Saya sangat percaya.

Ia tidak hanya mengerti, tapi mau memulihkan.

Siapa yang mau hidup dalam bayang-bayang kekecewaan? Tidak ada. Oleh karena itu marilah kita datang saja kepada Pelindung kita yang tidak pernah mau umatNyakesakitan terus. Ayo mari kita datang saja padaNya, karena sebenarnya Ia sudah menanti kita.

Mari kita akui dihadapanNya bahwa kita manusia yang terluka. Jujurlah padaNya akan kebutuhan kita. Ia mampu, Ia mau memulihkan kita.

Kita tidak usah hidup dalam luka lagi. Kita tidak perlu berpura-pura sembuh. Kita bisa benar-benar sembuh total. Damai sejahtera yang Ia berikan melampaui segala akal. Melampaui mampunya waktu.

-ft