Mohon tunggu...
Eko Triyanto
Eko Triyanto Mohon Tunggu... Penikmat Sejarah

Penjaga akun twitter @ekosangpencerah, bercita-cita punya perpustakaan buku-buku lawas.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menelusuri Pengajian Ambudi Agama di Pekajangan

14 Desember 2019   18:26 Diperbarui: 14 Desember 2019   18:28 1 1 0 Mohon Tunggu...

Pekajangan, nama wilayah yang barangkali terdengar asing. Tidak demikian dalam bidang dakwah dan pergerakan, daerah yang terletak di Kecamatan Kedungwuni Pekalongan ini memiliki keunikan tersendiri. 

Sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, di daerah ini telah digagas pengajian yang diberi nama Ambudi Agama. Haedar Nashir dalam buku Perilaku Politik Muhammadiyah mengisahkan, pengajian ini digagas oleh tokoh setempat KH. Abdurrahman bersama KH Cholil dan KH. Dimyati.

Keberadaan pengajian ini disambut antusias oleh masyarakat sekitar, dan dapat berkembang secara luas. Namun harus terhenti karena kemudian mendapat larangan dari penjajah Belanda. 

Beruntung, pada saat yang hampir bersamaan tersiar kabar bahwa di Yogyakarta berdiri organisasi yang telah mendapat izin untuk disebarluaskan ke seluruh wilayah Hindia Belanda.

KH. Abdurrahman berniat untuk pergi ke Yogyakarta untuk mengenal lebih dekat dengan organisasi yang dinamai Muhammadiyah tersebut. Keinginan itu mendapat halangan dari beberapa sahabat dekatnya, bahkan mereka menggulirkan isu, Muhammadiyah sebagai perkumpulan Kristen. KH. Abdurrahman dengan tekad kuat tetap berangkat ke Yogyakarta diantar sahabatnya dari Banyuman, Kyai Asma'ul. Keduanya mendapat sambutan hangat dari Hoodbestuur (Pimpinan Pusat) Muhammadiyahyang kemudian mengutusa Haji Muchtar, Haji Abdurrahman Machdum dan Haji Masool untuk menjelaskan tentang Muhammadiyah serta mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi pengajian Ambudi Agama.

Setelah paham bahwa Muhammadiyah mengajarkan Islam yang bersumber dari Al Quran dan Sunnnah Nabi Muhammad SAW. pada akhirnya dibentuk Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pekajangan dengan susunan pimpinan. H. Dimyati Masduki (Pemuka Cabang), KH. Cholil (Pemuka Bagian Tabligh), KH. Abdurrahman (Pemuka Bagian Pendidikan), H. Masyhuri (Pemuka Bagian Wakaf), dan Hj. Rauchah Iskandar (Pemuka Aisyiah).

Jadilah, Muhammadiyah berdiri di wilayah yang lumayan jauh dari Yogyakarta. Bahkan Pekajangan menjadi Cabang ke-13 pada masa kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan. Surat Keputusan tersebut ditulis tangan dan ditandatangani langsung oleh KH. Ahmad Dahlan. Seperti tertuang dalam Soerat Keputusan Hoofdbestuur Moehammadijah Djogjakarta Nomor 13/Pk tertanggal 15 November 1922. Kini Muhammadiyah Pekajangan telah menjelma menjadi gerakan yang maju dan memiliki beragam amal usaha dari sekolah hingga rumah sakit.

VIDEO PILIHAN