Esme Fadliha
Esme Fadliha ibu rumah tangga

Moody writer, books lover, bathroom singer;-)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama featured

Mungkin Mei Hanya Seperti Gerimis Saja?

9 Mei 2011   13:10 Diperbarui: 15 Mei 2019   12:09 803 10 1
Mungkin Mei Hanya Seperti Gerimis Saja?
ksi kamisan oleh Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan, Kamis (8/11/2018). | Foto: FRANSISCA NATALIA ANGGRAENI UNTUK KOMPAS

Renungan 13 Tahun Reformasi

“Mesir bebas..Mesir bebas” teriakan itu terdengar dari setiap sudut Tahrir Square, Kairo. 11 Februari 2011, sekitar dua juta orang saling berpelukan, menangis, dan mengucapkan selamat setelah berjuang menggulingkan kekuasaan Presiden Husni Mubarak. Perjuangan yang diwarnai bentrokan hingga banyak menjatuhkan korban

Melihat pemandangan di televisi itu, saya tidak bisa mencegah benak saya memutar kembali ingatan ke masa itu. Mei 1998. Usia saya belum genap 13 tahun saat semua berlangsung. Saya tahu apa yang terjadi. Jakarta rusuh, mall dan toko dijarah, mahasiswa dan aparat bentrok. Saya melihat semua melalui televisi dan koran, tapi terlalu bingung untuk memahami mengapa itu bisa terjadi?

Tiba-tiba saja kata ‘Reformasi’ begitu populer. Hampir semua meneriakkan kata ini. Gedung MPR/DPR diduduki ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Atap gedung yang mirip kura-kura itu dipenuhi spanduk-spanduk dan tulisan yang meminta Presiden Soeharto turun. Mundur dari kursi presiden setelah 32 tahun berkuasa. Saya benar-benar tidak mengerti, mengapa mereka begitu membenci bapak pembangunan itu?

13 tahun hampir berlalu…semakin lama saya semakin bisa melihat selaput kebingungan yang menutupi saya waktu itu perlahan terangkat. Tentang apa arti kata Reformasi. Tentang mengapa bangsa Indonesia begitu menginginkan Presiden Soeharto berhenti dari jabatannya. Dan tentang mengapa mahasiswa begitu bersuka cita saat akhirnya itu terjadi. 

Semua menjadi cukup jelas bagi saya, kecuali satu hal. Satu hal yang menjadi catatan kelam sejarah Indonesia. Satu hal yang kembali menegaskan pada dunia, bahwa sebuah revolusi mustahil tanpa pertumpahan darah. 

Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Sebelumnya mereka hanya mahasiswa biasa. Tapi pasca 12 Mei 1998, nama mereka melambung. Ironisnya, hal itu terjadi karena kematian mereka. Kematian karena peluru tajam yang menerjang saat mereka tengah berdemonstrasi bersama ratusan mahasiswa Indonesia lainnya untuk menurunkan Presiden Soeharto. 

Demonstrasi semula berjalan tertib dan damai di Gedung M kampus Trisakti, Jakarta. Orasi dan mimbar bebas menyuarakan keprihatinan pada nasib bangsa dalam krisis ekonomi berjalan lancar. 

Aksi berlanjut dengan long march menuju gedung MPR/DPR untuk menyampaikan aspirasi pada wakil rakyat. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri--militer. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri. Sementara negoisasi berlangsung, massa terus berkeinginan untuk maju. Tak lama kemudian, masyarakat mulai bergabung di samping long march.

Sayang, negosiasi tidak membuahkan hasil. long march tidak diperbolehkan dengan alasan menyebabkan kemacetan lalu lintas dan dapat menimbulkan kerusakan. Mahasiswa kecewa karena mereka merasa aksinya merupakan aksi damai. Massa terus mendesak untuk maju. Di saat yang hampir bersamaan, datang empat truk aparat Pengendalian Massa (Dal-Mas) 

Massa kemudian duduk dan kembali berorasi di depan bekas kantor Walikota Jakbar sementara negosiasi dillanjutkan. Meski Massa sudah bertambah banyak, dan aparat keamanan dilipatgandakan, situasi masih terkendali. 

Terlebih para mahasiswi membagikan mawar tanda damai pada aparat keamanan yang berjaga. Namun lagi-lagi sayang, negosiasi tidak berhasil. Mahasiswa kembali diminta mundur. Walaupun awalnya menolak, dengan tertib mereka memenuhi bujukan Dekan FH Usakti, Adi Andojo SH untuk mundur.

