Mohon tunggu...
Erick Iskandar
Erick Iskandar Mohon Tunggu... Trainer I Coach I

Helping People Flourish. Founder of Lighthouse Training. https://lighthousetraining.org

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Belajar "Melepaskan"

11 Juni 2021   06:00 Diperbarui: 11 Juni 2021   09:57 75 7 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar "Melepaskan"
Ilustrasi well being in the office (melindasleadership.com)

Para pebisnis professional dalam kehidupan kompetitif saat ini sering menempatkan diri sebagai “Pengendali” atas banyak hal. Mulai dari mengendalikan anak buah, operasional bisnis, visi masa depan, pengelolaan asset, target profit, bahkan sampai mengendalikan anggota keluarga di rumah. Kita diajarkan untuk bekerja keras mencapai impian dan mengontrol banyak hal untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Di sisi lain ada banyak hal yang di luar kendali kita yang dapat terjadi pada kita yang bisa jadi sangat tidak kita harapkan, bahkan menyakitkan. Terhadap hal ini, kita perlu bertindak untuk “melepaskan”.

“Let Go” artinya melepaskan diri kita dari beban kesalahan dan kegagalan masa lalu dengan tetap mengingat pelajaran yang didapatkan darinya. “Let go” juga artinya melepaskan kekhawatiran akan apa yang akan terjadi di masa depan.

Ketika pemimpin atau karyawan menjalani pekerjaan sehari-harinya dengan beban kesalahan masa lalu ataupun ketakutan akan kegagalan masa depan, maka ia seakan membawa tumpukan berat dalam dirinya yang membuat ia hanya dapat berjalan tertatih-tatih tanpa mampu lari untuk melesat. Hal ini tentu akan menghambat produktivitas dan engagement dalam organisasi.

Toni adalah seorang Sales Manager dari perusahaan konsultasi ternama. Tiga bulan yang lalu ia ditunjuk untuk menjadi penanggung jawab event expo perusahaannya yang diselenggarakan secara outdoor, dimana sekitar 200 vendor, konsultan, dan calon klien akan hadir. Lokasi outdoor dipilih oleh penanggung jawab sebelumnya karena harga yang relatif murah, dan karena vendor lokasi tidak menyediakan rencana cadangan seandainya terjadi hujan. Dengan semakin mendekatnya hari H, Toni melakukan crosscek terhadap to do list : jumlah peserta 187 orang (check), tenda-tenda makanan (check), entertainment (check), iklan di lokasi strategis (check), melatih staff untuk menyambut tamu (check), perkiraan cuaca hari H (oh no, akan hujan!)

Toni telah berupaya yang terbaik dengan mengendalikan segala sesuatu yang mampu ia kelola untuk menghasilkan event yang berkesan, mulai dari perencanaan event, kerjasama tim, sampai detail teknis pelaksanaan. Namun satu hal yang ia tidak mampu kendalikan adalah cuaca. Dan pada hari H event ternyata terjadi hujan lebat.

Toni punya dua pilihan reaksi : pertama, ia dapat kehilangan emosi, menyalahkan manager sebelumnya, dan marah pada kondisi. Kedua, ia dapat melakukan “Let go”. Ia tentu kecewa dengan terjadinya hujan, namun ia dapat tetap standby untuk mengantarkan payung pada setiap tamu, menawarkan parkir valet, dan menyambut tamu sambil mengajak mereka bercanda.

Sebagai professional, kita tentu terlatih untuk bertindak “mengendalikan”. Tidak kalah penting, kita juga perlu berlatih untuk bertindak “melepaskan / let go”

Let Work and Let Go

Almarhum Stephen R. Covey dalam karya termashyurnya “7 habits of highly effective people”, menyampaikan bahwa pribadi yang proaktif adalah pribadi yang mampu meluaskan “lingkaran pengaruh” nya terhadap kondisi sekitar sehingga memfokuskan diri pada apa yang mampu ia kendalikan dari kondisi sekitarnya. Tidak kalah penting juga, pribadi proaktif adalah pribadi yang mampu menerima kondisi di luar lingkaran pengaruhnya yang bisa jadi menyakitkan dan memilih respin positif terhadap apa yang terjadi padanya.

Kita perlu mengasah kesadaran diri untuk mampu mengenali mana yang menjadi lingkaran pengaruh kita dan kemudian bekerja professional dalam lingkaran pengaruh tersebut. Tidak kalah penting, kita pun perlu menyadari mana yang menjadi kondisi di luar lingkaran pengaruh kita dan mampu melakukan “let go” terhadap hal tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x