muthiah alhasany
muthiah alhasany writer/blogger, traveller, politician. Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Inilah Sebab Erdogan Memajukan Pilpres Tanggal 24 Juni 2018

20 April 2018   19:00 Diperbarui: 22 April 2018   10:30 2734 9 4
Inilah Sebab Erdogan Memajukan Pilpres Tanggal 24 Juni 2018
Erdogan mengumumkan pilpres (dok.AK Parti)

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan secara mengejutkan telah mengumumkan akan menyelenggarakan Pemilihan Presiden pada tanggal 24 Juni mendatang pada sebuah konferensi pers kemarin di Ankara. Padahal secara normal, pemilihan presiden ini baru akan berlangsung pada 3 November 2019. Keputusan Erdogan diambil setelah pertemuan dengan Deviet Bahceli, ketua Partai Gerakan Nasionalis (MHP).

Bahceli memang merekomondasikan agar pemilihan presiden dipercepat. Ia mengusulkan agar pemilihan itu diadakan pada bulan Agustus, tetapi Erdogan justru memajukannya menjadi 24 Juni. Pengumuman tentang percepatanan pemilu tersebut mengagetkan banyak pihak karena selama ini belum pernah terjadi.

Ada beberapa alasan yang mendasari keputusan Erdogan, antara lain;

Pertama, Turki masih menjalankan pemerintahan dalam sistem lama. Sistem ini dianggap memberi celah bagi kelompok oposisi dan kelompok separatis untuk melakukan upaya pemberontakan. Sebagaimana diketahui, Turki mengalami kudeta pada bulan Juli 2016 yang sempat melumpuhkan Istanbul dan menimbulkan korban jiwa. Kudeta itu menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Karena itu pembaruan sistem menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas negara. Terutama dalam hal ini adalah perubahan konstitusi yang tidak mendukung program pemerintahan yang dipimpin Erdogan. Sistem presidential yang sekarang dijalankan justru telah mendapat banyak kritik dan dianggap tidak sesuai oleh pihak oposisi.

Kedua, untuk mengamankan Turki yang menghadapi persoalan kompleks. Misalnya dalam menyelesaikan masalah terorisme, rongrongan organisasi komunis PKK di Afrin dan sekitarnya, juga masalah konflik Suriah. Semua masalah ini harus diselesaikan dengan hati-hati karena melibatkan banyak faktor. Dan hanya Erdogan yang bisa menanganinya karena sudah memahami sejak awal.

Pemilu yang dipercepat akan lebih memantapkan kebijakan-kebijakan Erdogan dalam persoalan-persoalan tersebut. Erdogan bisa melanjutkan rencana-rencananya terkait dengan masalah-masalah di atas sehingga tidak timbul kontradiksi yang bisa membahayakan pemerintahannya. Erdogan bisa lebih tenang dan fokus menyelesaikan masalah-masalah itu.

Ketiga, Erdogan bersiap menghadapi masalah besar yang bisa timbul sewaktu-waktu yaitu Perang Dunia Ketiga. Jika pasukan koalisi Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Arab Saudi benar-benar nekad menyerang Suriah, bisa dipastikan bahwa Rusia dan Iran akan bereaksi keras. Posisi Turki yang bersebelahan dengan Suriah akan terkena dampaknya.

Erdogan harus memikirkan cara untuk menyelamatkan negaranya sendiri dari pengaruh perang antara kubu Barat dengan Timur. Melindungi Turki adalah prioritas Erdogan daripada mendukung salah satu kubu yang saling memperebutkan wilayah Suriah. Karena itu Erdogan harus memperkuat kedudukannya sebagai Presiden.

Dengan keputusan Erdogan untuk memajukan pemilihan presiden, maka Dewan Pemilihan Tertinggi hanya memiliki waktu 60 hari untuk melakukan persiapan. Pemilihan awal akan segera dilaksanakan. Tetapi sebelum itu RUU tentang pemilu lebih dahulu diajukan ke parlemen. Mereka melakukan gerak cepat agar untuk menyelenggarakan pemilu pada tanggal 24 Juni nanti.

Sementara itu, partai oposisi CHP sangat terkejut dengan pengumuman tersebut. Walau begitu, partai ini menyatakan siap untuk mengikuti pemilihan presiden pada tanggal 24 Juni. Bahkan juru bicara CHP, Bulent Tezcan mengatakan CHP tetap siap meski pemilu dilakukan dalam beberapa hari ini.

Di sisi lain, CHP menuduh bahwa percepatan pemilu karena pemerintahan Erdogan mengalami kebuntuan. CHP juga mengkritik peyelenggaraan pemilu itu tidak mempertimbangkan adanya ujian nasional dalam waktu yang berdekatan. CHP menganggap Erdogan tergesa-gesa mengambil tindakan.

Ketua partai CHP, Kemal Kilicdaroglu menegaskan partainya telah siap mengikuti pemilu walau belum menetapkan calon presiden yang akan diajukan. Ia yakin CHP akan meraih kemenangan atas AK parti dan MHP dan menyebut bahwa tahun 2018 ini adalah tahun demokrasi dimana dominasi AK Parti akan ditumbangkan.

"Erdogan akan kalah. Dia akan mendapatkan pelajaran demokrasi," kata Kemal. Menurut rencana, CHP akan mengumumkan calon pesidennya dalam dua minggu ini. Kandidat yang paling kuat adalah Kemal Kilicdaroglu.

Namun dua lembaga survei di Turki, A & G Research Company dan Andy Ar telah menyimpulkan bahwa Erdogan akan kembali meraih kemenangan dalam pemilihan presiden tersebut. Setidaknya, Erdogan akan memperoleh sekitar 55 % dari suara pemilih