Mohon tunggu...
elafaNURIStiya
elafaNURIStiya Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa_Hobi Random

(Kiki@rt) Don't to be great to be creative, art is fun. Let's is flow to guide your talent's. WokkeπŸ˜‘πŸ—Ώ

Selanjutnya

Tutup

Foodie

Kuliner Rantauan Harjalu ke-767 di Alun-alun Kota Lumajang

16 Desember 2022   04:14 Diperbarui: 16 Desember 2022   04:27 101
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto Bareng Penjual Cilot Malindo di Alun-alun Lumajang

Kamis, 15 Desember 2022. Perayaan Hari Jadi Lumajang (Harjalu) yang ke-767 ramai dipadati masyarakat Lumajang, baik undangan maupun warga setempat. Adanya perayaan ini juga menjadi peluang yang besar bagi para pedagang, salah satunya adalah pedagang Cilot Malindo.

Cilot merupakan makanan berbahan dasar daging ataupun tepung kanji yang sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang. Bahkan, makanan ini menjadi salah satu makanan yang banyak digemari. Tak terkecuali Cilot Malindo yang dijajakan di alun-alun kota Lumajang pada acara Harjalu tahun ini. Cilot ini diberi nama Malindo yang berarti Malaysia Indonesia. Alasannya karena penjualnya pernah merantau ke Malaysia sejak tahun 1991.

Penjualan cilot yang dicampur dengan tahu, gorengan dan sayur gubis ini telah berjalan kurang lebih selama 11 tahun. Omzet yang didapatkan perharinya bisa mencapai 200-400 ribu rupiah. Dalam sehari, laki-laki yang bertempat tinggal di Jalan Veteran atau Toga Lumajang ini bisa menghabiskan 4-6 kilogram cilot. Ia mengaku sudah sangat bersyukur dagangannya laku sebanyak ini. Setidaknya penghasilannya bisa mengembalikan modalnya.Β 

"Yo balik modal loh nduk, lek ndak balik ndak dodolan aku," ujarnya dengan gurauan.

Dari dulu ia memang menjual Cilot untuk mengikuti jejak bapaknya yang pernah berjualan bakso. Ia mengatakan cara pembuatannya tidak jauh berbeda, jadi cara ini bisa menjadi alternatif lain untuk mendapatkan penghasilan. Ia memilih berjualan keliling daripada harus menetap di satu tempat.Β 

"Biasanya saya jualan di depan sekolah-sekolah, di pondok juga," tambah laki-laki berbaju kotak-kotak itu setelah melayani pelanggan.

Ditulis oleh Ela Fanuristiya, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Salam komunikasi!!!!

Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun