Mohon tunggu...
Enang Suhendar
Enang Suhendar Mohon Tunggu... Warga sadarhana yang kagak balaga dan gak macam-macam. Kahayangna maca sajarah lawas dan bacaan yang dapat ngabarakatak

Sayah mah hanya warga sadarhana dan kagak balaga yang hanya akan makan sama garam, bakakak hayam, bala-bala, lalaban, sambal dan sarantang kadaharan sajabana. Saba'da dahar saya hanya akan makan nangka asak yang rag-rag na tangkalna.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Rumah Idaman, Apakah Sekadar Impian?

28 Maret 2020   15:53 Diperbarui: 28 Maret 2020   16:18 65 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rumah Idaman, Apakah Sekadar Impian?
Rumah Sederhana | sumber: dekoruma.com

Setelah punya rumah, apa cita-citamu?Kecil saja: Ingin sampai rumah saat senja, supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela."

Sepenggal puisi indah karya Joko Pinurbo diatas menggambarkan tentang betapa setiap kita memiliki cita-cita mempunyai rumah sendiri. Dan setelahnya kita mendambakan hal-hal indah bersama rumah impian kita. Bercengkrama, meminum teh dekat jendela sambil menikmati senja. Ngobrol bersama, menikmati pisang goreng sambil memandangi mentari pagi yang merona, atau menyeruput kopi di beranda rumah dan hal-hal bersahaja lainnya.

Namun memiliki rumah bukanlah hal yang mudah, dihadapkan pada realita dan fakta dilapangan dimana harga rumah setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Melonjaknya harga rumah yang signifikan dirasa tidak berimbang dengan kenaikan gaji pegawai atau penghasilan pekerja setiap tahun. Realitas ini yang mengakibatkan masih banyaknya keluarga yang harapannya akan memiliki rumah belum dapat terwujud.

Wakil Presiden RI yang pertama, Mohammad Hatta pada tahun 1950 membuka Kongres Perumahan Rakyat yang diselenggarakan di Bandung. Dalam Pidatonya Sang Proklamator berkata "Memang tjita-tjita (menyediakan rumah bari rakyat) itu tidak akan tercapai dalam setahun, dua tahun, tidak akan terselenggara semuanja dalam 10 atau 20 tahun. Tetapi dalam 40 tahun atau setengah abad pasti dapat ditjapai, apabila kita sungguh-sungguh..."

Pidato tersebut telah berlalu tujuh dekade silam, pertanyaannya, apakah kebutuhan akan rumah bagi masyarakat khususnya masyarakat berpenghasilan rendah telah berhasil? Jawabannya, tentu saja belum. Hal ini setidaknya tergambar dari statement Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR "81 juta milenial menunggu dirumahkan (memiliki rumah). Mungkin nanti jumlahnya akan meningkat lagi. Ini jadi PR yang serius dan tidak main-main ke depan" demikian disampaikan ketika membuka kegiatan Indonesia Housing Forum di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada bulan Juni 2019.

Pertumbuhan populasi generasi milenal terus bergerak terutama di kawasan kota-kota besar yang menawarkan banyak lapangan pekerjaan dan kawasan industri. Generasi milenal dari berbagai daerah berdatangan ke kota dan menjadi komunitas urban, bak semut yang mendatangi gula. Seiring dengan itu, kebutuhan akan rumah di kawasan kota besar dan kota-kota penyangganya semakin besar. Dan harapan generasi milenal tersebut tentu saja rumah yang layak huni, berkualitas, dengan harga yang terjangkau.

IDN Times pernah merilis sebuah data yang menggambarkan pola, perilaku, sikap, kebiasaan, dan minat generasi milenial. Salah satu isu dalam laporan yang berjudul Indonesia Millennial Report 2019 tersebut adalah kaum milenal yang sering bertanya "Kapan bisa memiliki rumah sendiri?" Hal tersebut dinilai wajar mengingat sebagian besar generasi milenial (generasi yang lahir pada tahun 1980 -- 2000) adalah generasi yang telah berkeluarga, dimana kebutuhan akan rumah menjadi salah satu faktor penting dalam sebuah keluarga.

Saat ini ketika wabah Covid-19 sedang melanda dan pemerintah menggalakan gerakan "di rumah aja" dan program "work from home", maka rumah adalah tempat yang nyaman untuk berlindung diri sekaligus "kantor" yang aman dalam bekerja. Rumah adalah mahligai yang syahdu sekaligus tempat beraktifitas yang teduh. Namun rumah milik sendiri adalah rumah yang penuh dengan romansa rindu.

Rumah memang memiliki tempat tersendiri pada sanubari setiap orang yang memilikinya. Pepatah Bahasa Inggris yang populer menggambarkan rumah tercinta dengan sebutan "home sweet home". Demikian juga pepatah Bahasa Arab, "Baiti Jannati" yang menggambarkan rumah adalah surga.

Semoga dimasa mendatang, pemerintah dapat lebih optimal dalam memfasilitasi kepemilikan rumah khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga harapan memiliki rumah sebagaimana dicanangkan oleh pendiri Republik 70 tahun silam dapat segera terwujud.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x