Mohon tunggu...
Fahreza
Fahreza Mohon Tunggu... Lagoom

Urip Sak Madya

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Belajar dari Nanik, Sedikit Pengorbanan untuk Manfaat Tak Ternilai

17 Mei 2019   10:58 Diperbarui: 17 Mei 2019   11:21 0 0 0 Mohon Tunggu...
Belajar dari Nanik, Sedikit Pengorbanan untuk Manfaat Tak Ternilai
Nanik Sumiati

Salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan BPKAD Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengisahkan pengalamannya menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Nanik Sumiati (42) namanya. Wanita yang tinggal di Komplek H. Yani Rasau, Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini mulai menjadi peserta JKN-KIS semenjak era Askes. Hingga saat ini.

Nanik menceritakan bahwa manfaat yang didapat selama menjadi peserta JKN-KIS sungguh sangatlah banyak. "Alhamdulillah, selama menjadi peserta JKN-KIS, kami telah mendapatkan banyak sekali manfaat, salah satunya anak saya menderita thalasemia yang harus melakukan transfusi darah setiap bulannya. Dan semuanya dijamin oleh JKN-KIS," ungkap wanita asli Pacitan Jawa Timur ini.

Thalasemia adalah kelainan darah yang diakibatkan oleh faktor genetik yang mana tubuh tidak memproduksi cukup hemoglobin sehingga mengakibatkan jumlah hemoglobin di dalam tubuh sedikit. Saat tubuh kekurangan hemoglobin, sel darah merah tidak bisa berfungsi dengan baik dan hanya dapat hidup untuk waktu yang pendek. 

Karena sedikitnya sel darah merah sehat yang beredar ke seluruh tubuh, maka oksigen yang diantarkan ke seluruh tubuh tidak cukup dan mengakibatkan seseorang terkena anemia dengan gejala mudah merasa lelah, lemah, dan bahkan sesak napas. Orang dengan thalasemia dapat mengalami anemia ringan ataupun berat dimana anemia berat dapat mengakibatkan kerusakan organ dan dapat mengakibatkan kematian.

Nanik merasa menjadi peserta  JKN-KIS memang sangatlah bermanfaat, apalagi  iuran yang dibayarkan perbulannya juga relatif terjangkau. "BPJS Kesehatan dan Program JKN-KIS sangat membantu dalam pengobatan anak saya setiap bulannya. 

Mulai dari darah yang diperlukan, cek kesehatan, cek laboratorium, cek HB (red-Hemoglobin), cek ferritin, dan lain sebagainya. Apalagi sakit thalasemia memerlukan biaya yang sangat besar dan saya tidak bisa membayangkan kalau saya harus berobat menggunakan uang sendiri," ujar Nanik.

Selama mendampingi perawatan anaknya, pelayanan yang diterimanya di fasilitas kesehatan pun dirasakannya berjalan lancar dan tanpa diskriminasi. "Alhamdulillah pelayanan yang kami rasakan tidak pernah dibedakan dengan pasien umum. Jadi jika ada isu-isu tentang pelayanan yang dibeda-bedakan menurut saya itu tidak benar, mungkin yang dimaksud adalah tempat antrian untuk pasien umum dan pasien JKN-KIS yang berbeda. Dan menurut saya itu wajar saja, supaya petugas bisa lebih fokus mengurus proses administrasinya. Sebagian pasien juga mungkin merasakan karena sistem antrean di loket JKN-KIS cukup banyak," kata Nanik. 

Ia menambahkan, hal tersebut mengingat Peserta JKN-KIS yang terus meningkat dan akses peserta mendapatkan pelayanan di rumah sakit semakin terbuka sejak hadirnya program ini. 

"Memang kita harus memberikan sedikit pengorbanan untuk itu, harus maklum juga bahwa pengguna JKN-KIS bukan hanya kita. Tetapi dibandingkan dengan apa yang menjadi kewajiban kita seperti  membayar iuran setiap bulan ataupun harus mengikuti prosedur yang berlaku,  tetap saja kita akan mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar," tegasnya.

Ia berharap ke depannya BPJS Kesehatan akan senantiasa meningkatkan pelayanannya agar peserta seperti dirinya yang secara rutin  mendapatkan manfaat  program JKN-KIS akan mendapatkan pelayanan lebih baik lagi. Nanik juga berharap, Peserta JKN-KIS bisa terus mendapatkan jaminan kesehatan yang komprehensif dan berkualitas "Selama program ini ada, maka saya yakin masyarakat akan lebih terjamin perlindungan kesehatannya,"  tutup Nanik. (KA/rz)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x