Hijau highlight

Nekamese: Satu Hati, Satu Lahan, Satu Tujuan

12 Oktober 2017   16:32 Diperbarui: 12 Oktober 2017   20:48 1063 2 0
 Nekamese: Satu Hati, Satu Lahan, Satu Tujuan
salah satu ibu anggota Kelompok Tani Nekamese

Kegiatan Expo Kelompok Tani Nekamese yang artinya satu hati, di Desa Peut Ana, Soe, Timur Tengah Selatan, pada tanggal 11 Oktober 2017 meninggalkan cerita kekaguman semua yang hadir dan mengikutinya. Tak lupa oleh-oleh hasil panen perdana dibawa pulang dengan harga bersahabat dan tentu segar. 

Ada kurang lebih 31 varietas tanaman yang dibudidayakan di lahan yang dikhususkan untuk menjadi lahan kelompok. Dengan pembinaan dari Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) dan juga bantuan dari PT East West Seed Indonesia (EWINDO) maka lahan mulai digarap. Yang menurut saya menarik dari wawancara yang saya lakukan dengan ketua kelompoknya, Bapak Elkana, untuk mengolah lahan yang luasnya sekitar 25 are ini, mereka harus meninggalkan lahan yang mereka kelola sendiri. 

Tidak mudah untuk meninggalkan satu kebiasaan lama yang menguntungkan untuk mencoba sesuatu yang baru yang belum diketahui berapa besar keuntungannya. Tapi mereka sehati mau mencoba inovasi baru bagi pertanian di daerah mereka. Menurut Bapak Elkana, dari 31 jenis varietas yang mereka tanami di lahan kelompok hanya 1 jenis yang merupakan tanaman lama yaitu sawi manis, sedangkan yang lainnya adalah tanaman yang baru, seperti Melon madafesta F1, Cabai mereah besar jenis gada MKF F1, mentimun, kubis, tomat, paria, brokoli, dan lainnya. 

Untuk perawatannya, masing-masing keluarga dipercayai untuk menjaga dan merawat jenis tanaman masing-masing. Misalnya ada keluarga yang merawat cabai merah besar, ada keluarga yang dipercayai untuk merawat semangka,dan seterusnya. Hal ini memudahkan dalam perawatan tanaman di lahan yang luas.

Kubis merupakan salah satu varietas baru yang di tanam anggota kelompok tani Nekamese
Kubis merupakan salah satu varietas baru yang di tanam anggota kelompok tani Nekamese
Pengolahan lahan sendiri sudah di mulai dari bulan Desember tahun 2016. Lahan yang tadinya merupakan lahan kosong dengan kerja keras akhirnya menjadi lahan yang sesuai untuk dilakukan kegiatan pertanian.

Salah satu pendamping desa dari YBTS mengatakan bahwa target panen sudah ditentukan di awal, sehingga pada bulan Mei 2017 dilakukan penanaman pertama, dimulai dengan tanaman yang membutuhkan waktu panen terlama yaitu cabai merah hingga pada tanaman selada pada bulan september 2017. Strategi ini yang memungkinkan tanaman dapat di panen serentak pada tanggal 11 Oktober 2017.

Masyarakat telah merasakan hasil dari pertanian. Anak-anak mereka tidak ada yang putus sekolah karena mereka mampu menyekolahkan anak-anak mereka dari hasil bertanam sayur. Anak-anak yang melihat keringat orangtua mereka selalu menyempatkan diri untuk pulang dan membantu orang tua di lahan. Mereka bangga membantu.

Selain itu, pemerintah juga mendukung kegiatan ini, dengan menyiapkan pasaran bagi hasil pertanian, dengan mengusahakan untuk menjual hasil pertanian ke negara Timor Leste. Pemerintah yang diwakili  oleh Bapak Bupati TTS sendiri, Ir. Paul VR Mella mengatakan bahwa dengan kegiatan seperti ini di mana ada dan juga pemanfaatan lahan untuk budidaya pertanian maka Soe bisa kembali menjadi kota ikon bagi sayur-sayuran. Tidak hanya sayur-sayuran, tetapi juga di arapkan dimulai dari pertanian maka bisa terintegrasi kepada peternakan dan perikanan.

Bupati TTS Bapak Ir. Paul VR Mella melakukan Panen Simbolis
Bupati TTS Bapak Ir. Paul VR Mella melakukan Panen Simbolis
Kegiatan expo ini sangat diharapkan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat desa lainnya untuk mengembangkan lahan mereka bagi pertanian. Walaupun berat dan banyak kendala seperti ketersediaan air, namun dengan dukungan pihak-pihak yang ada termaksud pemerintah dan tekad kuat masyarakat maka hal ini dapat tewujud.

Semakin banyak masyarakat desa yang akan menemukan keuntungan dari bertani, bukan sekedar bahwa kebutuhan pangan tercukupi,namun juga secara ekonomi ada peningkatan. 

Selain dorongan untuk bertani, pemerintah dapat membantu dalam mekanisme penyerapan pasar, sehigga tidak ada hasil yang membusuk dan menyebabkan trauma bagi para petani. Nekamese, yang artinya satu hati, menggerakkan masyarakat desa Peut Ana untuk mengolah satu lahan yang gersang menjadi lahan pertanian dengan satu tujuan, pertanian yang berinovasi demi kesejahteraan bersama.