Mohon tunggu...
Said Mustafa Husin
Said Mustafa Husin Mohon Tunggu... Wiraswasta

Freelance, pemerhati kebijakan dan wacana sosial, penulis profil tokoh dan daerah, environmental activists.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Rocky Gerung dan Kaum Sofisme Yunani Kuno

20 Februari 2019   20:14 Diperbarui: 22 Februari 2019   16:02 0 21 11 Mohon Tunggu...
Rocky Gerung dan Kaum Sofisme Yunani Kuno
Rocky Gerung bersiap menjalani pemeriksaan di Ditkrimsus, Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (1/2/2019). (Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Rocky Gerung memang bukan seorang artis. Tapi kunjungannya ke berbagai daerah selalu mendapat sambutan hangat. Kendati tidak seheboh kunjungan artis Hollywood, Matt Damon ke Indonesia. Kunjungan Rocky ke daerah selalu disambut kerumunan mahasiswa.

Pada era Yunani Kuno, Protagoras (490-420 SM) juga sering berkeliling Yunani. Ketika tiba di Athena, sofis pertama yang dikenal sebagai pendebat ulung di masa itu selalu disambut para pemuda. Ini tidak lain karena Protagoras senang berbagi ilmu dengan pemuda.

Rocky juga begitu. Saat berkunjung ke daerah, pria yang pernah menjadi dosen filsafat UI selama 15 tahun ini selalu memberikan kuliah umum di berbagai kampus. Seperti Protagoras, ternyata Rocky juga menginspirasi generasi muda.

Nama Rocky Gerung sebenarnya sudah dikenal lama dikalangan intelektual negeri ini. Namanya semakin mencuat ketika pria yang hoby mendaki gunung ini berhasil mencuri perhatian pemirsa televisi yang mengikuti program talkshow ILC di TVOne.

Di acara yang dipandu Karni Ilyas itu, Rocky memperlihatkan kehebatannya berbicara. Apalagi Rocky sangat menguasai retorika yakni ilmu berbicara yang pertama kali diperkenalkan kaum sofisme di era Yunani Kuno.

Saking hebatnya, hampir di setiap acara ILC, Rocky terlibat perdebatan "bertengking" dengan narasumber lainnya.  Pilihan diksi yang terkadang terkesan di luar akal sehat seperti "dungu" sudah menjadi kosa kata langganannya.

Di ILC, Rocky Gerung diperkenalkan sebagai pengamat politik. Rocky pun tidak pernah menampik itu. Herannya, hampir semua statemen yang dilontarkan Rocky tidak terkesan sebagai pandangan seorang pengamat politik.

Kritikan dan kecaman Rocky seperti membahasakan kalau dirinya sebagai pihak yang berseberangan dengan pemerintah. "Pengamat dan oposisi itu sama, mengkritik pemerintah," alasan Rocky di sebuah stasiun televisi

Rocky Gerung (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)
Rocky Gerung (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)
Sekali waktu, pria yang sangat disiplin dalam menjaga hak-hak privacy ini melontarkan silogisme yang sangat menghebohkan. " Bila fiksi mengaktifkan imajinasi maka kitab suci adalah fiksi". Silogisme ini berbuntut panjang. Rocky dilaporkan ke polisi

Kasus ini membuat banyak dosen filsafat prihatin. Beberapa hari lalu, sejumlah dosen filsafat dari salah satu perguruan tinggi filsafat di negeri ini berkumpul. Mereka tidak ingin kasus Rocky ini diselesaikan di jalur hukum karena pernyataan Rocky itu pernyataan intelektual yang berada pada ranah akademis.

Kendati begitu, mereka juga tidak setuju dengan berbagai hal yang berpotensi merusak reputasi dan kebeningan filsafat. Pertemuan yang juga menghadirkan salah seorang saksi ahli dalam kasus Rocky itu, sengaja diberi tema menarik, "Menolak Pembusukan Filsafat".   

Untuk kasus Rocky ini, suara sumbang dan menyerang di tengah masyarakat juga ada. Banyak yang mempertanyakan sejauh mana pemahaman Rocky terhadap kitab suci. Mereka sangat tidak yakin Rocky memahami kitab suci, terserah kitab suci manapun juga.

Jika Rocky tidak memahami salah satu kitab suci tentu silogisme yang memuat kitab suci dalam premisnya itu perlu dipertanyakan. Kenapa Rocky harus memilih kitab suci sebagai premisnya. Pandangan ini tentu saja datang dari orang-orang yang memang ingin kasus Rocky diselesaikan di jalur hukum.  

Kalau saja dalam kasus ini, Rocky Gerung dinyatakan bersalah, tentu sangat menyedihkan. Pria dengan popularitas yang tengah memuncak ini akan menerima hukuman dan kehilangan marwah. Ini juga pernah terjadi pada ahli debat Yunani Kuno, Protagoras.

Protagoras adalah salah seorang kaum sofisme terkemuka di masanya. Ia mengajar banyak pemuda di Athena. Ia juga sering mengunjungi polis lainnya. Ini disebabkan Protagoras bukan berasal dari Yunani. Ia berasal dari Abdera, di daerah Thrace di pantai utara Laut Aegea.  

Dalam perjalanan hidupnya, selama 40 tahun waktunya dihabiskan untuk mengajar. Protagoras sangat dihormati. Selain mengajar, Ia juga dikenal sebagai orator dan pendebat ulung. Protagoras bersama kaum sofisme lainnya mengajarkan retorika atau seni berbicara kepada kaum muda Athena.

Athena kala itu baru menjalankan pemerintahan demokrasi. Protagoras dekat dengan penguasa Athena, Perikles. Ia diminta Perikles untuk menyusun naskah konstitusi. Sehingga kala itu, tak satupun akan menyangka nasib buruk menimpanya.

Di penghujung hidupnya, Protagoras mendapat tuduhan yang sulit dimaafkan. Pendebat ulung ini  dituduh melakukan kedurhakaan terhadap agama. Buku-buku Protagoras termasuk karyanya yang sangat terkenal Aletheia (Kebenaran) serta buku tentang agama dibakar di muka umum.  

Konon, merasa cemas dengan amukan massa, Protagoras melarikan diri ke Sisilia. Di perjalanan perahu layar yang ditumpanginya tenggelam. Sampai kini tak satupun karya tulis Protagoras yang tersisa. Hanya beberapa fragmen pendek saja yang masih tersimpan.  

Kendati begitu, filsafat Protagoras masih dapat diketahui karena pemikirannya sering dibahas kaum sofis lainnya dan filsuf selanjutnya. Plato juga sebagai sumber utama pemikiran Protagoras khususnya kedua dialognya yang berjudul Theaitetos dan Protagoras.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2