Faatima Seven
Faatima Seven profesional

Loves writing. Founder and Writer at Asmaraloka Publishing http://ayreviuyu.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Musik Pilihan

Macan Hutan Itu Telah Pergi

1 Juni 2018   11:46 Diperbarui: 2 Juni 2018   08:39 785 0 0
Macan Hutan Itu Telah Pergi
Selamat jalan Shaykh Fattaah. Dokpri

Shaykh Fattaah in Memoriam

 JIKA anda tahu Kelompok Musik DEBU, tentunya anda tahu pula atau setidaknya pernah mendengar nama Shaykh Fattaah, Syekh Sufi Pendiri dan Pembimbing Kelompok Musik DEBU. Beliau telah menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu, 26 Mei 2018 di usia menjelang 75 tahun, di kediamannya di daerah Meruyung, Limo - DEPOK.

Beliau telah melahirkan dan membesarkan kelompok musik DEBU dengan caranya sendiri. Melahirkan genre baru yang dikemas dengan irama musik yang kaya nuansa serta keindahan lirik yang tak biasa. Yakni tuntunan tauhid dengan nafas tasawuf.

Caranya memperkenalkan jalan sufi sangat mudah dan indah. "Saya ingin mengajak orang pada Allah melalui keindahan musik. Agar mereka diluar bisa melihat dan merasai keindahan Islam dengan jiwa yang luas," cetusnya, duluu... bertahun lalu di wawancara saya pertama kali dengannya.

Shaykh yang paham sembilan bahasa dunia ini hijrah dari Amerika ke Indonesia sejak tahun 1999. Dan ia menukar kewarganegaraannya menjadi WNI secara resmi pada tahun 2011. Menurutnya, dari sekitar 50 negara di dunia yang pernah dikunjunginya, Indonesialah negara terindah yang membuatnya merasa 'home' dan ingin didiaminya hingga ajal menjemput. Beliau malah memiliki hasrat yang indah pula tentang 'tempat terakhir'nya.

"Bila kelak saya meninggal, kuburkanlah saya di sebuah bukit yang di situ ada pohon rindang pula. Agar saya bisa menikmati angin sepoi sambil memandang ke sekeliling alam yang indah," katanya, suatu kali dalam sebuah perbincangan santainya denganku sambal menikmati Kopi Jahe kesukaannya.

Tak banyak orang yang bisa mengenal Shaykh Fattaah secara pribadi. Beliau tipikal pribadi yang tak terlalu suka muncul di publik. Tetapi tanpa harus mengenalnya secara pribadi pun, kita bisa mengenali beliau dari lirik-liriknya yang menjadi lagu-lagu yang dipopulerkan oleh DEBU. Antara lain adalah Troubadour (Biduan Istana) dan Macan Hutan.

Kedua lagu itu adalah tentang dirinya sendiri. Yakni jati diri kewalian dalam performa insani. Walaupun saya tak bersamanya di tahun-tahun terakhir kehidupannya, tetapi saya pernah menjadi muridnya dan diajar langsung olehnya tentang cinta dan cara mengenal Allah secara semestinya. 

Bersamanya saya menemukan hakikat cinta terdalam dan berenang dalam samudera ilmuNya. Beliau seorang yang baik, sangat baik. Ia datang hijrah ke Indonesia atas perintah Allah Taa'la melalui hatif (bisikan hati). Dan kiranya, Indonesia lah negeri terakhirnya.

Sambil melepasnya pergi, mari kita nikmati sesaat dua video yang saya dedikasikan khusus untuknya semasa hidup dan amat disukainya yakni Troubadour dan Macan Hutan. Selamat jalan Shaykh...