Mohon tunggu...
Lingkungan

#LCZeroFoodWaste, Kurangi Sampah Makanan dengan Maggot

5 Mei 2019   15:48 Diperbarui: 5 Mei 2019   15:57 0 0 0 Mohon Tunggu...
#LCZeroFoodWaste, Kurangi Sampah Makanan dengan Maggot
Workshop Budidaya Maggot di Omah Maggot Jogja (Sumber: Dokumen Pribadi).

Akhir-akhir ini, masyarakat mulai resah dengan banyaknya sampah yang dibuang oleh manusia setiap harinya, terutama sampah makanan. Menurut Global Food Sustainability Index di tahun 2016, Indonesia adalah penyumbang sisa makanan nomor dua di dunia. Berangkat dari keresahan tersebut maka komunitas Leaders Community (LC) berusaha untuk mengajak mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk memiliki kepedulian sosial terhadap masalah tersebut. 

LC mengusung tema Zero Food Waste Action sebagai bagian dari Aksi Prapaskah Atma Jogja 2019 dan bekerja sama dengan Omah Maggot Jogja untuk melaksanakan kegiatan workshop budidaya Maggot. Kali ini, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebagai peserta diajak untuk menjaga lingkungan dengan mengurangi jumlah sampah organik, terutama sampah makanan.

Di dalam workshop ini, para peserta diajak untuk mengolah sampah organik dengan belatung yang disebut Maggot. Pada awalnya banyak sekali yang tidak mengetahui apa itu Maggot, sehingga sebelumnya LC mengedukasi para mahasiswa dengan memberikan penjelasan tentang Maggot di Instagram. Maggot sendiri adalah belatung Black Soldier Fly (BSF) yang masih termasuk dalam keluarga lalat. Maggot memakan sampah organik seperti berbagai macam sisa makanan. Sehingga bisa membantu manusia untuk mengurangi jumlah sampah organik yang tidak diolah. Materi workshop disampaikan sendiri oleh pendiri Omah Maggot Jogja, Henri Supranto (65).


Henri Supranto sedang memberikan penjelasan tentang Maggot (Dokumen Pribadi)

"Apabila teman-teman ingin mempelajari tentang Maggot, bisa langsung datang saja. Kami akan menyambut dengan senang hati," ujar Henri kepada peserta. Menurutnya, budidaya Maggot cukup mudah dan murah karena tidak memerlukan teknologi yang canggih dan tidak memakan banyak biaya. Selain itu, Maggot memiliki manfaat sebagai pakan ikan karena memiliki banyak protein.

 


Para peserta yang antusias melihat aktivitas Maggot (Dokumen Pribadi)

Para peserta kemudian diajak berkeliling ke tempat budidaya Maggot dan melihat bagaimana Maggot itu hidup dan berkembang dengan memakan sampah organik. Mereka terlihat antusias dalam mengikuti serangkaian kegiatan workshop dan mendapat ilmu untuk mengolah sampah organik dengan Maggot. Harapannya dari acara ini adalah semoga masyarakat terutama mahasiswa bias memakan sesuai dengan porsinya agar tidak ada sisa makanan yang terbuang. Selain itu, budidaya Maggot bisa dijadikan alternatif bagi masyarakat untuk mengolah sampah makanan sehingga bisa mengurangi limbah organik. 

 



Akhir-akhir ini, masyarakat mulai resah dengan banyaknya sampah yang dibuang oleh manusia setiap harinya, terutama sampah makanan. Menurut Global Food Sustainability Index di tahun 2016, Indonesia adalah penyumbang sisa makanan nomor dua di dunia. Berangkat dari keresahan tersebut maka komunitas Leaders Community (LC) berusaha untuk mengajak mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk memiliki kepedulian sosial terhadap masalah tersebut. 

LC mengusung tema Zero Food Waste Action sebagai bagian dari Aksi Prapaskah Atma Jogja 2019 dan bekerja sama dengan Omah Maggot Jogja untuk melaksanakan kegiatan workshop budidaya Maggot. Kali ini, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebagai peserta diajak untuk menjaga lingkungan dengan mengurangi jumlah sampah organik, terutama sampah makanan.

Di dalam workshop ini, para peserta diajak untuk mengolah sampah organik dengan belatung yang disebut Maggot. Pada awalnya banyak sekali yang tidak mengetahui apa itu Maggot, sehingga sebelumnya LC mengedukasi para mahasiswa dengan memberikan penjelasan tentang Maggot di Instagram. Maggot sendiri adalah belatung Black Soldier Fly (BSF) yang masih termasuk dalam keluarga lalat. Maggot memakan sampah organik seperti berbagai macam sisa makanan. Sehingga bisa membantu manusia untuk mengurangi jumlah sampah organik yang tidak diolah. Materi workshop disampaikan sendiri oleh pendiri Omah Maggot Jogja, Henri Supranto (65).


Henri Supranto sedang memberikan penjelasan tentang Maggot (Dokumen Pribadi)

"Apabila teman-teman ingin mempelajari tentang Maggot, bisa langsung datang saja. Kami akan menyambut dengan senang hati," ujar Henri kepada peserta. Menurutnya, budidaya Maggot cukup mudah dan murah karena tidak memerlukan teknologi yang canggih dan tidak memakan banyak biaya. Selain itu, Maggot memiliki manfaat sebagai pakan ikan karena memiliki banyak protein.

 


Para peserta yang antusias melihat aktivitas Maggot (Dokumen Pribadi)

Para peserta kemudian diajak berkeliling ke tempat budidaya Maggot dan melihat bagaimana Maggot itu hidup dan berkembang dengan memakan sampah organik. Mereka terlihat antusias dalam mengikuti serangkaian kegiatan workshop dan mendapat ilmu untuk mengolah sampah organik dengan Maggot. Harapannya dari acara ini adalah semoga masyarakat terutama mahasiswa bias memakan sesuai dengan porsinya agar tidak ada sisa makanan yang terbuang. Selain itu, budidaya Maggot bisa dijadikan alternatif bagi masyarakat untuk mengolah sampah makanan sehingga bisa mengurangi limbah organik.