Mohon tunggu...
Efrem
Efrem Mohon Tunggu... Pecinta bahasa Indonesia, pembelajar filsafat, wacana, dan ekonomi

Sahabat sejatimu ada di tengah malam

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Berhentilah Meledek Peserta Aksi 22 Mei!

22 Mei 2019   20:38 Diperbarui: 22 Mei 2019   21:07 0 0 0 Mohon Tunggu...

Aksi massa di depan gedung Bawaslu, Jakarta, ditanggapi beragam oleh masyarakat, Rabu (22/5/2019). Secara garis besar, ada yang pro dan kontra.

Pemerintah ingin aksi segera berakhir dan massa kembali ke kediaman masing-masing. Pelbagai upaya dilakukan sekalipun itu terpaksa mengganggu kepentingan luas masyarakat yang sebenarnya tidak terlibat dalam eskalasi aksi. Kemenkominfo mengumumkan adanya semacam perlambatan jaringan internet sehingga pengiriman video dan gambar menjadi terhamba di media sosial.

Tujuannya jelas agar video dan gambar yang merekam aksi tidak tersebar luas. Tampilan visual mengenai situasi di lapangan bukan tidak mungkin akan dinarasikan secara hiperbolis untuk menarik simpati masyarakat.

Namun, hal lain yang juga turut menambah runyam masalah adalah postingan pihak yang kontra terhadap aksi. Kita dapat menemukan cukup banyak postingan yang terkesan menyindir perilaku peserta aksi. Beberapa mencoba mengasingkan keberadaan mereka. Hal ini tanpa disadari ternyata dapat menambah besar api semangat mereka untuk semakin lama berunjuk rasa.

Tidak terlalu sulit untuk memahaminya. Manusia adalah ego dan akan semakin menampakan kehendaknya dalam situasi tegang semacam ini. Mereka telah melancarkan aksi dengan pertimbangan matang. Segala tindakannya dilandaskan pada satu dalil kebenaran. Sama halnya dengan pihak kontra yang telah mempunyai mekanisme untuk membentuk dalil kebenarannya sendiri untuk menilai aksi mereka. Maka, kebenaran melawan kebenaran.

Alasan kedua, peserta aksi mempunyai tujuan atas tindakannya, yaitu menginginkan Jokowi mundur sebagai Presiden, meminta Bawaslu mendiskualifikasi Jokowi, dan sebagainya. Mereka mempunyai tujuan, berbeda dengan pihak kontra yang sama sekali tidak memiliki kepentingan atau tujuan apapun sebab segalanya telah terang bahwa Jokowi dan KH Ma'ruf Amin telah memenangkan Pilpres 2019 berdasarkan hasil rekapitulasi suara KPU RI.

Lalu apa yang harus dilakukan saat ini? Saya berpikir masyarakat sebaiknya berhenti memberikan ujaran yang menghujat atau mendeskreditkan peserta aksi. Postingan semacam ini harus dihentikan.

Berhenti meledek mereka dengan istilah-istilah yang merendahkan martabat seperti kaum miskin, pengangguran, diperalat oleh elit, atau melabelkan kerendahan mereka akan pemahaman agama. Jika ini yang ada dalam pikiran kita, berikanlah jalan atau kesempatan meskipun itu sedikit agar mereka tidak lagi seperti yamg dituduhkan. 

Secara teoritis, hal semacam ini tidak terlalu sulit. Tapi hanya itulah jalan menuju rekonsiliasi karena ini adalah momentum yang akan menunjukan alam pikir masyarakat Indonesia saat menghadapi konflik.