Mohon tunggu...
Evaristus Astarka
Evaristus Astarka Mohon Tunggu... Menulis bagian dari hobiku.

Belajar kapan saja, di tempat manapun juga, dan sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Sepatu: Sejalan Sampai Tua, Diciptakan untuk Bersama

15 April 2021   10:06 Diperbarui: 15 April 2021   10:16 106 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sepatu: Sejalan Sampai Tua, Diciptakan untuk Bersama
Sepatu=SEjalan samPAi TUa, (dok. pribadi)

Setiap orang umumnya pernah dan memiliki sebuah alas kali berupa sepatu. Bahkan jika pesohor artis ibu kota malah memiliki segudang sepatu yang beraneka macam dan berharga puluhan  bahkan ratusan juta. Namun, berapapun jumlah sepatu yang kita miliki tentu setiap kita memakai cukup sepasang, kiri dan kanan, tidak lebih.

Pernah saya mendengar kata sepatu yang diotak- atik gathuk menjadi  sejalan sampai tua. Memang benar sepasang sepatu sejalan beriringan sampai salah satu tak terpakai atau keduanya dimuseumkan (baca) tak layak pakai. Ternyata kadang orang mengangggap remeh sebuah sepatu miliknya. Padahal sepatu memiliki filosofi  mendalam yang perlu kita teladani dalam hidup keseharian kita. Apa saja?

Pertama, setia dan rela berkorban. Sepatu yang cocok dipakai akan setia melindungi pemakainya dari kerikil, batu, dan aneka gangguan lainnya. Pun juga berani berkorban walau diinjak setiap saat dalam waktu yang cukup lama. Maka dari itu kita dapat belajar setia dan berkorban untuk istri, suami, anak, kelurga besar,  orang lain dalam hidup kita.

Kedua, berbeda dan saling melengkapi. Umumnya sepatu berwarna senada. Memiliki ketinggian, dan ukuran sama. Namun, tak bisa dipungkiri jika ada perbedaan mencolok dengan sepatu. Sepatu modelnya menghadap ke kiri dan ke kanan. Jika modelnya sama dengan kiri atau yang kanan tentu tidak nyaman dipakai orang. Dari perbedaan itu membuat kita tahu bahwa sepatu antara kiri kanan jelas berbeda tetapi keduanya saling melengkapi sebab akan selalu seiring sejalan dan keduanya dipakai bersamaan. Jika hanya satu sepatu yang dipakai tentu terlihat aneh dan menjadi bahan tertawaan orang.

Ketiga, memakai sepatu laksana memilih jodoh. Pasangan hidup itu datangnya tidak serta merta. Perlu perjuangan untuk mendapatkan pasangan yang tepat. Dalam membeli memilih sepatu pun kita perlu waktu, tenaga, dan kerelaan. Jika kita sudah menemukan yang cocok tentu hati kita nyaman dan damai. Seperti menemukan jodoh  ujungnya kebahagiaan akan terliput dalam diri kita dengan catatan kita harus saling menerima dan melengkapi.

Keempat, sepatu tidak saling tendang dan injak. Kita perlu belajar dari sepatu yang tak akan saling tendang dan injak. Keduanya akan selalu berjalan sesuai porsinya. Tidak saling melukai satu dengan yang lain. Maka dari itu hendaknya kita juga bisa saling menjaga ucap, perbuatan, sikap  satu dengan yang lain, jangan sampai melukai orang yang ada di sekitar kita. Sekali terluka umumnya orang akan menyimpan luka mendalam dan akan lama hilang dari hatinya.

Kelima, merendah. Sepatu selalu dipakai sebagai alas kaki. Seberapa mahalnya fungsi utama tetap untuk melindungi kaki pemakainya. Selalu berada di bawah dan tak pernah mengeluh. Kita pun bisa demikian, jika dalam keadaan terpuruk, titik terendah dalam hidup kita dapat mengingat filosofi sepatu. Dalam keadaan memiliki jabatan, kedudukan, harta melimpah pun sebaiknya merendah lebih elegan daripada pongah. Sebab semua itu tak berarti jika Tuhan mengambilnya.

Perlu diingat bahwa itu hanyalah titipanNya dan dunia ini selalu berputar. Kadang kita berada di bawah kadang orang bisa berada di atas. Intinya mari kita bersyukur atas apa yang kita miliki. Dan jika memungkinkan tak ada salahnya gemar berbagi dari apa yang kita punya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x