Mohon tunggu...
Faiz Romzi Ahmad
Faiz Romzi Ahmad Mohon Tunggu... Mahasiswa di Perguruan Tinggi Islam di Banten

Menulis adalah tanda bahwa kau pernah hidup

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

HMI Fasei Adakan Kajian Jurnalistik

22 Maret 2019   14:42 Diperbarui: 22 Maret 2019   14:49 0 0 0 Mohon Tunggu...
HMI Fasei Adakan Kajian Jurnalistik
Dokpri

Himpunan mahasiswa Islam Komisariat Fasei UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengadakan kajian rutin bertajuk "jurnalistik" di Taman Febi UIN, pada Jumat(22/3). 

Sebagai pemateri adalah Kanda Sutisna, aktivis HmI dan Wartawan surat kabar lokal, Kabar Banten. Kajian ini diikuti oleh para pengurus dan kader Himpunan mahasiswa Islam Komisariat Fasei.

Sutisna menjabarkan bahwa Jurnalis atau insan pers harus memegang teguh prinsip-prinsip jurnalistik. 

"Dalam jurnalistik ada namanya prinsip-prinsip jurnalistik, nah itulah yang menjadi pegangan atau pedomannya" tandasnya.

Jurnalistik erat kaitannya dengan media, baik itu online, cetak, maupun visual. Sambungnya.

Tugas jurnalis untuk mencerdaskan publik dan membuat berita yang informatif, komunikatif, proporsional dan teruji validitasnya adalah sangat mulia. Selain itu menjadi jurnalis bisa bertatap dan membuka dialog dengan lintas karir.

"Kita dituntut untuk mengetahui segala bidang, sehingga dikalangan kami terkenal bahwa wartawan adalah maha cerdas. Selain itu jurnalis juga terbuka luas cakrawala pemikirannya, karena profesi ini membuka dialog antar karir" ujarnya.

Dokpri
Dokpri
Di tengah pemaparannya, Sutisna menekankan bahwa mahasiswa harus mempunyai kreatifitas sebagai entitas pengembangan potensi diri. Jurnalistik yang erat kaitannya dengan surat kabar atau kewartawanan adalah profesi dan bukti bahwa kreatifitas diri perlu untuk di eksplorasi. Sutisna mengatakan bahwa profesi yang ia geluti sekarang murni hasil dari pengembangan dirinya selama dibangku kuliah.

"Pendidikan saya bukan berlatar belakang atau yang mengarah pada dunia jurnalistik, saya adalah lulusan Fakultas Tarbiyah. Saya mendapat basic ilmu jurnalistik di organisasi kemahasiswaan" katanya.

Ini adalah tantangan bagi kader HmI bahwa ijazah atau jurusan kuliah itu bukan patokan kaku seseorang menjadi apa dan siapa. Kita bisa menggali potensi dan memperlebar relasi di organisasi.

Di akhir diskusi Sutisna menyarankan agar kajian jurnalistik ini dilakukan secara kontinuitas dan dibuat forum kajian jurnalistik komisariat.