Mohon tunggu...
Eustachius Hagni Wardoyo
Eustachius Hagni Wardoyo Mohon Tunggu... Dokter - Penikmat perjalanan, sejarah dan kuliner

Mencintai apa yang ada, mengejar apa yang belum ada dan bersyukur karena menjadi apa adanya

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Manfaat Terapi Oksigen Hiperbarik pada Penyakit Infeksi

21 November 2023   22:59 Diperbarui: 21 November 2023   23:00 77
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembang biaknya mikroorganisme (parasit, bakteri, jamur, virus dan cacing) dalam tubuh sampai melebihi batas keseimbangan ekosistem mikroorganisme di dalam tubuh. Terdapat dua prinsip utama dari pengertian tersebut yang perlu anda ketahui, pertama mikroorganisme dalam jumlah tertentu diperlukan keberadaanya dalam tubuh sehingga ada mikroorganisme ‘normal’ yang disebut dengan flora normal, kedua terdapat area normal dalam tubuh yang seharusnya steril dari mikroorganisme, sehingga jika ditemukan pertumbuhan bakteri (meskipun bakteri flora normal) dari sampel area steril dapat dikatakan telah terjadi infeksi. Contoh area steril adalah paru-paru dan kantung pleura, jantung dan perikardium, otak dan selubung otak, rongga perut. Area yang dapat ditemui flora normal adalah kulit, mata bagian luar, rongga mulut, saluran nafas bagian atas (hidung), lambung, usus halus, usus besar, dan anus.

Dari pengertian diatas dapat dikatakan terdapat dua kategori mikroorganisme dalam tubuh. Pertama mikroorgansime ‘normal’ yang ditemukan pada tubuh manusia. Kategori ini sering dihubungkan sebagai ‘kuman baik’. Kedua mikroorganisme asing/ pathogen. Mikroorganisme pathogen secara normal tidak ditemukan dari tubuh manusia sendiri dan biasanya didapatkan melalui penularan (udara, kontak langsung, serpihan tubuh pasien infeksi, melalui vector nyamuk/binatang lainnya).

Apakah mikroorganisme ‘normal’ dapat menyebabkan penyakit?

Ya, mikroorganisme ‘normal’ dapat menyebabkan infeksi jika pertumbuhannya berlebih oleh suatu sebab. Mikroorganisme ‘normal’ hidup berdampingan dengan beribu-ribu jenis mikroorganisme lainnya. Contoh klasik dari populasi mikroorganisme normal ini adalah usus. Didalam usus terdapat cacing usus, bakteri penghasil asam laktat, bakteri lainnya. Mereka hidup dalam satu populasi yang berkompetisi secara sehat untuk mendapatkan makanan. Ketika tanpa ada dasar adanya penyakit infeksi, manusia ybs mengkonsumsi antibiotika, maka yang terjadi adalah pembunuhan bakteri yang sensitive terhadap antibiotic tersebut, sementara bakteri yang tahan (resisten) terhadap antibiotika tersebut terus tumbuh, bahkan ruang hidup yang sebelumnya ditempati oleh bakteri yang sensitive akan ditempati oleh bakteri yang resisten. Ini baru salah satu contoh gangguan keseimbangan populasi mikroorganisme di usus.

Bagaimana kerja system pertahanan tubuh kita menghadapi invasi mikroorganisme asing tersebut?

Layaknya pasukan perang, system pertahanan tubuh kita memiliki mekanisme yang menakjubkan. Sistem sensor adanya ‘musuh’ dilakukan oleh kulit dan makrofag, system artileri dimiliki oleh fagosit dan lekosit, system barikade dimiliki oleh kelenjar getah bening dan retikuloendotelial. Jika ‘musuh’ tetap dapat menembus pertahanan-pertahanan tersebut, masih ada interleukin (IL-6), interferon dan mediator lain yang memberikan sinyal ke orang tersebut dengan respon demam dan menggigil.

Terkait dengan terapi oksigen hiperbarik, kerja system pertahanan tubuh yang diperkuat dan pertahanan ‘musuh’ diperlemah dengan terapi oksigen hiperbarik (TOHB). Mekanisme tersebut dapat dibedakan menjadi dua fase:

1. Fase awal infeksi

TOHB ‘charging up’ kemampuan lekosit dalam membunuh bakteri, melalui mekanisme ‘oxidative killing’. Konsentrasi oksigen yang tinggi didalam lokasi infeksi dapat bekerja sebagai ‘antibiotik’

2. Fase lanjut

TOHB secara unik memodulasi system pertahanan tubuh manusia. Meningkatkan penetrasi antibiotika ke lokasi infeksi (situasional) dan membantu perbanyakan sel ‘memory’ dalam mengingat musuh. Sel memory ini akan menjadi ‘shortcut’ pertahanan terhadap infeksi ulang dari kuman yang sama sehingga tubuh langsung dapat memilih ‘artileri’ yang tepat dan tidak perlu tertunda oleh proses identifikasi kuman kembali. 

TOHB sebagai ‘obat antibiotika’ ?

TOHB dapat berfungsi sebagai antibiotika alamiah yang akan bersifat segera membunuh bakteri untuk bakteri anaerob, dan menghantikan perkembangan bakteri untuk bakteri aerob. Penelitian pada kasus infeksi tetanus (Clostridium tetanii), gas gangrene (Clostridium perfingens) dan infeksi anaerob lainnya menunjukkan bahwa oksigen toksik bagi mereka. Hal ini terlihat pada pasien yang terinfeksi bakteri anaerob tersebut dengan ditandai perbaikan klinis nyata, penurunan lama rawat inap dan peningkatan efektivitas pemberian antibiotika dan penurunan pengeluaran biaya kesehatan

Jenis penyakit infeksi, dimana TOHB sebagai terapi komplementer dan diratifikasi oleh FDA (food and drugs administration) adalah intracranial Abcess, Osteomyelitis refrakta, gas gangrene, necrotizing soft tissue infection (UHMS indications).


Dr. dr. E. Hagni Wardoyo, Sp.KL., Subsp.PH(K)

Spesialis Kedokteran Kelautan, Konsultan Penyelaman dan Hiperbarik

Dive-enthusiast

DAN referral phycisian

Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan

FK Universitas Mataram/ Hyperbaric center RSUD Kota Mataram

Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun