Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Pecinta filsafat, pengetahuan budaya dan industri

Segala yang indah harus berfungsi dan bermanfaat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Eks ISIS Belum Tentu Aman Jika Harus Pulang

8 Februari 2020   17:04 Diperbarui: 8 Februari 2020   17:05 67 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Eks ISIS Belum Tentu Aman Jika Harus Pulang
Kombatan ISIS (Foto: Tangkapan Layar Video/Wired via Kompas.com)

Wacana pemulangan eks anggota ISIS ke Indonesia telah menuai perdebatan. Sebagian masyarakat menolak rencana tersebut, namun beberapa tokoh agama dan pejabat mengisyaratkan bahwa mereka dapat pulang ke Tanah Air sebagai hak warga negara. Kelihatannya akan menjadi keputusan kontroversi apapun pilihannya.

Ada ketakutan dan diungkap berkali-kali oleh warganet di Twitter kepada Menteri Agama Fachrul Razi, pejabat yang melontarkan wacana itu, namun akhirnya diklarifikasi untuk dicermati. Mereka menganggap para bekas anggota ISIS mungkin saja menularkan ancaman ke lingkungan masyarakat Indonesia lantaran masalah yang dihadapi cukup kompleks berkaitan dengan doktrin yang diterima.

"Apapun topiknya ISIS itu identik dengan kekerasan. Lihat deh TL2 yang lagi omongin ISIS, ada ga yang peaceful? Nome of them. Itu baru TL, bagaimana kalau mereka tiba-tiba datang ke dunia nyata kita? Dukung Pak Jokowi menolak eks WNI pro ISIS ini kembali," tulis warganet.

Dua sisi sederhana yang mewarnai pendapat umum namun dengan muatan pertimbangan yang bertingkat dan berkonsekuensi panjang. Indonesia juga mempunyai riwayat serangan teror bom yang kian menambah tebal alasan untuk menolak eks ISIS.

Alasan kemanusiaan muncul kembali sebagai alarm untuk mengingat sejauh mana batasan ketakutan masyarakat bisa dikesampingkan. BBC Indonesia menjadi pemantik untuk memberi diskursus lewat video wawancara terhadap perempuan muda Indonesia bernama Nada Fedulla.

Ketertarikan pertama dari tayangan wawancara tersebut adalah klaim bahwa Nada adalah anggota ISIS, organisasi yang mempunyai riwayat buruk karena membunuh ribuan orang di Irak, Suriah dan beberapa negara lain yang terafiliasi melalui serangkaian kontak senjata, ledakan bom, dan hukuman mati sepihak.

Namun, di bawah bayang-bayang kebencian dunia terhadap organisasinya, Nada membalas itu lewat sentuhan sentimental dengan mengungkap cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter namun justru berakhir di ISIS akibat ajakan sang Ayah. Dia ingin pulang ke Indonesia dari kamp tahanan meski menyadari realisasi tersebut sangat sulit.

Solusi akhir dari perkara yang mempertemukan isu kemanusiaan dan keamanan dalam negeri ini akan mustahil terjawab. Pemerintah mencoba menemukan tatanan ideal dari kehidupan beragama dan bermasyarakat. Namun ini terlihat absurd ketika mengetahui kehadiran ISIS sedari awal bertujuan merongrong eksistensi sebuah negara.

Manakah yang harus didahulukan? Ada dua gambaran kelompok. Pertama mereka yang bermukim dan berkehendak di luar hukum Indonesia, dan kedua adalah mereka yang selama ini bermukim dan menjadi bagian determinan dalam membentuk rupa kedaulatan politik dan ekonomi Indonesia saat ini.

Ini soal prinsip. Tentu yang adil adalah jika pemerintah mendahulukan kehendak WNI yang disebut terakhir tadi. Lalu bagaimana dengan orang-orang seperti Nada? Ini pertanyaan menarik karena Nada seperti yang disebutkan sebelumnya telah menunjukkan sisi manusiawi seorang yang 'bertobat'.

Namun, dia sulit menerjemahkannya karena ISIS merampas semua kebebasannya sehingga dia tidak mampu membuktikan apapun soal kebenaran dirinya. Yang otentik hanyalah rekam jejak ISIS dalam berbagai video yang memperlihatkan serangan teror dan kekejaman mereka yang sulit dibantahkan. Permintaannya untuk pulang bisa menjadi ancaman yang akan menyiksa dalam sebuah keterasingan dan ketidakpercayaan seorangpun. Saya sulit membayangkan hidup dalam kondisi itu.

Apa yang diharap dalam keterasingan adalah solidaritasnya untuk dunia yang damai.

Kalimat yang indah namun sulit dijalankan bahkan untuk mereka yang hidup damai sekalipun.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x