Edukasi

Hegemoi Pihak Asing

11 Oktober 2018   22:25 Diperbarui: 11 Oktober 2018   22:31 325 0 0

Teori ketergantungan pada dasarnya berasumsi bahwa yang menjadi penyebab ketergantungan adalah kekurangan modal dan kurangnya tenaga ahli. Tetapi faktor penyebabnya adalah proses imperialisme oleh Negara maju terhadap Negara berkembang yang mengakibatkan surplus modal Negara berkembang diakuisi oleh Negara maju.

Akibat pengalihan surplus ini, negara berkembang kehilangan surplus utama yang dibutuhkan untuk membangun negerinya sendir. Oleh karena itu pembangunan dan keterbelakangan merupakan dua aspek yang harus dipilih oleh masing-masing negara. Proses global ini merupakan proses kapitalisme dunia. Di kawasan yang satu, proses itu melahirkan pembangunan, di kawasan yang lain, menyebabkan lahirnya keterbelakangan. Jika negara dunia ketiga mampu secara selektif, hati-hati dan terencana membangun hubungan dengan tata ekonomi kapitalis dunia, maka akan akan berpeluang bisa membebaskan diri dari keterbelakangan dan ketergantungan.

Saya mengambil contoh dari Negara kita. Dikarenakan kurangnya pemahaman dalam mengelola sumber daya alam dengan optimal, kemudian pemerintah mempersilahkan pihak asing untuk mengelola dengan harapan agar memberi manfaat bagi rakyat. Namun yang terjadi justru bertolak belakang dengan harapan yang ada, pihak asing justru memanfaatkan hal ini untuk mengeruk kekayaan alam kita dengan tujuan profit, yang membuat kita justru merugi karena pada akhirnya keuntungan itu tidak untuk kita melainkan mendarat di kantong-kantong miliki asing. 

Sementara kekayaan alam kita dinikmati pihak asing, kita justru harus membeli barang jadi dari luar yang hamper sebagian besar bahan mentahnya berasal dari Indonesia, namun dengan SDM yang memadai, Negara asing mengolah bahan baku yang didapatkan dari bumi Indonesia kemudian diberi brand luar negeri lalu dipasarkan kembali kedalam pasar Indonesia. Di sisi lain, pemerintah juga malah terlalu sering mengimpor bahkan hingga pada kebutuhan pokok seperti beras, daging sapi, hingga kedelai, kita masih harus mengimpor karena ketidakmampuan mencukupi kebutuhan sendiri.

Pola hidup konsumtif akan membuat kita larut sebagai bangsa yang malas dan mau enaknya saja, kedua hal tersebut melekat pada budaya kemiskinan. Budaya kemiskinan bukan semata-mata dilihat dari faktor ekonomi, melainkan juga dari sikap dan perilaku manusianya yaitu hilangnya kemandirian dan tingginya tingkat ketergantungan. Oleh karenanya penulis menghimbau kepada pembaca agar mengurangi prilaku konsumtif dam mulai beralih pada prilaku yang produktif guna menyaingi pangsa pasar dunia yang semakin gencar menguasai prekonomian dari Negara berkembang.