muthiah alhasany
muthiah alhasany writer/blogger, politician. Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

BBM Apa Pilihan Anak Muda, Pertamax, Pertalite atau Premium?

30 Oktober 2017   12:58 Diperbarui: 30 Oktober 2017   13:28 656 6 2
BBM Apa Pilihan Anak Muda, Pertamax, Pertalite atau Premium?
ilustrasi (liputan6.showbiz.com)

Salah satu kelebihan bangsa Indonesia adalah terdiri dari berbagai suku bangsa. Dengan wilayah yang begitu luas dari Sabang sampai Merauke, maka Indonesia termasuk negara yang berpenduduk terbanyak di dunia setelah China dan India.

 Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 250 juta orang, maka ada berbagai tingkatan sosial dan golongan. Ada milyader dengan kekayaan berlimpah dan ada pula yang tidak mempunyai tempat tinggal dan kehidupan yang layak. Siapapun yang memimpin pemerintahan di negeri ini, haruslah bisa mengayomi setiap warga negara tanpa kecuali.

Perbedaan tingkat perekonomian bisa menjadi sangat menyolok, baik di kota-kota besar maupun di kampung. Namun semua memiliki cara masing-masing untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan berdampingan secara damai. Setiap golongan sosial mempunyai kebutuhan yang berbeda disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi.

Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti sembako juga berbeda. Ada yang mampu menyediakan makanan yang mahal dan mewah, ada pula yang hanya sekedar nasi dengan lauk sederhana. Contoh lain adalah penggunaan BBM di lingkungan keluarga atau lingkungan tempat tinggal.

Anak-anakmuda
Para pemuda pada dasarnya memiliki pola hidup yang mirip. Mereka senang bergaya untuk menarik perhatian siapa saja. Salah satu alat untuk bergaya adalah memiliki kendaraan bermotor. Bagi mereka yang mampu, tentu mempunyai kendaraan roda empat. Sedangkan yang pas-pasan, cukup dengan roda dua, itupun masih terbagi lagi dengan jenis kendaraannya.

Umpamanya keponakan-keponakan dari kakak saya yang tinggal berdekatan. Salah seorang kakak hidup dalam tingkat perekonomian yang lebih baik.  Anak-anaknya dibelikan satu motor satu orang. Anak tertua, keponakan laki-laki, sebutlah si A, motornya paling bagus, Honda Vixion.

Sementara salah satu kakak saya hidup dalam tingkat perekonomian yang pas-pasan. Dengan dua anak laki-laki yang juga butuh eksis dalam pergaulan. Mereka juga dibelikan motor, bedanya adalah motor itu motor seken yang murah. Entah tahun berapa keluarnya, saya tidak begitu memerhatikan.

Tentu saja dalam merawat motor keponakan-keponakan saya berbeda, sesuai dengan motor yang dimilikinya. Keponakan yang memiliki motor bagus, rajin membawa motornya ke bengkel secara berkala, antara lain untuk turun mesin, ganti oli, dsb. Bahkan dia juga mencucinya di tempat pencucian motor.

Dalam persoalan mengisi bahan bakar, keponakan saya itu juga tidak sembarangan. Pernah ketika saya membonceng motornya, saya perhatikan dia mengisi dengan Pertamax. Lantas saya bertanya kepadanya.

"Apa selalu diisi dengan Pertamax?" 

"Iyalah, Tante. Jenis motor ini harus pakai Pertamax. Kalau diisi dengan bensin biasa, nanti mesinnya cepat rusak," jawabnya.

"Tapi kan harganya lebih mahal," tukasku.

"Ah, Tante. Mahal sedikit nggak apa-apa daripada motor rusak, malah ke bengkelnya lebih mahal,"

Motor miliknya memang enak diajak berlari di jalan raya. Tanpa banyak guncangan, meluncur mulus dengan kecepatan tinggi. Karena lajunya cepat, maka tiba di tempat tujuan dalam waktu singkat.

Saya mengangguk-angguk, baru mengerti. Maklumlah, kebanyakan perempuan tidak mengenal terlalu dalam soal mesin kendaraan. Tahunya hanya ingin berhemat dalam setiap kesempatan.

Namun hal yang berbeda dilakukan keponakan yang satu lagi. Ia lebih suka membeli Premium yang lebih murah daripada Pertamax.

"Kok nggak diisi Pertamax?" tanya saya

"Nggak cukup duitnya, tante. Lagipula ini kan motor butut, nggak perlu bensin yang bagus-bagus amat," katanya. "Nanti kalau ada duit lebih, baru isi dengan Pertamax."

sumber gambar: Kompas.com
sumber gambar: Kompas.com

Saya mengerti, dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan maka beberapa ribu rupiah menjadi sangat berharga. Lebih baik membeli beras dan lauk pauknya ketimbang membeli Pertamax.

Walau begitu, seperti kata dia, kalau ada uang lebih ia membeli bahan bakar yang lebih bagus. Setidaknya jenis Pertalite yang harganya tidak semahal Pertamax. Jadi ia tidak merasa rugi jika uang jajannya berkurang untuk bahan bakar.

Begitulah kenyataan yang harus dihadapi masyarakat Indonesia pada umumnya. Kebutuhan hidup, termasuk bahan bakar harus disesuaikan dengan kondisi perekonomian masing-masing. Tentu ini bukan kehendak mereka. Kalau bisa lebih baik, mengapa memilih yang kurang bagus. Mudah-mudahan hal ini memacu para pemimpin kita untuk bekerja lebih keras dalam menyejahterakan rakyat agar bisa hidup layak.

Untungnya, Pertamina memproduksi beberapa jenis bahan bakar. Hal itu ternyata sangat berarti bagi pengguna kendaraan dari kelas atas hingga kelas terbawah. Apalagi yang memiliki kendaraan roda empat, dengan jenis dan harga yang bervariasi pula.

Sebenarnya ada lima produk Pertamina yang bisa disesuaikan dengan 'isi kantong' pengguna kendaraan seperti para pemuda seusia keponakan-keponakan saya.

  • Pertamina Racing, biasanya digunakan oleh para pembalap dengan RON 100
  • Pertamax Turbo, kadang juga dipakai pembalap, tapi lebih banyak mobil mewah dengan RON 98
  • Pertamax, telah banyak digunakan masyarakat golongan menengah, baik untuk mobil atau motor, dengan RON 92
  • Pertalite, lebih fleksibel baik harga maupun kualitas, dengan RON 90
  • Premium, dengan RON di bawah standar terendah (90) sebenarnya kurang layak digunakan.

Fakta menunjukkan bahwa di negara-negara maju, tidak ada lagi BBM yang di bawah RON 90. Namun dengan tingkatan golongan ekonomi penduduk Indonesia, hal itu sulit dilaksanakan, kecuali secara berangsur-angsur. Itu pun dengan harapan meningkatnya kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Muthiah Alhasany

twitter dan instagram : @muthiahalhasany