Mohon tunggu...
Faisal Basri
Faisal Basri Mohon Tunggu... Dosen - Mengajar, menulis, dan sesekali meneliti.

Mengajar, menulis, dan sesekali meneliti.

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Konsolidasi di Masa Turbulensi

2 Januari 2016   15:05 Diperbarui: 4 Januari 2016   02:59 1132
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Redakan dulu ambisi besar untuk sementara. Koreksi target selangit. Kocar-kacir ekonomi Indonesia belakangan ini merupakan bukti nyata bahwa fondasi kita masih lemah. Beberapa masalah structural harus segera ditangani serius. Lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan melompat-lompat. Akui kelemahan kita dengan rendah hati.

Langkah pertama adalah mengoreksi target penerimaan pajak pada APBN 2016. Belajarlah dari kesalahan fatal 2015. Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kemerosotan harga komoditas, justru pemerintah meningkatkan target penerimaan pajak dari Rp 1.147 triliun (realisasi APBN-P 2015) menjadi 1.489 triliun (APBN-P 2015) atau kenaikan tajam sebesar 30 persen.

Realisasi penerimaan pajak tahun 2015 diperkirakan paling banter sekitar Rp 1.150 trilun. Sepertinya tidak mau belajar dari kesalahan fatal, pemerintah mematok target penerimaan pajak untuk tahun 2016 (APBN 2016) sebesar Rp 1.547 triliun atau naik 34,5 persen, yang berarti lebih tinggi dari tahun 2015—luar biasa.

Kalau dibiarkan, bisa dibayangkan betapa bakal semakin beringas Kementerian Keuangan memburu pembayar pajak (tax payer). [Istilah pembayar pajak lebih sejuk ketimbang wajib pajak.]

Bukan target pajak saja yang harus segera dikoreksi, melainkan juga target pertumbuhan ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 yang belum berusia setahun sudah melenceng jauh.

Pertumbuhan ekonomi 2015 paling banter 4,8 persen, sedangkan yang tertera dalam RPJM 5,5 persen. Target pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi 2016 dalam APBN 2016 sebesar 5,3 persen, semakin jauh lebih rendah dari target RPJM sebesar 6,6 persen.

Revisi juga target industrialisasi. Dorong agar pertumbuhan industri agar bisa mendekati dua kali lipat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) agar sumbangan sector industri manufaktur dalam PDB naik lebih cepat ketimbang yang tertera di Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 yang kurang greget itu.

Industrialisasi harus mampu meningkatkan kapasitas ekspor. Yang tampak sudah mulai berhasil adalah industri otomotif. Untuk pertama kalinya pada tahun 2015 industri otomotif mencetak surplus perdagangan (ekspor lebih besar dari impor).

Ekspor mobil utuh (built up) sampai November 2015 judah mendekati 200 ribu unit. Dalam bentuk CKD sudah melampaui 100 unit. Hampior nbisa dipastikan volume ekspor tahun 2015 bakal melampaui tahun sebelumnya. Peningkatan volume ekspor otomotif cukup membantu dalam mengompensasikan penurunan penjualan mobil di dalam negeri.

Potensi industri tekstil berbasis rayon juga sangat menjanjikan. Kita memiliki keunggulan komparatif di subsektor ini sehingga setidaknya bisa mengimbangi kelemahan di industri tekstil berbasis katun. Tekstil berbasis polyester juga berpotensi untuk terus dikembangkan seandainya terjadi integrasi antara industri pengilangan/pengolahan migas dan industri petrokimia.

Ditambah dengan penguatan industri baja, maka kita akan memiliki industri dasar yang semakin kokoh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun