Mohon tunggu...
Riza Vina Chrismiantari
Riza Vina Chrismiantari Mohon Tunggu... Lainnya - eskrimsemangka_

Let it flow...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis

Tim Nasional Bulu Tangkis Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020

3 Agustus 2021   19:32 Diperbarui: 3 Agustus 2021   19:36 49 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tim Nasional Bulu Tangkis Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020
Bulutangkis. Sumber ilustrasi: PEXELS/Vladislav Vasnetsov

Dalam ajang Olimpiade Tokyo 2020 Tim Nasional Bulu Tangkis Indonesia berhasil membawa pulang satu medali emas dan satu medali perunggu. Medali emas diraih oleh pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii dan Apriyani Rahayu setelah memenangkan pertandingan final melawan ganda putri China Jia Yifan dan Chen Qingchen 2 set sekaligus. Sedangan perolehan medali perunggu diraih oleh tunggal putra nomor satu Indonesia Anthony Sinisuka Ginting yang berhasil mengalahkan Kevin Cordon dari Guatemala di partai perebutan juara ketiga dengan straight game.

Olimpiade merupakan turnamen olahraga terbesar di dunia yang mempertandingkan cabang-cabang olahraga antar negara dan dilaksanakan setiap empat tahun sekali. Salah satu cabang olahraga terkenal yang dipertandingkan pada Olimpiade yaitu Bulu Tangkis. Tahun ini, Olimpiade dilaksanakan di Tokyo Jepang pada 23 Juli sampai 8 Agustus 2021.  Olimpiade Tokyo yang seharusnya dilaksanakan pada tahun 2020 terpaksa diundur sampai tahun 2021 karena adanya pandemi Covid-19. Olimpiade Tokyo pada tahun 2021 ini dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada mengingat bahwa pandemi Covid-19 ini belum berakhir.

Pada cabang Bulu Tangkis, Olimpiade Tokyo dilaksanakan selama 10 hari yang dimulai pada 24 Juli sampai 2 Agustus 2021. Pada olimpiade kali ini, Indonesia sendiri mengirimkan 11 atlet di cabang Bulu Tangkis yang terdiri dari dua perwakilan tunggal putra, satu perwakilan tunggal Putri , dua pasangan ganda putra, satu pasangan ganda putri, dan satu pasangan ganda campuran. Atlet tunggal putra Indonesia diwakili oleh Anthony Sinisuka Ginting dan Jonathan Christie, untuk tunggal putri diwakili oleh Gregoria Mariska. Perwakilan dari atlet ganda putra yaitu Kevin Sanjaya yang berpasangan dengan Marcus Fernaldi Gideon dan Hendra Setiawan yang berpasangan dengan Mohammad Ahsan. Kemudian untuk ganda putri diwakili oleh pasangan Greysia Polli dan Apriyani Rahayu, sedangkan untuk ganda campuran diwakili oleh Praveen Jordan Melati Daeva Oktavianti.

Pada sektor tunggal putra semua wakil Indonesia berhasil lolos ke babak 16 besar. Namun di pertandingan 16 besar langkah Jonathan Christie dan Gregoria Mariska harus terhenti. Jonathan Christie harus mengakui keunggulan tunggal putra China Shi Yuqi yang berhasil mengalahkannya dengan skor telak 21-11 dan 21-9. Sedangkan untuk Gregoria Mariska, dia harus mengalami kekalahan dari Ratchanok Intanon atlet tunggal putri Thailand yang secara ranking berada diatasnya dengan skor 21-12 dan 21-19. Perwakilan tunggal putra lainnya, Anthony Sinisuka Ginting berhasil melaju sampai ke babak Semifinal. Di babak semifinal Ginting harus kalah dengan juara bertahan Chen Long dari China dengan skor 21-16 dan 21-11. Hasil tersebut membuat Ginting harus merelakan medali emas dan bertarung kembali untuk memperoleh medali perunggu di perebutan Juara ketiga. Pertandingan perebutan juara 3 adalah pertandingan yang sangat berat, jika menang kita akan senang karena masih memperoleh medali dan jika kalah kita akan sangat kecewa. Lawan Ginting di perebutan juara ketiga adalah Kevin Cordon, atlet tunggal putra Guatemela yang sudah empat kali mengikut olimpiade di cabang Bulu Tangkis. Kevin Cordon sendiri sedang sangat on fire, berasal dari negara yang dimana Bulu Tangkis tidak terlalu diminati tapi berhasil mencapai babak semifinal. Meskipun begitu, pada babak perebutan juara ketiga Ginting berhasil menunjukkan performa terbaik. Dengan smash menyilang yang menjadi andalannya dan permainan bola-bola depan yang baik Ginting berhasil mengalahkan Cordon straight game langsung dengan skor 21-11 dan 21-13. Hasil ini membuat Ginting memperoleh medali Perunggu dan menjadikannya atlet ganda putra pertama yang berhasil meraih medali Olimpiade setelah Olimpiade tahun 2004.

Di sektor ganda campuran, setelah berhasil lolos fase grup sebagai runner up, langkah Praveen Jordan dan Melati Daeva harus terhenti di Quarter Final. Mereka harus mengakui keunggulan ganda campuran China Zheng Si Wei dan Huang Ya Qiong yang merupakan unggulan pertama di Olimpiade ini dengan skor 21-17 dan 21-15. Hal ini juga terjadi di sektor ganda putra, dimana pasangan Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon yang merupakan unggulan pertama di olimpiade ini harus menelan kekalahan dari pasangan ganda putra Malaysia, Aaron Chia dan Soh Wooi Yik dengan skor 21-14 dan 21-17. Hal ini tentu saja sangat mengejutkan karena jika melihat ranking dan head to head, Kevin/Marcus sangat diunggulkan disini. Namun inilah Olimpiade, semuanya bisa terjadi. Kekalahan ini memperpanjang rekor buruk Kevin/Marcus di major events. Ganda putra lainnya yang tersisa, Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan berhasil melaju sampai ke babak semifinal, hal ini menjadikan mereka sebagai pasangan ganda putra Indonesia yang berhasil mencapai babak semifinal di Olimpiade setelah Olimpiade 2008. Di babak semifinal mereka harus kalah dengan pasangan Taipei Lee Yang dan Wang Chi Lin yang merupakan peraih emas di Olimpiade Tokyo 2020. Meraka kalah dengan skor 21-11 dan 21-10. Kemudian di pertandingan perebutan juara ketiga mereka juga harus mengakui keunggulan ganda putra Malaysia Aaron Chia dan Soh Wooi Yik dengan rubber game 17-21, 21-17, dan 21-14. Meskipun tidak berhasil memperoleh medali, sampai ke tahap semifinal adalah hal yang sudah patut dibanggakan dari mereka mengingat umur yang sudah tidak muda lagi. Melawan pemain-pemain yang jauh lebih muda dari mereka adalah hal yang sulit, namun mereka berhasil memberi perlawanan meskipun hasil akhirnya tidak berpihak kepada mereka. Meskipun kalah, mereka tetaplah legenda Indonesia yang dicintai oleh banyak rakyat Indonesia dan merupakan idola untuk atlet-atlet muda baik di dalam negeri maupun atlet luar negeri.

Perwakilan ganda putri satu-satunya Indonesia, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu berhasil melaju sampai babak final setelah di semifinal berhasil mengalahkan ganda putri Korea Lee Sohee dan Shin Seungchan dengan skor 21-19 dan 21-17. Pada babak final mereka harus melawan ganda putri China Jia Yifan dan Chen Qingchen yang terkenal dengan teriakannya. Pada babak ini, Greysia/Apriyani berhasil menunjukkan performa terbaik mereka. Defense dan smash yang sangat baik berhasil ditunjukkan oleh Apriyani, begitu juga Greysia dengan backhand-nya mampu mengelabuhi lawan. Sehingga Greysia/Apriyani berhasil mengalahkan wakil China di babak final dengan skor 21-19 dan 21-15. Hasil ini membuat Greysia/Apriyani mencetak rekor baru sebagai ganda putri pertama Indonesia yang berhasil memperoleh medali emas Olimpiade sepanjang sejarah Olimpiade. Greysia juga memperoleh rekor sebagai atlet putri tertua yang berhasil meraih medali emas di Turnamen Olimpiade cabang Bulu Tangkis ini. Melihat semangat dan kegigihan, juga mental yang terlihat sangat baik dari Greysia/Apriyani membuat mereka sangat layak mendapatkan semua ini. Hal-hal positif yang selalu mereka tunjukkan saat latihan dan saat bertanding adalah kunci kesuksesan meraka.

Melihat hasil pertandingan Bulu Tangkis Olimpiade Tokyo 2020, dapat kita lihat bahwa tidak peduli berapa rankingnya, tidak peduli unggulan atau bukan, semuanya bisa terjadi.  Di Olimpiade yang siaplah yang akan menjadi juara.

Selamat kepada peraih medali untuk Indonesia...

Semangat untuk yang belum bisa meraihnya. Ingat Kalah bukan berarti Gagal!!!

Dan Terima Kasih untuk semua atlet Indonesia yang telah berjuang.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN