Digital

Indonesia Potensi Kejahatan Siber, Inilah Hal yang Harus Diantisipasi

14 Juni 2018   12:50 Diperbarui: 14 Juni 2018   12:59 229 1 0
Indonesia Potensi Kejahatan Siber, Inilah Hal yang Harus Diantisipasi
anonymous-messaging-apps1-5b220342dd0fa818e8721316.jpg

Indonesia -- Indonesia disebut sebagai pasar potensial bagi kejahatan siber Internasional. Baru-baru ini kepolisian Indonesia bekerja sama dengan kepolisian China dan pihak imigrasi mengungkap kejahatan penipuan berbasis online yang melibatkan 105 Warga Negara Cina di Bali. Pelaku diamankan di Empat lokasi yaitu 3 di Denpasar dan Bandung kesadaran masyarakat Indonesia terhadap keamanan siber masih sangat rendah.

Merujuk pada data yang dirilis International Telecommunication Union (ITU) mengenai Indeks Keamanan Siber Dunia 2017, Indonesia memiliki komitmen cukup tinggi untuk menigkatkan keamanan siber dibandingkan negara-negara di benua Afrika dan Asia Selatan.

"Kalau dilihat index security, kita di Indonesia ini memang di atas rata-rata dunia. Kita masih nomor 70 kalau tidak salah, jadi masih banyak yang harus dikejar," paparnya.

Pertama, rendahnya peluang untuk tertangkap di Indonesia sehingga para pelaku kejahatan siber dapat dengan leluasa melancarkan aksi kejahatannya. "Peluang untuk berbuat kejahatan tinggi. Kalaupun ketahuan peluang mereka untuk tertangkap rendah" kata Adrianus.

Mantan Komisioner Kompolnas berkata Terbatasnya kemampuan kepolisian di Indonesia adalah penyebab utama rendahnya peluang penangkapan pelaku kejahatan siber.

"Sistem siber kita masih mudah ditembus hacker lalu mereka bisa dengan mudah untuk melarikan diri karena kemampuan kepolisian kita masih terbatas," tambahnya.

Alasan Kedua, Banyaknya jumlah pengguna Internet dan pesatnya perkembangan pasar secara digital di Indonesia, lanjut Anggota Ombudsman ini.

"Jadi ini menurut pelaku adalah bisnis besar. Misalnya untuk pemegang kartu kredit, maka enggak susah itu mencarinya lalu diperas dengan jumlah besar. Atau pengguna akun FB diperas dan menghasilkan keuntungan besar," ujarnya.

Negara Asia Timur seperti Taiwan, Hongkong, dan China disebut sebagai penyumbang terbesar pelaku kejahatan siber. Pasar yang mereka sasar pertama kali adalah etnis keturunan. "Misalnya orang China yang ada di Indonesia seperti pendatang hokian atau orang mandarin yang ada di Indonesia dan itu jumlahnya besar,".

Adrianus Menyimpulkan bahwa factor ekonomi adalah alasan peling kuat Indonesia menjadi pusat potensial bagi sindikat kejahatan siber internasional. "Jadi menurut saya pertimbangannya ekonomi saja kenapa kemudian mereka ramai-ramai datang ke Indonesia," tuturnya.

Seperti yang diketahui Polda Bali baru saja mengungkap kejahatan penipuan bermoduskan online. Sindikat ini berasal dari China. Modusnya dengan menggunakan paspor wisata ketika berada di Bali. Mereka berpura-pura sebagai aparat hukum dan meminta sejumlah uang kepada para korban.