Humaniora

"Setiap Anak Punya Emosi" (Alarm untuk Orang Tua)

5 Januari 2018   12:44 Diperbarui: 5 Januari 2018   17:36 332 1 0
"Setiap Anak Punya Emosi" (Alarm untuk Orang Tua)
family-5a4f5497ab12ae2afb371dd2.jpg

"Aduh...!! Kamu ini ya nakal sekali, susah sekali dibilangin " 

Seorang emak-emak sudah marah pagi-pagi. Baru selesai bereskan rumah, si anak sudah bikin "masalah". Naik darahlah si emak, dikit - dikit marah. Ini karena mungkin banyak yang ia pikirkan. Penghasilan keluarga yang " ngepas". "Ngepas" untuk bayar sekolah,beli sembako, bayar listrik, belanja jajanan si anak, beli ini itu yang penting. Hingga terabaikanlah keperluan si emak yang berpenampilan minimalis bukan karena stylenya. Jadi, kesalahan kecil yang dibuat sang anak dengan mudah memancing emosi marahnya. Nah, kalau sudah begini omelan tiada berhenti. Habis itu, baru deh nyadar sudah menyakiti si anak. Pas marah sih nggak peduli liat si anak nangis. Terkadang ada beberapa emak ( bapak juga) suka cubit tuh si anak karena dipandangnya "nakal".

Kasihan lho, tapi apa daya udah emosi aja bawaannya. Semua penghuni rumah jadi korban " perasaan " amarah si emak.

Saya, 27 tahun korban kekerasan verbal dan fisik dari seorang ibu kandung. 

Sedari kecil, ketika mulai bisa memahami rasa sedih,marah,kecewa,takut, dan lain sebagainya, saya mulai bisa merasa bahwa sata tersakiti. Dikit - dikit kena omel, dikit-dikit kena cubit,kena pukul tangan ataupun benda. Biasa ditampar,dijambak, dan lainnya. Saat itu ( usia SD ) saya hanya bisa menangis.. Rasa marah balik dan kecewa timbul saat usia saya remaja. Ya namanya remaja fase mencari citra diri ya.. Kalau kena marah dan pukul, apalagi kalau dikata-katain oleh ibu, saya mulai merasa marah dan membencinya. Berpikir kenapa hanya aku si anak sulung yang diperlakukan begitu.Begitu seterusnya....

Hingga selesai bangku SMA, saya melanjutkan kuliah. Yaaa, dengan pola asuh yang otoriter maka kuliahpun aku tidak bisa menyampaikan pendapatku. Menjadi anak yang memiliki harga diri yang rendah.

Naaah,di luar kota bebaslah saya dari kondisi "mencekam " seorang ibu kandung. 

Saya tidak memiliki hasrat berbicara banyak apalagi sekedar menanyakan kabar dengan orang tua. Disitu saya paham, bahwaselama ini saya menjadi korban kekerasan. kalau jaman sekarang mungkin bisa dipidakan dengan mudah dan mencari perlindungan.

Berawal dari sanalah, saya tumbuh menjadi anak yang mencari " kasih sayang" dari orang tua lain. semisal orang tua teman saya. Saya bisa denga lugas menceritakan banyak hal pada mereka padahal mereka bukanlah orang tuaku.

Sejak saat itu saya mulai memahami bahwa rasa sakit hati,marah, dan kecewa seorang korban kekerasan verbal atau pun fisik tetaplah butuh waktu untuk disembuhkan. Tidak mudah rasanya ada dalam situasi sulit seperti ini. 

Akan tetapi, ketika saya menjadi orang tua saya paham dimana mengelola emosi "emak-emak" pun tidaklah mudah.

 Kalau sudah begini, rasanya ingin mencari kebenarannya masing - masing.

Jika menjadi seorang anak dari siapa dan menjadi ibu dari siapa itu tidak bisa dipilih, maka dengan segala pengalaman, dan kemampuan kognitif,spiritual,dan apapun itu mungkin bisa menjadi dasar kita melihat suatu hal dengan kacamata lain. Belajar melihat dari sisi anak dan sisi orang tua. Bukan berarti menjadi "emak-emak" bebas marah - marah yaaa.. Tapi, marilah kita sebagai orang yang lebih dewasa mulai menata perilaku dan tutur kata kita di depan anak. Anak itu dengan mudah modelling yang dilihatnya.. Memutus mata rantai kekerasan  dan pola asuh otoriter bisa menjadi pilihan untuk menumbuhkan generasi yang bermental kuat bersaing di era sekarang. Setidaknya tidak menumbuhkan bibit anak anak yang " cengeng", pemarah, rendah diri, 

dan lainnya akibat kesalahan orang tua. Sekalipun semua adalah proses berkelanjutan, saya rasa jika kita mau mengubah diri maka pendidikan di rumah akan berjalan dengan baik. Menjadikan anak cerdas secara emosi dan juga kognitif. Membantu anak dalam pembentukan karakter positif, guna melahirkan anak yang memiliki citra diri positif dan harga diri yang tinggi.