Mohon tunggu...
Otomotif

Mengisi Ban dengan Nitrogen Lebih Mahal?

3 Mei 2019   20:00 Diperbarui: 3 Mei 2019   20:28 0 0 0 Mohon Tunggu...
Mengisi Ban dengan Nitrogen Lebih Mahal?
sumber: https://www.picswe.com

Nitrogen kini makin banyak dimanfaatkan untuk mengisi ban kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, terbukti dari makin menjamurnya outlet-outlet yang menyediakannya. Dibanding pengisian dengan angin biasa, biaya pengisian nitrogen cenderung lebih mahal. 

Bila angin biasa hanya dikenakan tarif sekitar Rp2.000,00 untuk motor, mengisi nitrogen di SPBU bisa mencapai harga Rp5.000,00 untuk motor dan Rp10.000,00 untuk mobil tiap bannya. Lantas, apa yang membuat biaya pengisian ban dengan nitrogen ini lebih mahal?

Ban menjadi suatu bagian yang paling penting dari sebuah kendaran. Sebagian besar ban yang ada sekarang, terutama yang digunakan untuk kendaraan bermotor, diproduksi dari karet sintetik. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada ban supaya kondisi ban tetep terjaga optimal, stabil dan umur pakai ban menjadi lebih panjang, salah satunya adalah komponen gas yang mengisi bannya. Saat ini, metode pengisian ban ada 2 cara yaitu pengisian dengan udara (angin) dan yang menggunakan gas nitrogen (N2).

Nitrogen adalah unsur kimia dalam table periodik, yang memiliki lambang N dan nomor atom 7. Biasanya ditemukan dengan wujud sebagai gas tanpa warna , tanpa bau, tanpa rasa dan merupakan gas diatomik bukan logam yang stabil , sangat sulit bereaksi dengan unsur senyawa lainnya. Nitrogen mengisi 8,08% atmosfer bumi dan juga terdapat dalam banyak jaringan hidup. Nitrogen juga menjadi komponen terbesar di dalam udara. Hal tersebut dikarenakan udara mengandung sekitar 78% nitrogen, 21% oksigen dan gas-gas lain, seperti argon, karbon dioksida, dan uap air yang terbawa.

Nitrogen disebut-sebut lebih baik untuk ban kendaraan dari pada mengisinya dengan angin biasa karena tidak mudah keluar dari karet ban. Berbeda dengan gas oksigen yang dengan ukuran molekulnya yang lebih kecil sehingga lebih mudah keluar dari ban meski sedikit demi sedikit. 

Alasan kedua, temperatur ban akan tetap terjaga bila ban menggunakan gas nitrogen. Bila ban bersuhu tinggi karena kendaraan dipacu dengan kecepatan tinggi, karet akan menjadi lebih empuk sehinga lapisan di dalam bisa terpisah. Ban pun akan lebih cepat rusak.

Alasan ketiga, udara biasa mengandung uap air yang karena tingginya tekanan di dalam ban dapat berwujud zat cair. Ketika ban bersuhu tinggi, air akan menguap. Air yang volumenya meningkat pada fase gas membuat ban menjadi penuh dan meningkatkan potensi pecah ban. Ditambah lagi bahwa udara (angin) biasa pun mengandung oksigen yang dapat mengoksidasi karet ban. Oksidasi oleh oksigen membuat ban menjadi cepat tua. Tentu hal ini berbeda bila ban diisi dengan gas nitrogen murni yang akan membuat tekanan ban lebih stabil dan mampu mengurangi oksidasi.

sumber: https://www.msn.com 
sumber: https://www.msn.com 

Dilansir dari laman resmi Green Nitrogen, Green Nitrogen merupakan unit usaha yang bergerak di bidang pelayanan jasa pengisian nitrogen dan tambal ban serta merupakan operator resmi pengisian nitrogen di SPBU Pertamina dengan jaringan terluas se-Indnesia. Dengan mesin yang ada di outlet-outletnya, Green Nitrogen menyampaikan bahwa mereka memproduksi langsung nitrogen dari udara di lokasi pelayanan dengan sistem PSA (Pressure Swing Adsorption).

Pressure swing adsorption (PSA) merupakan salah satu teknologi yang digunakan untuk memisahkan beberapa jenis gas karena tiap gas memiliki kecenderungan penyerapan yang berbeda, kuat atau lemah terhadap permukaan padatan. Selain kemampuan adsorben (zat padat yang dapat menjerap partikel fluida) untuk membedakan antara gas yang berbeda, adsorben untuk sistem PSA biasanya sangat berpori dan dipilih berdasarkan luas permukaan spesifiknya yang besar. Green Nitrogen menggunakan CMS (Carbon Moleculat Sieve) dalam sistem PSA-nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3