Fadly bahari
Fadly bahari Penulis

penikmat detail sejarah - penjelajah & pengumpul esensi - sekedar menyampaikan berbagai hal yg saya ketahui, karena pada hakikatnya, semua itu hanya titipan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Konsep Bissu dan Mitos Adam sebagai Hermaprodit

16 Mei 2019   06:54 Diperbarui: 16 Mei 2019   07:33 150 1 0
Konsep Bissu dan Mitos Adam sebagai Hermaprodit
Ritual Bissu (Sumber: etnis.id, Foto M. Ridwan)

Dalam tradisi Bugis, seorang Bissu bukan hanya sebagian pria dan bagian wanita, tetapi juga sebagian dewa dan makhluk hidup. Bissu menempati peran ritual kritis sebagai perantara antara dunia supranatural dan Bugis. Bissu menjadi mediator antara manusia dan dunia supernatural karena ia punya peran ritual spesifik - Demikian Garrick Bailey, James Peoples menggambarkan sosok seorang Bissu dalam buku Essentials of Cultural Anthropology (2010:60).

Dalam buku Keberagaman Gender di Indonesia, Sharyn Graham Davies mengutip Andaya (2000:43) yang menulis bahwa; Perpaduan karakteristik laki-laki dan perempuan dalam diri seorang bissu dianggap penting untuk pemenuhan persyaratan dalam ritual mereka (2017: 151-152).

Dalam bukunya, Sharyn Graham Davies juga mengungkap salah satu naskah sejarah paling awal yang menyebut Bissu, yang datang dari pedagang berkebangsaan Portugis Antonio de Paiva, yang mengunjungi kepulauan ini di abad keenam belas. 

De Paiva menganggap Bissu sebagai "pendeta-pendeta raja" dan Bissu digambarkan sebagai ahli sihir yang berprilaku dan berpakaian seperti perempuan; diyakini bahwa seorang laki-laki tidak bisa menjadi perantara yang dapat bicara dengan roh-roh. Dalam surat yang ditulisnya tahun 1544, de Paiva menulis:

... saya ingat satu hal yang sangat serius. Dan kendatipun kata-katanya tidak sesuai atau tidak bisa diterima pendengaran Anda, tolong disimak laporan tentang mereka, karena inilah buah-buah dari Roh Kudus. Tuhan Anda akan tahu bahwa pendeta para raja ini biasanya dinamakan bissu. 

Mereka tidak memelihara jenggot mereka, berpakaian seperti perempuan, dan membiarkan rambut mereka tumbuh panjang dan dikepang; mereka meniru bicara (perempuan) karena mereka mengadopsi gerak-gerik dan kecenderungan seperti perempuan. 

Mereka menikah dan diterima, menurut adat istiadat daerah tersebut, dengan laki-laki biasa, dan mereka hidup dalam satu rumah, dan memenuhi hasrat mereka di tempat-tempat rahasia dengan laki-laki yang mereka miliki sebagai suami-suami mereka. Ini adalah [pengetahuan, umum, dan tidak hanya di sekitar sini, tetapi juga diceritakan mulut-mulut orang yang sama yang dipilih oleh Tuhan Allah untuk memuji-Nya. 

Para pendeta ini, apabila mereka menyentuh seorang perempuan dalam pikiran atau tindakan, mereka akan direbus dalam cairan aspal karena mereka percaya bahwa agama mereka akan lenyap bila mereka melakukan hal itu; dan mereka melapisi gigi mereka dengan emas. 

Dan seperti saya katakan pada Ketuhanan Anda, saya menjalani ini dengan pikiran yang jernih, terhenyak (bahwa) Tuhan kita telah menghancurkan tiga kota di Sodom karena melakukan dosa yang sama dan membayangkan bagaimana suatu kehancuran tidak menimpa orang-orang durhaka di situ untuk waktu yang lama dan apa yang harus dilakukan, karena seluruh daerah itu sudah dikelilingi oleh setan (dikutip dalam Baker, 2005:69)

De Paiva dengan terang-terangan menyebut hubungan dekat antara kerajaan dan bissu, sambil pada saat yang sama mengungkapkan pandangan pribadinya tentang keamoral-an bissu. De Paiva terus menerus mencoba untuk mengubah agama para pejabat di Sulawesi Selatan menjadi Kristen. Dalam satu salah satu kesempatan de Paiva mengungkapkan kejengkelannya sehubungan dengan upayanya untuk mengubah agama, mempersalahkan bissu yang menjadi penghalang utama:

Waktu itu saya tengah menunggu jawaban dari raja (tentang apakah ia akan masuk menjadi Kristen), yang sudah terlambat satu hari dari tanggal sembilan yang dijanjikan dan alasannya adalah karena ada perdebatan sengit tentang agama Kristen dengan pendeta-pendeta [bissu] yang menjijikkan yang saya sebut di atas, yang karenanya usaha paling keras harus dilakukan, dan semua penundaan tersebut dilakukan demi rekonsiliasi yang dia [raja] inginkan dengan mereka [bissu]. (disebut dalam Baker, 2005: 70-71).

Bagi de Paiva, kendala paling jelas untuk mengubah agama raja dan penduduk Sulawesi Selatan adalah bissu. Brooke (1848: 82-83) juga mencatat hubungan seperti itu:

 Adat istiadat paling aneh yang saya perhatikan adalah, bahwa sebagian laki-laki berpakaian seperti perempuan, dan sebagian perempuan seperti laki-laki; bukan hanya sekali-sekali, tetapi sepanjang hidup mereka, mengabdikan diri mereka pada pekerjaan dan pencapaian dari jenis kelamin yang mereka adopsi. 

Berkaitan dengan laki-laki, tampaknya orangtua dari anak laki-laki, ketika mengetahui bahwa ia memiliki sifat feminin dalam kebiasaan maupun penampilan, maka didorong untuk mempersembahkan anak laki-lakinya kepada salah satu raja, dengan siapa dia akan diterima. Anak-anak muda ini kerap memiliki banyak pengaruh pada tuan-tuan mereka.

Selain peran mereka di dalam kerajaan, para bissu sering diberi tanggung jawab untuk melindungi kerajaan dari ancaman dari luar. Antara tahun 1666 dan 1669, Sulawesi Selatan hancur karena perang antara VOC Belanda dan sekutu Bugis Bone, yang dipimpin oleh Arung Palakka bergabung dalam satu pihak, dua kerajaan Makasar Goa dan Tallo dan sekutunya, termasuk Wajo', ada di pihak lainnya (Andaya, 1981). Situasi yang menegangkan ini mendorong istana mengerahkan seluruh kekuatannya, baik yang sakral maupun yang duniawi. Dalam kerajaan Bugis, para bissu dimobilisasi untuk mencari pertolongan dan mendapatkan rahmat dari pada dewa untuk melindungi dan membantu penguasa mereka yang berdarah putih.

Mencermati sejumlah literature tentang Bissu yang telah diurai di atas, kita dapat melihat bahwa tradisi Bugis mempercayakan seorang Bissu sebagai penghubung dunia bawah (dunia manusia) dan dunia atas (dunia para dewa), dengan didasari kepercayaan bahwa hanya orang yang setengah laki-laki dan setengah perempuan yang bisa kerasukan dan menjadi perantara dengan dunia roh.

Terkait pembahasan mengenai hal ini, dalam bukunya, Sharyn mengutip beberapa tulisan para peneliti, yang antara lain; tulisan Errington (1989: 124) tentang Asia Tenggara, yang menyatakan bahwa; mahluk hidup yang seksualitasnya ambigu dianggap "memiliki kesaktian bukan karena mereka memadukan atau menggabungkan dualitas jenis kelamin, namun karena mereka ada sebelum terjadi pembedaan (pre-difference), mereka mewujud dalam kesatuan yang tak terpisahkan.

Begitu pula dalam penelitiannya di India, Reddy (2005:90) mengatakan bahwa kekuatan yang menguntungkan dari seorang hijra, satu posisi subyek yang sama dengan seorang bissu, berasal dari sifatnya yang tidak terdiferensiasi.

Halilintar Lathief (pers.comm. 2007), seorang peneliti asal Bugis, juga menyinggung kombinasi ini, kendati ia mengatakan bahwa bissu merupakan peleburan laki-laki dan perempuan ketimbang sebagai kesatuan yang tak terpisahkan: 'Tidak diketahui lagi jenis kelaminnya (bissu), mana yang laki-laki atau mana yang perempuan; keduanya telah menyatu.

Hamonic (2002:8), dalam penelitiannya yang ekstensif tentang mantra-mantra dan ritual bissu, menyatakan dengan tegas bahwa bissu memiliki dua jenis kelamin.

Penjabaran Errington yang mengatakan; mahluk hidup yang seksualitasnya ambigu dianggap "memiliki kesaktian bukan karena mereka memadukan atau menggabungkan dualitas jenis kelamin, namun karena mereka ada sebelum terjadi pembedaan (pre-difference), ... mewujud dalam kesatuan yang tak terpisahkan", menimbulkan dugaan saya bahwa, bisa jadi konsep Bissu dalam tradisi Bugis merupakan implementasi wujud terawal manusia -- Adam sebagai Hermaprodit -- yakni Adam sebelum dimaknai sebagai jenis kelamin laki-laki, sebelum dari dirinya diciptakan Hawa yang berjenis kelamin wanita.

Seiring berjalannya waktu yang sangat lama, konsep awal Bissu ini kemudian terlupakan hingga hilang dalam pemahaman konsep orang Bugis mengenai Bissu, yang tersisa kini kemudian adalah bentuk pemahaman yang samar-samar saja -- hingga dengan demikian butuh pendalaman dan dukungan data dari literatur-literatur kuno lainnya untuk menyatukan atau menghubungkannya kembali dengan bentuk konsep yang asli.

Jika dugaan bahwa konsep Bissu ada keterkaitan dengan mitos Adam sebagai Hermaprodit dapat diterima, maka, Fakta lain yang perlu mendapat perhatian adalah bahwasanya konsep tradisi yang menjadikan seseorang dengan dualitas jenis kelamin sebagai media penghubung dunia manusia dan dunia dewa ini, dapat dikatakan sejauh ini hanya ditemukan di Sulawesi Selatan; Bissu,  dan di India; Hijra.

Berikut ini tulisan tentang Hijra yang saya kutip dari buku "Culture, Society and Sexuality: A Reader" Richard Guy Parker, Peter Aggleton (1999:226-227):

Hijra adalah sebuah peran gender ketiga yang dilembagakan di India, bukanlah laki-laki atau perempuan, tapi mengandung unsur-unsur keduanya. Hijra umumnya diyakini oleh masyarakat sebagai Intersexed, laki-laki impoten, yang menjalani emasculation di mana semua atau sebagian alat kelamin dihilangkan. Mereka mengadopsi pakaian wanita dan beberapa aspek lain dari perilaku wanita.

Hijra secara tradisional mencari nafkah dengan mengumpulkan sedekah dan menerima pembayaran untuk pertunjukan di pesta pernikahan, kelahiran dan festival.

Ciri utama dari budaya mereka adalah pengabdian mereka kepada Bahuchara Mata, salah satu dari banyak Dewi yang dipuja di seluruh India, untuk siapa pengorbanan dilakukan. Identifikasi dengan Dewi ini adalah sumber kedua klaim hijra untuk tempat khusus mereka di masyarakat India dan kepercayaan tradisional dalam kekuasaan mereka untuk mengutuk atau memberi berkat pada bayi laki-laki.

Sensus India tidak menyebutkan hijra secara terpisah sehingga angka pastinya tidak diketahui. Perkiraan dikutip dalam kisaran pers dari 50.000 (India Hari ini, 1982) hingga 500.000 (Tribune, 1983). Hijra hidup terutama di kota-kota di India Utara, di mana mereka menemukan kesempatan terbesar untuk melakukan peran tradisional mereka, tetapi kelompok-kelompok kecil hijra ditemukan di seluruh India, di selatan dan juga di utara.

Seven "houses", atau sub kelompok, terdiri dari komunitas hijra; masing-masing memiliki seorang guru atau pemimpin, semuanya tinggal di Bombay. Rumah-rumah memiliki status yang sama, tetapi satu, Laskarwallah, memiliki fungsi khusus menengahi perselisihan yang muncul di antara yang lain. Setiap rumah memiliki sejarahnya sendiri. serta aturan khusus untuk itu. Misalnya, anggota rumah tertentu tidak diizinkan memakai warna tertentu.

Hubungan paling signifikan dalam komunitas hijra adalah guru (master, teacher) dan chela (murid). Ketika seorang individu memutuskan untuk (secara formal) bergabung dengan komunitas hijra, dia dibawa ke Bombay untuk mengunjungi salah satu dari tujuh guru utama, biasanya guru dari orang yang telah membawanya ke sana. Pada ritual inisiasi, sang guru memberi pemula nama perempuan yang baru. Pemula berkaul untuk mematuhi guru dan aturan komunitas. Sang guru kemudian memberikan chela baru dengan beberapa hadiah.

Chela, atau seseorang yang bertindak atas namanya, membayar biaya inisiasi dan guru menulis nama chela di buku catatannya. Hubungan guru-chela ini adalah ikatan timbal balik seumur hidup di mana sang guru berkewajiban untuk membantu chela dan chela wajib untuk setia dan patuh kepada guru. Hijra tinggal bersama di komune umumnya sekitar 5 hingga 15 anggota, dan kepala kelompok-kelompok lokal ini juga disebut guru.

Hijra tidak membuat perbedaan dalam komunitas mereka berdasarkan asal kasta atau agama, meskipun di beberapa bagian India, Gujarat, misalnya, Hijra Muslim dan Hindu dilaporkan hidup terpisah (salunkhe, 1976). Di Bombay, Delhi, Chandigarh dan Bangalore, Hijra dari Muslim, Kristen, dan Hindu tinggal di rumah yang sama.

Dari paparan singkat di atas -- mengenai Hijra di India, tergambar ada keidentikan kehidupan mereka dengan kehidupan Bissu di Sulawesi selatan, terutama pada pola hidup mereka yang bentuk komunitas kecil dan mencari nafkah dengan menerima pembayaran untuk pertunjukan di pesta pernikahan, kelahiran dan festival. Selain itu, kesamaannya juga bisa kita lihat dari adanya semacam otoritas yang mereka miliki dalam kepercayaan tradisional setempat, terutama dalam hal yang bersifat magis.

Kita dapat menduga kuat bahwa Bissu dan Hijra pada dasarnya memiliki satu akar yang sama, dan, jika kita mencermati data di atas -- bahwa komunitas Hijra hidup terutama di kota-kota di India Utara, di mana mereka menemukan kesempatan terbesar untuk melakukan peran tradisional -- maka, hal ini jelas menjadi benang merah lainnya tentang adanya keterkaitan budaya antara Bugis dengan wilayah India utara dan Pakistan.

Dalam buku "Luwu Bugis, The Antediluvian World" telah  saya mengenai budaya Bohni atau boni, yakni kebiasaan sosial dan komersial terutama dari India Utara dan Pakistan yang mengacu pada penjualan pertama hari itu -- bahwa penjualan pertama (bohni) dipercaya berpengaruh kepada kesuksesan kegiatan penjualan selanjutnya pada hari itu. Adalah pertanda buruk jika pelanggan pertama pergi tanpa melakukan pembelian sehingga pedagang sangat berhati-hati untuk tidak membiarkan itu terjadi. Pada momentum bohni, harga barang biasanya dibuat relatif rendah agar penjualan dapat dimulai dan keberuntungan dapat dipertahankan -- praktek ini jelas sangat identik dengan "pammula balu" dalam tradisi dagang orang Bugis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2