Mohon tunggu...
Emil Siallagan
Emil Siallagan Mohon Tunggu... Mahasiswa Tugas Belajar -

"Calon Kasubsi"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pelajaran yang Dapat Kita Petik dari Peristiwa Parada Toga

14 April 2016   00:23 Diperbarui: 14 April 2016   01:15 141 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Sebelumnya saya mengucapkan belasungkawa yang teramat dalam atas berpulangnya salah seorang abdi negara yang menghembuskan nafas terakhrnya saat sedang menjalankan tugas, saudara Parada Toga Fransriano S dan rekan beliau Soza Nolo Lase. Beliau merupakan ASN yang bertugas sebagai juru tagih pajak pada KPP Sibolga dan rekannya adalah seorang tenaga harian di kantor tersebut.Ditengah gencar-gencarnya pemerintah meningkatkan pemasukan dari sektor pajak,justru yang diperoleh adalah kabar dukacita. Kesedihan pasti sangata terasa terlebih bagi sang istri yang ditinggalkan saat ini sedang mengandung anak pertama mereka, keluarga besar beliau dan segenap lingkungan DIRJEN Pajak.

Seperti kita ketahui bersama, beliau meregang nyawa saat menjalankan tugasnya mengantarkan pemberitahuan pajak terutang kepada salah seorang wajib pajak (WP) di kota Gunungsitoli. Namun tragis, sang WP yang kalap mendengar jumlah utang yang ditagihkan  seketika berubah menjadi seorang malaikat pencabut nyawa.Bukan hasil yang mereka dapatkan melainkan nyawa yang melayang.

Kebetulan saya merupakan ASN salah satu instansi vertikal yang ditempatkan di kota ini. Boleh dibilang saya sudah sedikit paham dengan pola pikir dan sikap hingga bagaimana cara menghadapi warga disini.Memang sebagai pelayan masyarakat mewajibkan  saya setiap hari beresentuhan langsung dengan masyarakat dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Seperti kata pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijinjing, saya juga harus bisa menyesuaikan sikap saya dengan orang-orang disini.Saya mencoba mempelajari bahasa dan adat istiadat mereka dan mereka dengan senang hati mengajari.Untuk itu dengan adanya kejadian ini, saya berharap semoga tidak muncul stereotip bahwa semua masyarakat disini berperilaku yang sama seperti wajib pajak pencabut nyawa itu.

Terlepas dari bagaimana kronologis kejadian hingga apa hukuman yang paling tepat bagi si pencabut nyawa, ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari kisah tragis ini.Terutama bagi rekan-rekan sesama pelayan masyarakat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di lapangan.

Beberapa pihak sempat menyesalkan kenapa saat mendatangi wajib pajak tidak mendapatkan back up dari pihak keamanan atau setidaknya mengajak pihak kepala desa atau kepala dusun untuk mendatangi sang WP. Sebenarnya yang beliau lakukan dalam menjalankan tugas sudah sesuai prosedur karena tugas beliau hanyalah mengantarkan surat pemberitahuan sehingga tidak perlu membawa pihak keamanan ataupun melapor ke pihak desa.Lain hal apabila akan dilakukan penyitaan, maka secara proseduralral wajib melibatkan pihak keamanan.Terlepas dari semua itu, para pelayan masyarakat utamnya yang terjun langsung ke lapangan juga harus mengutamakan keselamatan karena kita tidak tahu karakter orang yang akan berhadapan dengan kita.

Pekerjaan melayani masyarakat banyak jenisnya, mulai dari pelayanan kesehatan, pepajakan, kesehatan, statistik, pembangunan, pertanahan dan lainya.Kita pun sadar apabila  pekerjaan memiliki resiko masing-masing, namun menurut saya pekerjaan sipil yang paling beresiko tinggi adalah yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. 

Anggapan bahwa ASN itu belum bisa melayani masyarakat danminta dilayani masih kentara hingga saat ini, terbukti dengan masih banyak masyarakat yang enggan berurusan dengan birokrasi. Lagipula dalam menghadapi masyarakat di lapangan kita tidak bisa menseragamkan setiap orang karena banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kedewasaan berpikir dan juga kontrol emosi dari masyarakat.Sebagai ASN kita harus arif dalam menjalankan tugas yang sudah menjadi tanggung jawab kita,arif dalam hal ini adalah dapat menjalankan tugas dengan baik tanpa harus menimbulkan gesekan dengan masyarakat.

Pekerjaan perpajakan mungkin salah satu yang beresiko, karena pekerjaan ini berkaitan langsung dengan uang.Memang jika kita membicarakan uang apalagi masalah hutang merupakan hal yang sangat riskan. Bayangkan apabila dari kantor pajak sudah menyurati WP namun tidak ada itikad baik dari saang WP, maka salah seorang petugas penagih pajak harus turun langsung menghadapi sang pengemplang tadi. Disinilah letak resiko pekerjaannya, petugas tidak tahu karakter seperti apa yang akan dihadapi dilapangan.

Apabila WP yang dihadapi berbesar hati dan beritikad baik, akan datang ke kantor misalnya untuk bersama-sama mecari solusi atas masalah yang dihadapi maka amanlah si petugas. Lantas jika yang ditemui adalah orang dengan sumbu pendek alias tidak dapat mengontrol emosi,maka semakin terasa beratlah tugas yang dijalankan. Caci maki dari warga mungkin akan terlontar namunyang lebih parah apabila tanpa babibutiba-tiba menyerangseperti yang dialami saudara Parada Toga, memilukan memang.Saya berpikir apabila WP perorangan saja bisa melakukan hal nekat seperti itu, bagaimana dengan WP yang hutang perusahaannya mungkin sampai trliunan. 

Selain perpajakan saya juga sedikit menceritakan kisah pekerjaan saya saat masih melaksanakan tugas di bidang pengukuran. Pengukuran yang saya kerjakan adalah mengukur batas bidang tanah untuk memperoleh informasi fisik bidang tanah tersebut meliputi letak,luas dan bentuk.Umumnya masalah yang ditemui adalah masalah batas bidang tanah,namun terkadang kasus jual beli bermasalah,penyerobotan dan juga sengketa waris.Tidak jarang kami memperoleh perlakuan tidak menyenangkan dari masyarakat,terutama jika tanah yang kami ukur adalah tanah bermasalah. Permasalahan yang sering terjadi adalah tentang batas tanah, utamanya pemasangan patok.

Dalam dunia pengukuran kami mengenal asas contradictur delimitate yaitu semua tetangga yang berbatasan harus hadir dan menetapkan batas tanah secara bersama jika yang bersangkutan tidak dapat hadir maka dapat diwakili oleh orang yang mengerti dengan kondisi fisik di lapangan. Namun tidak semua proses penentuan dan pengukuran batas bidang berjalan mulus, terkadang malah berjalan alot mulai dari adu mulut hingga saling menempelkan parang pada perut lawannya. Hal-hal seperti itu sudah beberapa kali saya alami langsung,bahkan mereka juga mengancam kami sehingga pekerjaan tidak dapat dilanjutkan.komunikasi adalah cara utama , namun apabila kami sudah merasa nyawa kami  terncam maka kami meneyerahkan kepada masyarakat untuk menyelesaikannya secara kekeluargan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan