Mohon tunggu...
Efri Cahyanti
Efri Cahyanti Mohon Tunggu... Freelancer - Ibu rumah tangga / Freelancer

Senang dengan dunia anak dan berita. Suka menulis dan menambah pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Berbenah Bersama, Ungkapan Hati Seorang Guru

5 Februari 2024   09:27 Diperbarui: 5 Februari 2024   09:45 42
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Pendidikan merupakan suatu hal yang terstruktur yang didalamnya tentu ada tujuan serta harapan yang ingin diwujudkan. Pendidikan bukan sekedar melahirkan kecerdasan intelektual, namun juga sangat perlu adanya kecerdasan emosional dan spiritual yang terwujud. Dalam mencapai harapan besar dari proses pendidikan ini, tentu peran guru sangatlah penting.

Guru merupakan salah satu pemegang peran utama dalam pendidikan. Kualitas guru menentukan kualitas sebuah pendidikan. Namun pada faktanya masih banyak guru yang justru begitu terkuras waktu, tenaga dan pikiran untuk hal seputar administrasi guru. Saya berharap Menteri Pendidikan melihat akan hal ini. Sangat perlu adanya sistem yang memudahkan kinerja guru, sehingga guru bisa lebih fokus memberikan pendidikan terbaik bagi peserta didik. 

Perlu juga adanya program untuk meningkatkan kualitas guru, tidak hanya dari segi intelektual, namun juga secara emosional dan spiritual. Besar harapan saya adanya program untuk meng-Upgrade Skill bagi guru, pembinaan akhlak, bahkan guru juga perlu belajar "parenting" karena guru menjadi "orang tua" bagi peserta didik saat di sekolah. Karena kualitas seorang guru berpengaruh besar dalam output sebuah pendidikan. Bagaimana peserta didiknya, dapat dipengaruhi dari seperti apa gurunya. 

Jika pendidikan hanya sekedar transfer ilmu, peran guru bisa saja tergantikan oleh teknologi. Namun sejatinya guru sangat perlu bisa mengajar dengan "hati" sehingga bisa diterima oleh "hati" juga, dan lebih berkesan sehingga apa yang diajarkan lebih mudah melekat pada peserta didik. 

Guru diharapkan bisa memberikan ketauladanan, contoh yang baik, dan akhlak yang anggun, yang hal-hal semacam ini tak akan mungkin bisa dilakukan oleh teknologi. Dan untuk melahirkan guru yang berkualitas tentu perlu adanya program yang menunjang akan hal tersebut.

Kekurang maksimalan peran guru dalam kegiatan pendidikan juga dipengaruhi oleh kesejahteraan yang masih kurang. Walau tenaga, waktu, pikiran, bahkan hati sudah begitu tercurah untuk pendidikan, namun kesejahteraan bagi seorang guru masih kurang, sehingga tak sedikit guru yang juga melakukan hal diluar tugas utama. Melakukan "pekerjaan sampingan" demi untuk sekedar mencukupi kebutuhan.

Kesempatan mengabdi sebagai guru yang berbanding lurus dengan kesejahteraan rasanya belum banyak terwujud di Indonesia. Besar harapan saya, ada penghargaan yang diberikan kepada para pengemban  pendidikan. 

Jika dengan menjadi pendidik mereka sudah terpenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya, tentu mereka tak perlu berbagi konsentrasi untuk menjalankan profesi ganda. Mereka bisa lebih fokus mendidik anak-anak terbaik bangsa yang mempunyai potensi luar biasa.

Selain itu, saya juga berharap adanya kebijakan yang lebih mengutamakan pendidikan untuk lebih fokus pada pengembangan potensi peserta didik yang masing-masing tidak bisa disamaratakan. Sehingga diharapkan peserta didik lebih mudah untuk mengembangkan diri, mandiri, bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan siap bersaing dengan lulusan pendidikan dari Negara Maju.

Disamping itu, perlu juga adanya kebijakan yang turut melibatkan peran orang tua sebagai wali dari peserta didik. Masih minimnya sikap kedewasaan dan pemahaman seputar dunia pendidikan tak jarang membuat orang tua bersikap terlalu menuntut kecerdasan dan perkembangan peserta didik sepenuhnya seolah tanggung jawab guru. 

Padahal peserta didik bisa dikatakan lebih banyak memiliki waktu dirumahnya. Orang tua juga sangat perlu untuk turut serta bersinergi dengan guru, tidak seolah "lepas tangan". Banyak juga orang tua yang belum memahami bahwa setiap anak adalah "bintang" yang punya potensi masing-masing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun