Mohon tunggu...
Aulia Esanda Luthfia Nashir
Aulia Esanda Luthfia Nashir Mohon Tunggu... Nursing Student, Poetry Enthusiast

Long-life-learner

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Perawat Profesional: Profesi Terdekat Pengganti Keluarga Bagi Pasien COVID-19

17 Mei 2020   23:28 Diperbarui: 18 Mei 2020   00:02 65 0 0 Mohon Tunggu...

Hal pertama kali yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata “perawat” adalah sosok yang identik dengan kata merawat. Lantas muncul kalimat “Apa peran seorang perawat yang sebenarnya?” sebagai pertanyaan. Pada dasarnya, perawat atau nurse berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata “Nutrix” yang berarti merawat atau memelihara. Sedangkan kata “profesionalisme” dalam Berman, Synder, & Frandsen (2016), mengacu pada karakter, semangat, atau metode profesional yang merupakan seperangkat atribut, cara hidup yang menyiratkan tanggung jawab dan komitmen. Dalam Pasal 1 UU RI No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan, menyatakan bahwa pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit. Sedangkan bentuk pelayanan yang diberikan ialah rangkaian interaksi perawat dengan klien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian klien dalam merawat dirinya yang dikenal dengan istilah asuhan keperawatan (Budiono, 2016). Dengan kata lain, profesionalisme perawat di sini ialah lebih dari sekadar merawat, namun juga memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan memperhatikan segala aspek kehidupan klien itu sendiri, yakni secara holistik (biologis, psikologis, sosial, dan budaya) (Potter & Perry, 2017).

Keluarga, menjadi sebuah kata yang memiliki makna mendalam bagi siapapun pelaku sejarah pandemik COVID-19. Kata “keluarga” dalam salah satu teori Friedman (2013) adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional, di mana setiap individunya mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga. Dalam Friedman (2013) juga, menurut Bussard dan Ball (1996), keluarga merupakan lingkungan sosial yang sangat dekat hubungannya dengan seseorang. Sedangkan pandemik COVID-19 merupakan padanan kata “pandemik” yang menurut KBBI (2016) berarti penyakit yang tersebar di mana-mana dan “COVID-19” yang menurut WHO (2020) merupakan akronim dari Coronavirus Desease 2019 yang vibe nya sedang naik daun dan baru nge-trend di tahun 2019-2020 ini. Siapa sangka, COVID-19 yang bermula menjangkit di masyarakat Tiongkok yang diduga disebabkan oleh gaya hidup masyarakatnya yang kurang baik, salah satunya suka memakan binatang kelelawar ini, ternyata juga menjangkit di hampir seluruh negara di bumi ini. Virus yang bermutasi dengan cukup cepat ini, mengharuskan penduduk di seluruh dunia untuk semakin gencar melakukan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi untuk menjaga imunitas, rajin mencuci tangan, menggunakan masker hidung dan mulut ketika berpergian, hingga melakukan social atau physical distancing untuk beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan sesuai anjuran WHO (World Health Organization) (2020). Sehingga, bagi siapa saja yang terjangkit virus ini, diwajibkan untuk isolasi dan karantina, baik di rumah sakit khusus penyakit menular atau di rumah sendiri.

Di tengah kondisi pandemik yang seperti ini, mayoritas penduduk tentu meng-iya-kan bahwa situasi ini merupakan situasi yang sulit, baik bagi jiwa-jiwa yang di rumah saja, sosok-sosok yang terjangkit virus ini dan harus diisolasi, ataupun bagi tenaga kesehatan sebagai garda terdepan. Di sinilah, peran perawat yang ternyata begitu besar dan amat berjasa perlahan-lahan baru mulai terlihat bagi banyak orang. Ketika klien (pasien) COVID-19 dirawat di rumah sakit dengan keadaan lemah tak berdaya yang membutuhkan banyak dukungan dan dorongan, keluarga bahkan orang terkasih mereka pun tidak berdaya juga untuk sekadar menjenguk klien tersebut. Maka, secara tidak langsung, perawat lah orang terdekat klien (pasien), orang yang paling sering bertemu dan berinteraksi dengan klien, dan perawat juga yang mengemban amanah untuk memulihkan kesehatan klien, baik secara fisik maupun secara psikis hingga klien dapat merawat dirinya sendiri seperi sedia kala (Shihab, 2020). Dengan kata lain, seperti teori yang disebutkan sebelumnya, perawat profesional lah sebagai profesi terdekat pengganti keluarga bagi pasien COVID-19 yang merawat dengan tulus, bahkan rela meninggalkan keluarganya di rumah hingga tidak bertemu untuk sementara waktu hingga pandemik mereda.

Dalam proses pemberi asuhan keperawatan inilah caring berperan begitu besar berdampingan dengan curing yang dilakukan oleh seorang Perawat dalam menangani pasien COVID-19. Caring, lebih dari sekadar “peduli”, dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada, menunjukkan perhatian, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi yang merupakan kehendak keperawatan (Potter & Perry, 2017).  Dalam hal ini, caring merupakan sentral praktik keperawatan di mana caring merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis dan positif dalam meningkatkan kepedulian perawat terhadap klien (pasien). Caring juga dapat memengaruhi cara berpikir, perasaan dan perbuatan seseorang. Menurut Swanson (1991) dalam Berman et al (2016), implementasi perawat dalam melakukan caring dapat diterjemahkan dengan lima kategori, yakni knowing (memahami suatu peristiwa), being with (hadir secara emosional bagi orang lain), doing for (melakukan hal lain seperti melakukan pada diri sendiri), enabling (memfasilitasi perjalanan orang lain melalui transisi kejadian dan kehidupan tidak biasa), dan maintaining belief (mempertahankan keyakinan pada kemampuan orang lain untuk melewati peristiwa dan menghadapi masa yang akan datang.

Berdasarkan uraian di atas, jelas begitu terlihat peran perawat sebagai pahlawan tanpa jubah sekaligus profesi terdekat pengganti keluarga yang setia mendampingi klien (pasien) terutama pasien COVID-19 ini dengan pelayanan asuhan keperawatannya yang optimal. Melihat fenomena ini, rasanya jiwa-jiwa kemanusiaan kita turut bergejolak hingga menembus nalar-nalar yang terkadang sangat sulit diterima oleh akal sehat, mengingat peristiwa ini cukup langka dan sangat jarang sekali kita temukan. Senyum ikhlas tanpa pamrih yang menghiasi helm APD (Alat Pelindung Diri) seorang perawat yang begitu panas dan melelahkan, tak menyurutkan semangat perawat-perawat dunia dan Indonesia untuk terus berdedikasi bagi negeri ini. Dengan demikian, profesionalisme perawat sebagai profesi terdekat pengganti keluarga bagi pasien COVID-19 merupakan hal mulia yang perlu kita lihat lagi lebih dekat dan terus kita support lagi lebih semangat. Sehingga, perawat-perawat di Indonesia dan dunia bisa terus mengepakkan sayap-sayap malaikatnya demi pulihnya bumi dan terwujudnya pelayanan kesehatan di Indonesia dan dunia yang lebih baik lagi.

 

 

Daftar Pustaka

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentas of 

Nursing: concepts, process, and practice. 10th Edition. US: Pearson Education.

BPK RI. (2014). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x