Mohon tunggu...
Enik Rusmiati
Enik Rusmiati Mohon Tunggu... Guru

Yang membedakan kita hari ini dengan satu tahun yang akan datang adalah buku-buku yang kita baca

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kebiasaan Ibu Menjelang Lebaran

3 Juni 2019   04:21 Diperbarui: 3 Juni 2019   06:20 0 7 2 Mohon Tunggu...
Kebiasaan Ibu Menjelang Lebaran
TribunSolo.com

Lebaran kurang satu hari, jadi ingat kebiasaan emak beberapa tahun yang lalu, sebelum beliau dipanggil menghadap yang maha Kuasa. Diantara empat saudaraku, hanya aku yang tinggal jauh di luar kota. Biasanya menjelang lebaran seperti ini, aku dan emak lebih sering kontak melalui telepon. Sebenarnya yang kami biacarakan tetap sama yaitu seputar sajian dan gupuh idul fitri. Emak selalu menanyakan, kapan mudik, jam berapa, berapa hari, dan yang terakhir ini pertanyaan yang paling aku suka, minta di buatkan makanan apa saja. 

Emak adalah orang yang paling paham dengan makanan kesukaanku, yaitu rengginang rasa trasi dan kripik singkong buatan emak sendiri.  Pernah semua pesananku itu di belikan, tapi sungguh berbeda dengan buatan emak. Mungkin karena ada rasa ketulusan dan keihlasan ya. 

Menurut adik-adikku, seminggu menjelang lebaran, emak sudah disibukkan dengan sajian kesukaanku dan cucu-cucunya. Karena begitu rindunya padaku dan keluarga kecilku, semua makanan yang dikemas rapi, versi emak ndeso tentunya, tidak boleh di makan siapapun sebelum kami datang. Ah, aku layaknya  princes deh bagi emak.

Tidak hanya makanan, emak juga selalu sibuk dengan persiapan menyambut kepulangan keluargaku, mulai camilan, tempat tidur, baju ganti, sampai bekal oleh-oleh yang akan dibawakan untuk kami.

Begitulah gupuh seorang ibu terhadap anak-anaknya yang jauh darinya. Namun tidak semua anak mampu merasakan getaran luapan kasih sayang ibu yang begitu besar itu. Seringkali seorang anak menyepelekan kerinduan orang tua hanya untuk kepentingan pekerjaan yang diperintahkan oleh sang majikan atau sekelumit rizki tambahan di hari raya. Padahal itu semua bila di bandingkan dengan ridho orangtua tidak ada apa-apanya.

Anak itu ibarat jantung hati  kedua yang tumbuh di luar tubuhnya. Orang tua begitu sangat mencemaskan  jantumg hati tersebut berjalan-jalan jauh di luar tubuhnya. Begitu mengkhawatirkan organ kedua tersebut terluka dan sedih. Begitu ingin menyaksikan buah hatinya bahagia, meski tidak selalu ada di sisinya.

Sebegitu buruk perlakuan anak kepada orang tua, mereka akan selalu dengan mudah melupakan dan memaafkan. Orang tua tetap akan mendoakan anak-anaknya selalu dalam kesuksesan dan kebahagiaan. Sampai mereka melupakan kebahagiaannya sendiri. Lalu, apakah kita sebagai anak juga memperlakukan orang tua itu seperti itu? Mari kita tanyakan kepada hati kita.

Orang tua akan menipu kita bila kita tanya tentang keadaan dan kesehatanya, dengan jawaban bahwa dirinya selalu baik-baik saja. Meski sebenarnya hati dan pikiranya selalu tersiksa dengan jarak yang memisahkannya. Sementara kita sebagai anak, sangat bahagia dengan lingkungan baru dan dunia kerja yang begitu besar menyita perhatian kita terhadap orang tua.

Saat ini, ibu-ibu kita pasti sedang menyiapkan tempat dan sajian yang istimewa untuk menyambut kepulangan anak-anakanya. Mengumpulkan recehan untuk membahagiakan cucu-cucunya. Membangun harapan besar untuk sekadar memeluk dan mencium bau wangi buah hati yang sekian waktu terpisah.

Begitu berharganya momen lebaran ini. Aku bayangkan,  sekiranya tidak ada lebaran, mungkin sangat sedikit anak berkunjung untuk sungkem dan memohon maaf kepada orang tua. Bila tiada lebaran, mungkin kita sudah dilenakan oleh pekerjaan dan segela  tetek bengek urusan dunia, dan melupakan orang tua kita.

Maka dari itu, bagi anda yang orang tuanya masih diberi umur panjang, segeralah berkemas untuk memenuhi kerinduan orang tua kita, karena sebenarnya dalam doa-doanyalah kita bisa meraih kesuksesan dan cita-cita kita.

Selamat hari raya idul fitri, selamat menemui surga di telapak kaki ibu dan meraih ridho-Nya.

Blitar, 2 Juni 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x