muthiah alhasany
muthiah alhasany writer/blogger, traveller, politician. Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Kasus Jamal Khashoggi Menjadi Dilema bagi AS

20 Oktober 2018   18:42 Diperbarui: 20 Oktober 2018   19:18 559 10 3
Kasus Jamal Khashoggi Menjadi Dilema bagi AS
Donald Trump dan Muhammed bin Salman (dok.mee.net)

Arab Saudi adalah sekutu terdekat Amerika Serikat dan Israel. Karena itu tak heran jika Amerika Serikat berusaha membantu Arab Saudi dalam hal apa pun. Termasuk dalam urusan pembunuhan jurnalis terkenal The Washington Post, Jamal Khashoggi.

Meski Arab Saudi telah melaksanakan 'nasihat' Amerika Serikat dalam menyelamatkan kerajaan dengan mengkambinghitamkan dua pejabat intelejen Arab Saudi, bukan berarti permasalahan selesai. Amerika Serikat menghadapi masalah sendiri dengan sikapnya membantu Arab Saudi.

Amerika Serikat menanggung serangan dari berbagai pihak atas terbunuhnya jurnalis tersebut. Khususnya Presiden Donald Trump, yang telah menugaskan Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri, untuk membantu Pangeran Mohammed bin Salman. Trump menghadapi kecaman dari dalam dan luar negeri.

Akibatnya, kasus Jamal Khashoggi menjadi dilema tersendiri bagi Amerika Serikat.  Komitmen Amerika Serikat melindungi Arab Saudi harus tetap dijalankan. Tetapi Amerika Serikat harus memperhitungkan posisinya di dunia internasional.

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, Pompeo kembali dari Arab Saudi dengan mengantongi 100 Milyar Dolar AS. Uang itu untuk 'jatah preman', membayar Amerika Serikat guna mendukung invasi Arab Saudi ke beberapa negara Timur Tengah lainnya. Karena itu Amerika Serikat tidak bisa mengelak dari kewajiban melindungi Arab Saudi.

'Jatah preman' itu merupakan salah satu pemasukan yang cukup besar bagi Amerika Serikat. Terlebih pada situasi ekonomi yang sedang memburuk dimana Amerika Serikat berkutat dalam perang dagang  dengan Cina.  Amerika Serikat membutuhkan uang dari Arab Saudi.

Namun Donald Trump harus dihadapkan pada kenyataan, tidak semua pihak di dalam negeri mendukung dirinya. Serangan yang ditujukan padanya bukan hanya berasal dari The Washington Post dan The New Tork Times.  Senat Amerika mulai memberikan teguran kepada Donald Trump.

Misalnya Lindsay Graham, anggota senat AS dari komite senjata dan peradilan menganjurkan Trump untuk memberi hukuman kepada Putra Mahkota Pangeran Muhammed bin Salman. Ia menilai Putra Mahkota adalah orang ambisius yang sangat berbahaya, dapat menjerumuskan Amerika Serikat dalam situasi yang sulit.

Sedangkan anggota partai Demokrat, Dianne Fienstein, menyebutkan bahwa MBS (Muhammed bin Salman) telah melakukan pelanggaran yang tak dapat diterima. Apalagi pembunuhan Jamal Khashoggi terjadi di gedung konsulat Arab Saudi.

Sementara itu gerak Amerika Serikat juga dipantau oleh setiap negara negara sekutu. Dalam hal ini, jika Amerika Serikat terlalu condong membela kerajaan Arab Saudi, akan ada efeknya untuk kesepakatan-kesepakatan yang lain, dalam bidang politik dan ekonomi.

Komisi Hak Asasi Manusia PBB juga akan terjun langsung untuk menyelidiki pembunuhan Jamal Khashoggi. Tim PBB independen, terlepas dari perjanjian tiga negara yang menyetujui penyelidikan bersama, yaitu Turki, Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Jika PBB berhasil menemukan keterlibatan kerajaan pada pembunuhan jurnalis tersebut, bukan tidak mungkin akan memberikan sanksi tersendiri. Kecuali Amerika Serikat menggunakan 'taringnya' dalam hak veto untuk menyelamatkan Arab Saudi.