Digital

Cara Mudah Mengetahui dan Mencegah Berita Hoax

13 Juni 2018   18:47 Diperbarui: 13 Juni 2018   19:38 213 0 0

Bila dulu orang-orang mendapat kabar berita melalui surat kabar yang menyajikan sebuah tulisan kejadian yang terjadi kemarin atau beberapa waktu sebelumnya. Namun sekarang dengan berkembangnya teknologi informasi yang semakin cepat dan pesat, kita bisa tahu sebuah kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu. 

Tak butuh waktu lama bagi sebagian besar orang untuk beradaptasi denganya, terutama Generasi Milleneal yang sedari kecil dengan mudahnya mendapat akses untuk teknologi baru tersebut. 

Kini semua orang dapat mengakses kabar berita terbaru dan ter-update kapan saja dan dimana saja dalam bentuk tulisan, audio, maupun visual dengan berbagai platform

Bahkan kini muncul sebuah konsep baru yang bertajuk Citizen Journalism memungkinkan semua orang dapat membuat dan menyampaikan berita, tak harus dari kalangan Jurnalis. Namun sayangnya perkembangan teknologi dan konsep baru aktivitas jurnalistik  tersebut bukannya tidak dibarengi dengan dampak negatif.

Ini adalah beberapa Tips dari The Washington Post bisa menjadi acuan.  Yang pertama adalah  banyak orang sebenarnya tidak membaca konten yang mereka bagikan. Mereka hanya membaca judulnya. 

Untuk mencegah menjadi penyebar hoax, hilangkanlah kebiasaan membagikan konten tanpa membaca isinya secara menyeluruh. Selain itu, orang sering tidak mempertimbangkan legitimasi sumber berita. 

Situs berita hoax bisa muncul tiap saat, tetapi kita sebenarnya bisa menghindari jebakannya dengan bersikap lebih hati-hati melihat sebuah situs. Sikap hati-hati ini juga berlaku bagi narasumber yang mereka kutip, minimal dengan mencari referensi lanjutan di Google atau situs lain yang sudah terpercaya. 

Lalu, orang cenderung mudah terkena bias konfirmasi orang punya kecenderungan untuk menyukai konten yang memperkuat kepercayaan atau ideologi diri atau kelompoknya. Hal ini membuat kita rentan membagikan konten yang sesuai dengan pandangan kita, sekalipun konten tersebut hoax.

Selain itu menurut Ketua Masyarakat Anti Hoax, ada beberapa tindakan sederhana yang dapat kita lakukan agar tidak ikutan menyebarkan hoax diantaranya adalah, pertama hati-hati dengan judul provokatif. 

Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat berita palsu itu. Kemudian, cermati alamat situs dari informasi yang diperoleh dari website, cermatilah alamat URL. 

Berita yang berasal dari situs media yang sudah terverifikasi Dewan Pers akan lebih mudah diminta pertanggungjawabannya. Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. 

Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya, terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai. 

Ketiga, Periksa fakta, perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri?. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. 

Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Lalu yang keempat, cek keaslian foto. Di era teknologi digital saat ini, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. 

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag and drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan. 

Dan yang terakhir, Ikut Dalam grup diskusi anti-hoax Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti-hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. 

Di grup-grup diskusi ini, warganet bisa ikut bertanya, apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain.