Mohon tunggu...
F Daus AR
F Daus AR Mohon Tunggu... Blogger dan Penerbitan Indie

Penggerutu

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Tentang Cerpen yang Melangkahi Waktu (Bagian 1)

15 Januari 2020   08:39 Diperbarui: 15 Januari 2020   08:42 35 3 0 Mohon Tunggu...
Tentang Cerpen yang Melangkahi Waktu (Bagian 1)
Dok. Pribadi (2020)

Pencapaian seseorang dalam pergulatan profesi yang ditekuni akan membawa endapan ingatan di benak tentang ciri khas yang melekat. Sebagaimana atlet sepakbola kita mengakrabi keunikan pada pesepakbola tertentu. Begitupula bagi para sastrawan dalam karya yang ditulisnya.

Berikut ini merupakan pendapat saya mengenai cerpen yang pernah saya baca yang, kira-kira, menjadi penanda sastrawan tersebut. Tentu, pilihan ini sepenuhnya selera bacaan saya saja dan membuka pintu tafsir tersendiri bagi pembaca.

_

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu. Judul cerpen ini pertama kali saya ketahui dalam ulasan di majalah sastra Horison, lupa edisi tahun berapa, tetapi menjadi semacam pekerjaan yang tak selesai. Saya dihantui ingin membaca cerpen itu.

Di tahun 2007, cerpen gubahan Tolstoy itu saya jumpai di kumcer dengan judul yang sama. Diterbitkan Jalasutra tahun 2005 yang diterjemahkan Anton Kurnia. Kumcer itu milik teman dan saya mencurinya dengan alasan meminjam. 

Rupanya, bukan Cuma cerpen itu yang dahsyat dari Tolstoy, ada beberapa yang bertenaga dan tersimpan rapi di memori usai membacanya. Namun, jika harus memilih satu cerpen, maka Tuhan Maha Tahu itulah yang paling tertanam.

Masih dari sastrwan asal Rusia, dari sekian banyak cerpen Anton Chekov, saya memilih Matinya Seorang Buruh Kecil. Cerpen ini terangkum di antologi dengan judul yang sama. Terbitan Melibas tanpa tahun terbit di halaman kredit titel, tetapi saya membelinya di tahun 2003.

Dari pengarang Indonesia, kita juga bisa menetapkan pilihan. Tentu ada banyak sekali cerpen yang terus dilahirkan dan mencari hidup di lembaran media cetak atau langsung diterbitkan ke dalam antologi.

Saya memulainya dari kumcer Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Pustaka Firdaus, 1992) karya Kuntowijoyo. Di kumcer ini terangkum cerpen Sepotong Kayu untuk Tuhan. Kumcer ini dikumpulkan dan diterbitkan atas usaha Sunu Wasono ketika membantu pengerjaan arsip di Pusat Dokumentasi HB Jassin. Pengakuan itu ada di pengantar.

Meminjam analisis Sunu Wasono, orang tua dan anak-anak menjadi karakter dominan. Dua karakter ini terekam kuat di cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga yang dipilih menjadi judul antologi ini. Sedangkan watak orang tua begitu kuat di Sepotong Kayu untuk Tuhan yang menurutku lebih pas dijadikan judul buku.

Selanjutnya saya memilih Martin Aleida lewat kumcer Mati Baik-Baik, Kawan (Ultimus, 2014. Cetakan ketiga) kumcer ini tidak selazim antologi yang lain yang biasanya mencomot satu judul cerpen guna dijadikan judul kumcer. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN