Mohon tunggu...
Evi Ghozaly
Evi Ghozaly Mohon Tunggu... | Penulis | Praktisi pendidikan | Konsultan pendidikan |

Tebarkan cinta pada sesama, melalui pendidikan atau dengan jalan apapun yang kita bisa.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Orangtua Hebat, Anak Dahsyat

11 Mei 2020   18:10 Diperbarui: 11 Mei 2020   20:46 19 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Orangtua Hebat, Anak Dahsyat
fb-img-1589203829726-5eb95706097f36394265fe02.jpg

Setiap kali saya bertemu dengan orang mulia, saya selalu mbatin, duh apa ya doa rutin dan tirakat kedua orang tuanya? Amalan apa yang selalu dilakukan, pernah hidmah pada siapa dan dengan cara apa?

Ketika kemudian saya berani mengungkapkan tanya,  jawaban yang saya dapatkan selalu mirip. Tak putus berdoa dan punya lelaku batin yang istiqomah dilaksanakan dengan tulus, ikhlas. Bertahun-tahun tak henti, yang pada akhirnya mengundang keberkahan. Keberkahan itu membaluri sekujur diri sendiri, meluber pada pasangan, putra putri hingga masyarakat. Ini yang kemudian saya kenal dengan tirakat. Dalam bahasa tasawuf disebut riyadhoh.

Gus Rijal pernah bercerita tentang seorang muadzin langgar kecil di Jombang. Dengan ciri khas beduknya yang nyaris lapuk, istiqomah melantunkan adzan lima waktu. Tak pernah terlambat. Saking istiqomahnya, masyarakat sekitar tak berani berbuka puasa sebelum mendengar lantunan adzannya, sekalipun sayup telah terdengar adzan dari kampung sebelah. Saat muadzin ini wafat, putranya masih kecil. Di kemudian hari putranya keluberan keberkahan hidmah ayahnya, dapat menghafal Al Quran tak lebih dari tiga bulan.

Bagi penggemar Ust. Abdus Somad, saya bisikin ya. Menurut cerita  saudaranya, selama UAS menuntut ilmu di Kairo, Mesir, tiap malam sang Bunda berdoa dan membaca fatihah seratus kali. Hingga kata UAS, "Pantas selama disana saya jarang sakit dan banyak mendapat kemudahan".

::

Sekarang coba kita ingat kembali, doa dan amalan kecil apa yang rutin dilakukan oleh orang tua kita?

Bapak saya tidak punya titel, tak pernah lulus kuliah. Hanya seorang santri yang kemudian karena bisa membaca kitab, lulus sebagai kepala KUA. Ibu saya juga perempuan biasa, sendirian merawat sembilan putra putrinya. Tanpa tahu teori pendidikan. Tak paham ilmu parenting.

Tapi saya menyaksikan betapa Bapak saya sangat istiqomah belajar dan mengajar. Setiap waktu luang, beliau selalu muthola'ah kitab. Tak ada istilah kitab kecil buat Bapak saya, semua dipelajari, berkali-kali. Siapapun anaknya yang lewat depan beliau, pasti dipanggil lalu 'dipaksa' menyimak. Makanya saya lebih baik mlipir haha.

Usai saya mengisi program Kiswah di TV9 tahun lalu, Gus Hakim Jayli sang Direktur bercerita, "Ning, Yai Ghozaly itu istiqomah banget. Kalau bulan puasa, mbalah kitab Ihya Ulumuddin ba'da dhuhur. Sudah kitab berat, pada jam ngantuk. Santri yang nyimak hanya sedikit. Tapi ngendikan beliau, meski hanya empat santri, akan tetap hadir ngaji".

Ingatan lain tentang Bapak adalah kejujuran dan keukeuh menjaga apa yang dimakan. Saat Bapak pensiun, Pak Camat bertamu dan terheran melihat gubuk kami yang dedel duwel. Sangat sederhana sekali. Untuk biaya sekolah dan mondok putra putrinya, Bapak mengandalkan hasil sawah yang tak seberapa luas.

Bapak juga selalu berprasangka baik meski kadang terkesan naif, sampai saya pernah didukani karena berkomentar buruk tentang Eyang Soeharto. Bapak saya sangat hormat pada presiden RI kedua itu, sebut namanya aja nggak kersa njambal. Tiap pidato tahunan ditungguin di TV. Meski saat Bu Tien wafat, Bapak pernah keceplosan ndak dangu niki pun. Tapi ketika Bapak tahu saya akan ikut demo 1998, Bapak mendudukkan saya sampai lungkrah. 

"Bayangkan betapa susahnya memimpin sekian juta rakyat yang sebagiannya jadi tukang melawan kayak njenengan, Nduk. Njenengan sampun menyiapkan gantinya? Lebih baik? Kalau Pak Presiden Soeharto punya salah ya wajar. Kalau salahnya besar, ya jangan njenengan yang ikut menurunkan. Ada tugas masing-masing. Buang spanduk untuk demo itu". See, saya mau berargumen apa coba. Cuma diam, njepiping. Besoknya saya tak boleh keluar rumah. Dikurung. Untung tidak diminta balikin beasiswa Supersemar saya haha.

Bapak juga anti ngrumpi, ngrasani orang lain. Kalau kami para perempuan kumpul, Bapak akan riwa riwi nguping. Begitu tahu kami membahas si A atau si B, Bapak langsung nggusyah, "Hayo mulai makan bangkai. Jangan ngrasani. Bubar". Kamipun segera bubar, pindah ke tempat lain melanjutkan ngrumpi haha.

Ibu saya? Setahu saya ahli shadaqah. Pada siapapun. Jangan bayangkan shadaqah besar ya, karena kami bukan orang kaya. Tapi Ibu suka memberi. Kalau sedang ada pengemis dan kami tak punya uang, Ibu menjumput beras, diambilkan makanan atau diberi pakaian layak pakai. Pokoknya apa yang ada. Ibu juga sangat sabar dan penuh cinta. Ngadepi hujatan dan rasan-rasan, Ibu hanya tersenyum. Masalah apapun dihadapi dengan diam dan berdoa. Saya belum pernah melihat Ibu menangis ketika ada masalah.

Pokoknya, Ibu itu suwabar poll. Sabar sundul langit. Sebandel apapun kakak saya (dan saya ding), tak pernah terucap kata kasar dan negatif. Kakak saya yang jadi ketua genk X sering tawuran dan rutin dipanggil BK sekolah. Bahkan pernah mbacok orang hanya karena membela temannya, berurusan dengan polisi. Tetangga heboh. Saudara menyalahkan. Tapi Ibu, seperti biasa saat mendengar kenakalan kami, selalu langsung ambil air wudlu, sholat dan njingkrung wirid. Di kemudian hari, kakak saya ini dikenal dengan Ustadz Arema, mendirikan pondok pesantren, menampung santri tak mampu dan kini mulai mengelola lembaga formal.

Menyusul kiprah pengabdian kakak-kakak yang lain, yang juga punya momongan seuplik santri. Mohon doa ya, semoga kami juga istiqomah.

::

Saya? Tentu saja saya belum bisa mencontoh beliau semua. Seujung jari pun, masih jauh. Tahun lalu saya malah ditegur adik karena mulai mblenyong dari baca wirid harian, ninggal hizb, belum rutin lagi nDalailul Khairot dan nderes secuil-secuil. Saya memang mbuh kok.

Dalam hal ini saya mau membela diri, pareng? Saya inget ngendikan Gus Baha, "Ibadah bukan hanya sholat, ngaji  atau puasa. Momong anak ya ibadah. Belajar mengajar ya ibadah. Silaturrahim ya ibadah. Kalau bisa istiqomah, bagus".

Nah, saya milih silaturrahim dan belajar aja. Ngiter ngisi materi seminar dan pelatihan. Setelah itu, sowan para kyai dan pesantren. Kemudian ziarah maqbarah di tiap tempat yang saya singgahi. Yang penting suami dan anak-anak ridlo. Ehem, ini alasan yang syar'i untuk ngluyur kan?

::

Jadi begitulah. Menjadi orang tua itu tak ada sekolahnya. Menjadi orang tua yang baik, tak harus sarjana. Tugas menjadi orang tua itu seumur hidup. Semua bisa menjadi orang tua yang baik, dengan terus belajar, selalu mendidik dengan cinta, dan tak henti berdoa. InsyaAllah, jika orang tua hebat, anak dahsyat.

Apapun tema materi yang saya sampaikan, kesimpulannya ya itu aja. Pancet. Jadi yuk, nanti sore gabung di TV-9, siaran langsung.

Kalau mau nanya atau cerita pengalaman monggo, disini ya. Hanya saja, mohon maaf kalau saya tak mampu menjawab semua, karena saya juga masih harus belajar

.
- Bandar Lampung, 11 Mei 2020 -

VIDEO PILIHAN