Mohon tunggu...
Elly Suryani
Elly Suryani Mohon Tunggu... Human Resources - Dulu Pekerja Kantoran, sekarang manusia bebas yang terus berkaya

Membaca, menulis hasil merenung sambil ngopi itu makjleb, apalagi sambil menikmati sunrise dan sunset

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mari Renungkan Apa yang Sedang Diajarkan Corona Pada Kita?

5 April 2020   21:18 Diperbarui: 8 April 2020   09:28 822
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Foto: pixabay.com

Sebaik-baik cobaan atau ujian hidup adalah apabila kita bisa mengambil hikmah dan belajar dari hikmah tersebut untuk hidup lebih baik ke depan, katanya. Termasuk soal pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang sedang mewabah secara global ini. Kamu atau saya, pasti sudah punya pandangan sendiri tentang wabah sebab virus corona ini kan?

Saya agak lama merenungkannya. Mungkin ini memang ujian, cobaan atau azab sekalipun. Apapun itu, kita harus belajar dari Pandemi ini. Saya yakin kamu, saya, kita semua sedikit banyak sudah juga memandang dan merenungkan tentang maksud Tuhan memberi kita Pandemi Covid-19 ini.  

Sudah kita rasakan pula bagaimana anak-anak kita libur sekolah dan belajar dari rumah. Termasuk Kemendikbud yang meniadakan Ujian Nasional (UN) tahun ini. Bagaimana rumah selalu riuh dan para ibu kewalahan harus terus memasak dan mencuci piring karena #DiRumahSaja meningkatkan pola makan keluarga. Termasuk para ibu dan ayah yang harus memutar otak supaya anak-anak tidak bosan di rumah dan minggat maen ke luar rumah. Dari nonton film keluarga, bikin pertunjukan (show) kecil-kecilan keluarga dan lain sebagainya.

Sudah kita lihat bagaimana sebagian hari para pegawai mulai dari ASN, BUMN, BUMD sampai perusahaan swasta bekerja dengan jadwal shift-shiftan dalam seminggu. Ada jadwal work from home (WFH) dan ada jadwal work from the office (WFO) alias piket.

Termasuk saya rasakan keluh kesah sebagian para kolega dan kerabat  saya yang harus banting setir mencari pekerjaan baru karena perusahaan meliburkan gaji mereka, bahkan ada yang diPHK.  

Sudah kita rasakan bagaimana menjalankan physical distancing, isolasi diri, mengurangi keluar rumah kecuali sangat diperlukan lebih dari 2 (dua) minggu ini walaupun banyak juga yang belum patuh. 

 Sudah kita rasakan bagaimana kita mengupayakan tindak peningkatan kebersihan individu, keluarga dan lingkungan mulai dari membiasakan mencuci tangan secara benar, menggunakan hand sanitizer saat jauh dari wastafel, memakai masker, mandi bersih dan mencuci semua baju yang dipakai saat pulang dari luar misal dari pasar, kerja (ketika jadwal work from the office alias piket).

Sudah saya lihat juga bagaimana di tengah pandemi ini sebagian kita sibuk menghabiskan waktu di sosial media untuk bukannya saling dukung dan saling bahu membahu demi menanggulangi Covid-19 secara bersama tapi berdebat yang tak perlu, saling serang bahkan sebagian banyak pula yang sibuk menyebar hoax baik karena dia tau itu hoax atau tidak tahu. 

Jadi hari ini mari kita lihat... apa sih yang diajarkan Corona ini untuk kita? banyak. Beberapa hal yang diajarkan Corona ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengajarkan kita untuk latihan kiamat kecil. Rasanya Tuhan mengirimkan wabah Corona ini pada kita untuk kita belajar mengatasi kiamat kecil ini. Bagaimana menjaga diri, menjaga keluarga, bagaimana kita belajar waspada tapi tidak panik dan mendekatkan diri ke Tuhan. Termasuk bagaimana pemerintah baik pusat maupun daerah bergerak cepat dan tangkas. Saya kira ini sudah dilakukan walaupun mungkin belum memuaskan semua pihak.
  2. Mengajarkan kita untuk hidup bersih dan sehat. Jika selama ini kita mungkin abai dan kurang aware soal melindungi diri dari penyebaran kuman dan bakteri, sekarang kita lebih berhati-hati. 
  3. Mengajarkan kita untuk sesekali kita jeda di rumah dan melakukan banyak hal dari rumah. Yang dulu sering bertugas keluar baik luar provinsi mungkin juga luar negeri sekarang tidak boleh alias ditunda melakukan tugas luar. Yang dulu sering traveling kemana-mana sekarang juga menahan diri menunda traveling. Jika dulu menilai kemajuan suatu bangsa adalah bagaimana mobilitas penduduknya. Sekarang situasi memaksa kita untuk memobilekan pikiran kita. Tubuh kita boleh di rumah, kita masih bisa mengirimkan pekerjaan dari rumah bahkan meeting dari rumah. Bahkan berbelanja sayur dan sembako juga bisa dari rumah. Selain beberapa gerai dan mall yang membuka pasar online beberapa usaha baru tumbuh mengisi peluang pasar online ini. Ada kerabat saya sekarang membuka usaha pasar sayuran dan buah online dan mengantar ke rumah pemesan. Bahkan Ujian Nasional (UN) pun ditiadakan tahun ini. Toh tanpa UN siswa bisa tetap menamatkan sekolahnya. Saya  berpikir, mungkin UN yang anggarannya besar (menyiapkan naskah, distribusi naskah ujian, pengawasan UN dsb) itu saatnya juga dievalausi dan dicari solusi sistem standarisasi  kelulusan penggantinya. 
  4. Mengajarkan kita bahwa semua manusia sama di mata corona. Tak pandang bulu, tak pandang gender, tak pandang suku dan agama. Covid-19 menyerang siapa saja dan dimana saja. Menyerang orang kaya, pejabat, orang biasa, orang miskin, laki-laki, perempuan, anak-anak, meski lebih banyak orang tua. Semua orang dan semua pihak harus waspada. waspada tapi tidak panik saya kira.
  5. Mengajarkan kita untuk merenung bahwa di atas langit masih ada langit. Tuhan mengirimkan Corona ini pada kita untuk kita belajar menghadapi wabah secara bersama dan bersatu. Jika bersatu global terlalu luas untuk kita pikirkan, kita lakukan bersatu bangsa demi mengatasi Corona. Jika kita dan bangsa ini tidak bersatupadu, tidak bahu membahu, tidak menggunakan social capital kita untuk sama-sama menanggulangi Corona, kita hanya akan semakin terpuruk dan akan dikalahkan oleh Corona.

Saya belajar untuk memahami situasi dan melakukan hal terbaik yang bisa saya lakukan. Banyak hal bisa dilakukan selain waspada dan aware soal kebersihan, kesehatan dan mematuhi himbauan Isolasi diri.

Saya menjauhi sosmed dimana orang berdebat dan saling serang  dengan aura negatif semisal twit war atau debat di twitter atau dimanapun. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun