Mohon tunggu...
Fany El Diana
Fany El Diana Mohon Tunggu... NIM: 1903016114

Nama: Fany El Diana, NIM:1903016114, Kelas: PAI 1C, MahasiswI UIN Walisongo Semarang

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pengaruh Interaksi Keluarga terhadap Prestasi Belajar Anak

22 Oktober 2019   11:26 Diperbarui: 22 Oktober 2019   12:00 0 0 0 Mohon Tunggu...

Di era sekarang, kehidupan dalam suatu keluarga sudah banyak berubah, bahkan terjadi pertukaran peran. Banyak ibu rumah tangga yang peran awalnya mengurus serta mengatur kebutuhan rumah tangga, lalu mengalihfungsikan perannya sebagai pencari nafkah, sama seperti suaminya. Kedua orang tua yang berkarir seringkali lupa akan kewajiban dan tanggung jawabnya dalam konteks pembinaan dan pengawasan pendidikan anak dirumah. Hal itu terjadi dikarenakan kedua orang tua terlalu sibuk (tidak ada waktu) dan sudah lelah ketika sepulang bekerja sehingga tidak bisa mengawasi proses pembelajaran anaknya dirumah.

 Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama, sehingga peran orang tua menjadi titik penentu pembentukan kepribadian anak. Oleh karena itu, peranan kedua orang tua dalam pendidikan sangatlah penting dan besar pengaruhnya bagi perkembangan pendidikan anak.

Pengertian keluarga berdasarkan asal usul kata yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa kata keluarga berasal dari bahasa Jawa yang terbentuk dari dua kata yaitu kula dan warga "kulawarga" yang berarti anggota atau kelompok kerabat. Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah lalu bersatu. Keluarga inti "nuclear family" terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Sedangkan pengertian keluarga menurut istilah adalah bentuk masyarakat kecil yang terdiri dari beberapa individu yang saling terikat suatu keturunan, yakni kesatuan antara ayah dan ibu serta anak yang merupakan kesatuan kecil dari bentuk-bentuk kesatuan masyarakat. Jadi, berdasarkan pemaparan definisi keluarga diatas, dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah bentuk masyarakat yang terkecil dan terdiri dari beberapa individu yang saling terikat yang didalamnya terdapat ayah, ibu, dan anak.

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat atau pemerintah. Sekolah sebagai pembentuk kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak adalah dalam keluarga. Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam pendidikan. Oleh karena itu, para sosiolog yakin bahwa segala macam kebobrokan yang terjadi dalam masyarakat merupakan akibat lemahnya institusi keluarga. Bagi seorang anak keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Tak sedikit orang tua yang secara tidak langsung melakukan kesalahan dalam mendidik anaknya. Beberapa kesalahan tersebut antara lain:

  • Kedua orang tua kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal (ucapan) maupun fisik (perlakuan).
  • Kurang meluangkan waktu untuk anak.
  • Kurangnya perhatian yang diberikan orang tua terhadap anak.
  • Orang tua bersikap kasar secara verbal, misalnya menyindir anak, membanding-bandingkan anak dengan anak yang lain maupun dengan orang lain, dan berkata kasar.
  • Orang tua bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit, atau memberikan hukuman badan lainnya.
  • Orang tua terlalu memaksakan anak untuk menguasai kemampuan kognisi secara dini dan berprestasi seperti teman-teman sebayanya, walaupun dapat kita ketahui bahwa setiap anak memiliki ciri khas, kemampuan, dan bakat yang berbeda-beda.
  • Orang tua tidak menanamkan karakter yang baik pada anak.

Dapat kita simpulkan bahwa dampak dari kesalahan orang tua ketika mendidik anaknya dalam pemaparan diatas adalah akan menimbulkan anak mempunyai kepribadian yang bermasalah atau kecerdasan emosi anak yang rendah sehingga menyebabkan semangat anak turun untuk belajar (menjadi malas belajar) dan prestasi belajarnya menurun.

Untuk mencapai keberhasilan prestasi belajar anak, tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks. Menurut Muhibbin Syah (2008:132) keberhasilan belajar (pendidikan) anak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu faktor dari anak itu sendiri (intern) dan dari luar anak (ekstern). Faktor yang berasal dari dalam anak antara lain: kecerdasan, bakat, minat, motivasi diri, disiplin diri. Sedangkan faktor dari luar anak antara lain: lingkungan alam, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, kondisi sosial, ekonomi, guru, kurikulum, dan sebagainya. Jadi dalam hal ini tinggi rendahnya prestasi belajar anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor diatas, salah satunya yaitu lingkungan keluarga. Karena kegiatan belajar dirumah mempengaruhi belajar disekolah dan juga kelak dalam masyarakat, maka perlu adanya kerja sama ataupun interaksi sosial antara anak terhadap keluarganya agar tercapai suatu situasi keluarga yang harmonis yang berakibat mendukung pendidikan anaknya.

Dalam proses kegiatan pembelajaran dirumah, interaksi dalam keluarga menjadi penunjang yang utama. Jika dalam keluarga tidak ada interaksi antara orang tua dengan anak, bisa memungkinkan anak mengalami penghambatan dalam proses pembelajaran. Mar'at (2008) menegaskan bahwa interaksi sosial merupakan suatu proses dimana individu memperhatikan, merespon terhadap individu lain, sehingga direspon dengan suatu tingkah laku tertentu. Menurut Walgito (2008:65) interaksi sosial ialah hubungan antara individu satu dengan individu yang lain, individu yang satu mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat adanya hubungan timbal balik. Hubungan tersebut dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Berdasarkan kedua pendapat diatas, bahwa interaksi sosial dalam keluarga adalah hubungan timbal balik, saling mempengaruhi yang terjadi antarindividu. Dalam penelitian ini yang dimaksudkan adalah dalam suatu keluarga yaitu hubungan yang berlangsung antara ibu dan ayah, ibu dan anak, ayah dan anak, dan antar anak.

Menurut faham konvergensi, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu:

  • Hereditas (bawaan atau warisan dari orang tua), pewarisan watak dari orang tua ke anaknya baik secara biologis melalui gen atau secara sosial melalui pewarisan gelar, atau status sosial. Walaupun hal ini terlihat sepele, namun hereditas mempunyai dampak yang cukup mempengaruhi dalam tingkat prestasi anak. Seperti peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya, yang memiliki makna sifat anak tidak jauh berbeda dengan ayah atau ibunya. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa ketika dalam masa pendidikan ayah atau ibunya mengalami kemalasan sehingga prestasi belajarnya turun atau rendahnya IQ yang dimiliki, kemungkinan besar hal itu akan menurun kepada anaknya (jika si anak ada upaya semangat belajar yang tinggi untuk memperbaiki hal tersebut, tidak menutup kemungkinan si anak mengalami hasil pencapaian prestasi belajar yang tinggi). Sedangkan pewarisan gelar maupun status sosial dari orang tua secara tidak langsung dapat mengubah watak sang anak untuk mencapai gelar atau status sosial yang sama seperti orang tuanya bahkan lebih tinggi dari orang tuanya (dalam kata lain mencapai suatu prestasi belajar).
  • Lingkungan, sesuatu yang ada didalam atau diluar individu yang bersifat mempengaruhi sikap, tingkah laku, atau perkembangannya. Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hal berhasil tidaknya prestasi belajar yang di raih anak. Kunci utama dalam keberhasilan ini adalah hubungan interaksi yang baik serta sikap keterbukaan antara anak dengan kedua orang tua. Jika sang anak memiliki suatu permasalahan dalam proses belajarnya, hal itu bisa dikomunikasikan dengan orang tua untuk bersama-sama mencari jalan tengah atau solusi yang tepat sesuai karakter anak. Hal itu mampu membuat anak menjadi tidak stress memikirkan solusi masalahnya sendiri dan termotivasi dalam belajarnya sehingga tercipta prestasi belajar pada anak. Begitu juga sebaliknya, jika anak tidak memiliki hubungan interaksi yang baik serta sikap keterbukaan dengan orang tua, dalam mengatasi suatu permasalahan sang anak akan mengalami kesulitan (stress) karena mencari solusi permasalahannya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain (orang tua). Akhirnya anak mengalami stress dan menyebabkan prestasi belajarnya menurun.
  • Dari berbagai studi tentang penting dan besarnya pengaruh kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu telah banyak dilakukan oleh banyak orang, antara lain:
  • Penelitian H. Thomas pada tahun 1957 yang dilaksanakan di Jerman Timur hasilnya sebagai berikut:
  • Anak yang berasal dari keluarga harmonis (utuh) yang tidak naik kelas 2,9% memperoleh nilai rata-rata 6,5 ke atas, 42,7% yang konsentrasinya bertahan 43,6%.
  • Sedangkan anak yang berasal dari keluarga tidak utuh (tidak harmonis) 12,3%, 25,2%, dan 27,5%.

Semua perbedaan prosentase antara dua golongan tersebut adalah signifikan menurut statistik, dapat kita simpulkan pengaruh lingkungan keluarga (keharmonisan dalam keluarga) mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam proses pendidikan anak.

  • Penelitian H.H. Goddard pada tahun 1914 di Vineland Training School, New York menunjukkan bahwa 300 orang penderita lemah pikiran sebagian besar (77%) adalah warisan yang berasal dari keluarga mereka.

Kedua hasil penelitian tersebut bisa kita ambil suatu kesimpulannya bahwa dua faktor hereditet dan lingkungan (lingkungan keluarga) memang sama pentingnya, tetapi lebih cenderung penting kedalam faktor lingkungan keluarga. Orang tua sebaiknya berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan lingkungan keluarga yang nyaman, kondusif, harmonis dan hereditas yang baik untuk keturunannya agar bisa berkembang secara maksimal. Sebab meskipun hereditas berkualitas tinggi, jika lingkungan keluarganya kurang memadai hanya akan menghasilkan individu yang prestasi belajarnya relatif rendah.

KESIMPULAN

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2