Mohon tunggu...
Esti Maryanti Ipaenim
Esti Maryanti Ipaenim Mohon Tunggu... Neuroscience enthusiast, Penulis Lepas, Booktuber

Mengulas buku dan literasi lewat video. Menulis topik seputar neurosains dan pelatihan kognitif untuk anak. Kadang merambah topik gaya hidup dan humaniora.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

3 Kebiasaan Baru yang Membuat Saya Berdamai dengan Diri Sendiri

1 Juni 2020   00:37 Diperbarui: 2 Juni 2020   19:40 1323 21 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
3 Kebiasaan Baru yang Membuat Saya Berdamai dengan Diri Sendiri
Ilustrasi membuat kebiasaan baru (Sumber: www.inc.com)

Saya selalu bersyukur bila Ramadan tiba (tidak berarti bahwa tanpa Ramadan saya kehilangan kemampuan untuk bersyukur, mohon jangan disalahartikan). Maksud saya adalah, selalu ada saja hal baik yang lebih dari pada biasanya bila bertemu dengan Ramadan.

Seperti tahun ini, Ramadan menyisakan jejak kebiasaan baru, salah satunya menulis setiap hari. Tentu saja ada peran keluarga besar Kompasianer di dalamnya, serta iming-iming hadiah kompetisi yang mungkin masih jauh dari jangkauan.

Tapi ternyata, bahkan setelah Ramadan pergi, dan pandemi masih tetap di sini (bahkan berlama-lama dan menertawakan orang-orang yang memaksa berwacana tentang kelaziman baru), saya sepertinya tetap punya lebih banyak kekuatan untuk melakukan berbagai hal.

Maka, sadarlah saya, bahwa Ramadan yang baru saja pergi telah menjadi terapi berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan pandemi, dan tentunya mempersiapkan saya untuk berdamai dengan kelaziman-kelaziman baru lainnya.

Bila Anda penasaran, bagaimana cara berdamai dengan diri sendiri itu. Maka saya akan membagikan 3 kebiasaan baru saya yang akhirnya terbentuk selama sebulan terakhir. Asalkan Anda janji, bacanya sampai tuntas ya. Hehe!

Membuat Jadwal Rutin tapi Fleksibel
Bila Anda adalah orang dengan jadwal rutin maka sudah pasti masa 3 bulan di rumah selama pandemi pasti telah menghancur-leburkan jadwal rutin Anda.

Namun ada juga orang-orang yang meskipun tidak harus ngantor, namun punya segudang aktivitas yang membuatnya mau tidak mau harus membuat jadwal rutin. Saya adalah salah satu dari tipe orang tersebut.

Mungkin karena pernah punya pengalaman bekerja dengan jadwal tiap jam yang sangat padat dan aktivitas yang berganti-ganti, saya terbiasa dengan plot jadwal harian.

Namun sebelum-sebelumnya, saya merasa jadwal itu kadang membuat saya kecewa akan diri sendiri. Karena seringkali banyak hal yang tidak sempat dilakukan.

Maka selama sebulan ini, saya membuat jadwal rutin yang lebih fleksibel. Dengan menggunakan estimasi pengerjaan tiap aktivitas yang rentang waktunya lebih lebar. Atau bisa dikatakan, saya benar-benar mempraktikkan prinsip mindfulness dalam penyusunan jadwal harian. Tidak asal menaruh target to do list.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x