Semua masih tertib dan damai saja, sampai akhirnya seseorang mengeluarkan kata-kata kasar ke arah massa. Hal ini memancing massa untuk bergerak karena oknum tersebut dikira salah seorang anggota aparat yang menyamar. 

Oknum tersebut dikejar massa dan lari menuju barisan aparat sehingga massa mengejar ke barisan aparat tersebut. Situasi menjadi tak terkendali. Tembakan dan gas air mata dari aparat membuat massa panik dan lari ke berbagai arah. Sementara aparat lainnya sambil lari mengejar mahasiswa, juga menangkap dan menganiaya mereka. Yang tergeletak di tengah jalan dibiarkan saja

Aksi penyerbuan aparat terus dilakukan dengan melepaskan tembakkan ke arah gerbang Trisakti. Hingga akhirnya kita tahu apa yang terjadi. Empat orang tewas, dan puluhan lainnya luka-luka.

Keadaan tidak menjadi lebih baik keesokan harinya. Kerusuhan di Jakarta justru semakin parah dan terjadi pula di beberapa kota lain seperti Bandung, dan Surakarta. 

Tiga belas pasar, 2.479 ruko, 40 mall, 1.604 toko, 45 bengkel, 387 kantor, 9 SPBU, 8 bus, 1.119 mobil, 821 sepeda motor dan 1.026 rumah tinggal habis dijarah, dirusak dan dibakar selama berlangsungnya aksi anarkis tersebut. Masa itu bisa dibilang sebagai tiga hari  paling kacau dalam sejarah Indonesia. Tapi itu masih belum apa-apa. Masih banyak yang tidak tahu bahwa peristiwa yang lebih keji telah terjadi. 

Ratusan perempuan Tionghoa disiksa dan diperkosa dengan brutal. Dari hasil verifikasi dan investigasi Kalyanamitra, salah satu divisi Tim Relawan yang menangani masalah kekerasan terhadap perempuan, perkosaan dilakukan oleh 3-7 pria berbadan kekar, sangar secara bergantian, dan serentak di berbagai ruko. 

Menurut Ita F. Nadia (koordinator Kalyanamitra), perkosaan itu telah direncanakan untuk menghancurkan WNI keturunan Tionghoa untuk kepentingan politik, karena kekejaman itu dilakukan secara serentak di suatu wilayah dan disertai dengan pembakaran. 

Dugaan ini semakin dikuatkan dengan kematian Ita Martadinata Haryonoaktivis relawan kemanusiaan setelah diperkosa, dan disiksa karena aktivitasnya. Ini menjadi indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam kerusuhan ini digerakkan secara sistematis. 

Bahkan, bukan hanya itu. Sekitar  seribu orang rakyat kecil yang terdiri dari anak-anak, remaja dan ibu-ibu rumah tangga yang berhasil diprovokasi untuk menyerbu beberapa mall dan menjarah barang, justru kemudian  dikunci dan dibakar hidup-hidup oleh para penggerak aksi anarkis itu. 

Sampai sekarang, dalang tragedi kemanusiaan yang terjadi dari 12-15 Mei 1998 itu masih belum jelas. Memang, tak lama setelah kejadian tersebut, Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) menduga kuat bahwa oknum militer berada di belakang semua ini.

Sebagian pihak berspekulasi bahwa Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin membiarkan peristiwa ini, bahkan aktif terlibat memprovokasi. 

Tapi, semua itu hanya menjadi dugaan, dan sampai sekarang, aktor intelektual kejadian itu masih belum diketahui. Entah memang tidak berhasil diselidiki, atau karena ada yang ditutupi, entahlah. Meski tragedi itu diperingati setiap tahun, perlahan orang-orang mulai melupakan empati pada ribuan keluarga korban yang menginginkan kasus itu diusut tuntas. 

Ah saya jadi teringat cerpen Gerimis Yang Sederhana karya Eka Kurniawan (Kompas, 16 Desember 2007).  Cerita tentang Mei, perempuan WNI keturunan Tionghoa yang pindah ke Amerika karena ingin melupakan peristiwa pahit itu. 

Meski rindu setengah mati pada tanah air, ia lebih memilih untuk menahannya. Berharap bahwa kejadian itu hanya seperti gerimis saja. Gangguan kecil tak berarti yang bisa ia lupakan, seperti bagaimana perlahan bangsa Indonesia melupakannya. (Esme Fadliha)