Mohon tunggu...
muthiah alhasany
muthiah alhasany Mohon Tunggu... Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Tukar Menukar Masakan di Malam Lebaran

12 Mei 2021   17:35 Diperbarui: 12 Mei 2021   17:46 338 19 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tukar Menukar Masakan di Malam Lebaran
Mengirim makanan dengan rantang (dok.pri)

Salah satu tradisi yang selalu dijalankan keluarga kami adalah mengirim makanan ke beberapa tetangga terdekat. Kami tidak membedakan tetangga, yang beragama kristiani juga mendapatkan makanan.

Almarhumah ibunda memang senang berbagi, bukan karena riya atau pamer masakan. Ini adalah tradisi yang diturunkan dari kakek nenek selalu puluhan tahun dan diteruskan oleh ibunda.

H-1 lebaran, tepatnya setelah Ashar, sebagian besar masakan sudah siap. Jadi sekitar pukul lima sore atau menjelang Maghrib, ibu mulai membagikan makanan. Beberapa jenis masakan diwadahi mangkuk kecil, lengkap dengan lontong besar tanpa isi.

Membuat lontong sendiri juga merupakan kebiasaan kami. Ibu membuatnya dalam jumlah banyak, satu dandang besar. Lontong dimasak dengan kompor sumbu selama lebih dari tujuh jam. Dengan begitu lontong terasa legit dan awet selama berhari-hari.

Kami tahu bahwa kebanyakan tetangga hanya membuat ketupat. Jarang sekali yang bisa membuat lontong. Karena itu, sepiring lontong menjadi sajian yang kami bagikan di samping lauk pauknya.

Ada tetangga yang membalas dengan hasil masakannya. Meskipun jenisnya ada yang sama, tetapi cita rasanya bisa berbeda. Ini tergantung 'tangan' yang membuat. Tetapi rerata tetangga memuji bahwa masakan ibu sangat enak.

Saya yang bertugas membawa dan membagikan makanan kepada tetangga. Dengan menggunakan baki (nampan) besar, masakan ditata lalu ditutup dengan serbet atau tisu lebar untuk makanan.

Tetangga sebelah adalah orang Sunda, asli dari Bogor. Maka makanan yang sering dibuatnya adalah tape ketan hitam. Tak lupa juga membuat manisan pala. Dia memiliki pohon pala di kampungnya di Bogor.

Tetangga yang paling gembira mendapatkan kiriman makanan adalah yang beragama kristiani. Kebetulan kami merupakan satu-satunya tetangga yang memberikan makanan kepada mereka. 

Walaupun mereka tidak bisa membalas dengan masakan, tapi tidak menjadi masalah asal mereka bahagia dan ikut menikmati suasana lebaran. Hubungan ibu dengan tetangga yang berbeda agama memang sangat baik. Hal ini menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Sebetulnya ada balasan pertukaran makanan atau tidak, bukan hal penting. Intinya adalah kami berbagi rezeki dan kebahagiaan kepada tetangga, di samping juga menjaga silaturahmi.

VIDEO PILIHAN