Endro S Efendi
Endro S Efendi Penulis

Intens mendalami hipnoterapi berbasis teknologi pikiran untuk membantu kualitas hidup manusia pada aspek mental, emosi, dan spiritual. Sehari-hari, aktif sebagai penulis dan wartawan. Aktif menulis artikel di blog pribadi www.endrosefendi.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Gara-gara Lihat Ini, Tubuh Aris Sempat Panas Dingin

17 Januari 2019   11:47 Diperbarui: 17 Januari 2019   13:30 327 0 0
Gara-gara Lihat Ini, Tubuh Aris Sempat Panas Dingin
tribunnews.com

Beberapa hari lalu, saya dikontak salah satu sahabat. Sebut saja namanya Aris. Tentu bukan Aris Idol. Ini pun bukan nama sebenarnya. Dia merasa tidak nyaman, tubuhnya menggigil seketika saat membuka akun media sosial Facebook. "Tiba-tiba muncul foto kenangan 7 tahun lalu sama mantan. Badan saya panas dingin. Saya sampai izin ngga kerja ini," tuturnya.

Berhubung sangat mendesak, saya pun memandu sahabat saya ini melalui panggilan video dan menggunakan The Heart Technique (THT) ciptaan guru saya, Adi W. Gunawan.

Dengan cepat emosi dan perasaan tidak nyamannya langsung turun di level 2, kemudian dinetralisir kembali sampai benar-benar nol atau netral. Setelahnya, diberikan penguatan momen bahagia agar selalu nyaman. Sehingga, ketika nanti tahun depan momen di Facebook itu muncul lagi, sudah netral dan biasa saja.

Fitur momen di Facebook tentu tujuannya baik. Mengingatkan penggunanya untuk mengalami kembali masa lalunya. Yang menjadi persoalan adalah, ketika ternyata fitur momen itu justru menempel pada kejadian traumatic. Hal itu justru membuat tidak nyaman bagi pemilik akun.

Sejatinya, semua kejadian yang dialami setiap individu adalah netral. Yang membedakan adalah, terkadang setiap individu mengisi kejadian itu dengan emosi atau perasaan tertentu. Contoh, ketika sedang di jalan raya dan mendapati jalanan sedang sangat penuh, sejatinya itu adalah netral. Namun, ketika kejadian itu diisi dengan perasaan tidak nyaman, maka setiap kali jalanan penuh, emosi atau perasaan tidak nyaman itu pasti akan muncul. Kenapa? Karena sudah ada program di pikiran bawah sadar bahwa jalanan penuh sama dengan perasaan tidak nyaman.

Begitu pula dengan makanan, sejatinya semua makanan itu netral. Memang ada yang enak dan ada yang kurang enak. Tapi ada lagi yang mempengaruhi yakni emosi dan perasaan ketika makan. Ketika sedang banyak pikiran tidak nyaman, kemudian makan. Saat makan itu terasa rileks, maka jadilah momen makan bukan sekadar kebutuhan, tapi ada emosi agar nyaman dan rileks. Inilah pemicu makan berlebih sehingga menyebabkan tubuh menjadi kurang ideal.

Atau misalnya ketika anak cerewet atau rewel. Padahal, anak mengalami hal itu pastilah ada penyebabnya. Alih-alih mencari solusi untuk penyebab tersebut, anak malah kena marah. Maka sejak saat itu, setiao anak cerewet maka emosi marah akan muncul dengan sendirinya.

Maka ada baiknya, jika bertemu dengan emosi atau perasaan yang tidak nyaman ketika terjadi sesuatu, segera netralisir. Banyak teknik terapi diri yang bisa dilakukan untuk menetralisir perasaan tersebut. Atau jika belum mampu, bisa menghubungi mereka yang paham, termasuk terapis, atau misalnya hipnoterapis.

Jangan biarkan energi terkuras hanya karena emosi atau perasaan tidak nyaman yang tersimpan terus-menerus. Bukankah lebih baik emosi itu digunakan untuk mencapai masa depan?

Mencapai impian atau masa depan memerlukan modal tidak sedikit. Modal paling utama adalah energi atau motivasi. Mereka yang kekurangan energi  atau kekurangan motivasi, bisa dilihat, seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Ibarat kain basah, tak mudah digerakkan hingga kurang mampu diajak bangkit.

Generasi penuh motivasi sangat dibutuhkan di era milenial saat ini. Saat segala sesuatu sudah dimanjakan oleh teknologi, sentuhan semangat dan motivasi dari orang lain tetaplah diperlukan. Sebab jika tidak, itulah yang dilakukan FB melalui momen tadi. Niatnya baik, memunculkan memori penuh kenangan. Tapi FB jelas tidak tahu, jika tidak semua kenangan yang tersimpan di FB itu baik. Ada juga kenangan baik yang kemudian berubah total menjadi kenangan kurang baik.

Ini sekaligus menegaskan, sehebat-hebatnya teknologi, tetap jauh lebih dahsyat sentuhan sesama manusia. Sebab, ada cipta, rasa, karsa yang menjadi domain manusia, yang tidak mudah diserap sepenuhnya oleh teknologi.

Sedekat apa pun berhubungan dengan sesama manusia melalui media maya, tentulah tetap lebih dahsyat berhubungan secara langsung. Itulah kenapa secara fitrah, setiap manusia hendaknya tetap menjalin hubungan secara langsung. Di situlah sentuhan cipta, rasa, dan karsa bisa berlangsung secara intens.

Maka jangan heran, ketika seseorang nge-fans dengan orang lain, energinya akan tiba-tiba bangkit saat kemudian ada kesempatan bertemu langsung. Karena memang itulah dahsyatnya sebuah interaksi secara langsung yang di dalamnya berisi emosi dan perasaan.

Marilah tetap menjadi manusia seutuhnya yang tetap membutuhkan orang lain. Ketika ada yang tidak nyaman, simpel, tinggal dinetralisir saja. Mohon maaf jika pendapat ini salah, karena saya pun masih terus belajar.

Demikianlah kenyataannya. (*)