Mohon tunggu...
Elin Moevid
Elin Moevid Mohon Tunggu... Freelance Translator

Pemilik lapak buku @bukubibi

Selanjutnya

Tutup

Film

Drama Korea, Topik Kreatif dan Videografi yang Indah

21 Januari 2019   19:59 Diperbarui: 22 Januari 2019   18:46 138 1 2 Mohon Tunggu...

Drama korea atau lebih umumnya disingkat drakor mulai menjadi demam tersendiri seiring dengan pesatnya fitur 'download' atau 'watch online'. Saya sendiri mulai menggemari drakor sejak pertengahan 2009, saat berstatus mahasiswa hingga kini saat saya sudah berumahtangga. Komentar negatif tentang hobi saya ini tentu sudah banyak mengalir dari beberapa teman dan berakhir dengan mencoba melihat satu atau dua drama yang populer.

Mengapa saya, dan sebagian orang, menggemari drakor? Apa istimewanya?

Topik cerita yang tak basi. Itu jawaban pertama saya, berusaha menyangkal sebagian besar komentar bahwa drakor hanya berisi cinta-cintaan yang alai dan berbau vulgar. Walaupun memang tidak dapat dipungkiri bumbu cinta selalu ada dan hanya segelintir drama yang tidak menyentuhnya. Sedangkan adegan yang mencemari norma sosial di negara ini seolah menjadi penyedap selain rupa rupawan pemainnya. Topik cerita dalam drakor bervariasi mulai dari kehidupan sekolah dengan konflik school bullying dan persaingan belajarnya, yang mengarah pada depresi siswa.

Sebut saja drakor berjudul "Angry Mom" yang bercerita tentang seorang ibu yang rela menyamar di sekolah demi menyelamatkan anaknya atau ada juga "The Queen's Classroom" yang mengkisahkan dilema siswa-siswi SD menghadapi gurunya yang tampak killer. Kisah berbau detektif pun tak ketinggalan, seperti "Mystery Queen" yang sedikit berbau komedi romantis, "Criminal Mind" yang membuat bergidik, atau "Ms. Ma, Nemesis" yang digarap berdasarkan novel Agatha Christie. 

 Cerita berbau kotornya politik dan pelanggaran HAM yang biasanya dibungkus dalam kisah seputar kehidupan jaksa, pengacara, atau polisi pun tak sedikit jumlahnya. Salah satunya yang menjadi favorit saya adalah "Witch's Court". Yang terbaru di 2019 ini malah mengangkat Virtual Reality game sebagai intisari ceritanya, lihat saja "Memories of the Alhambra". Bahkan jika berbau romantis abis pun, drakor seolah punya pembungkus yang unik seperti yang sempat booming tahun lalu "Descendant of the Sun" dengan paduan profesi yang keren, "Let's Fight Ghost" ala ala ghostbusters, atau yang melibatkan malaikat pencabut nyawa berjudul "Black".

Hal lain yang saya suka dari drakor adalah videografinya yang indah, seperti teknik pengambilan gambar dan pencahayaannya. Adegan yang biasa bisa membuat baper gegara sudut pengambilannya. Tengok saja "Encounter" yang tayang di televisi Januari 2019 ini. Perhatikan bagaimana kamera bergerak menyusuri lorong rumah mewah yang sunyi dan berakhir dengan adegan si tokoh utama sedang duduk di depan cermin seolah mengajak kita ikut berdiam sedih di sana. Atau bagaimana remang lampu yang dilihat dari luar jendela mampu menghadirkan suasana syahdu di dalam rumah makan. Sama halnya dengan foto selfie bukan? Berbeda angle berbeda pula hasil.

Dua hal tadi mungkin kedengarannya sederhana, atau mungkin malah saya dicap lebai. Tapi coba dipikirkan, sebenarnya faktor-faktor apa yang membuat film atau drama itu menarik perhatian? Drama korea pulalah yang membuat saya berpikir kenapa sinetron atau drama televisi kita tidak mampu untuk setidaknya keluar dari kebiasaan yang sudah lalu seperti alur cerita yang mudah ditebak, penekanan pada ekspresi wajah yang berlebihan, dan pembentukan karakter yang tak beragam. Seolah-olah konsumen di negara kita memang kebanyakan menginginkan hal-hal yang demikian. Atau mungkin, saya yang memiliki selera yang berbeda dari mayoritas konsumen. Kalau Anda? 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x