Mohon tunggu...
Effendy Wongso
Effendy Wongso Mohon Tunggu... Wartawan, fotografer, cerpenis, penulis, pecinta sastra, dan guru Sekolah Minggu Buddha (SMB)

Wartawan, fotografer, cerpenis, penulis, pecinta sastra, dan guru Sekolah Minggu Buddha (SMB)

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Meong, Kucingku Sayang Kucingku Malang

28 Februari 2021   09:33 Diperbarui: 28 Februari 2021   09:36 92 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Meong, Kucingku Sayang Kucingku Malang
Ilustrasi diary Meong, Kucingku Sayang Kucingku Malang (dok. oprahmagazine.com)

Senja di Pengujung Februari 1979,
seperti anak-anak lainnya
aku memanfaatkan waktu sore sehabis mandi untuk bermain
bersama anak-anak tetangga

Kulihat "Meong",
nama kucingku masih sehat berlarian
ia larut bermain sendiri,
entah dengan siapa di pekarangan rumah

"Meong", entah kucing ke berapa yang dipelihara orang tuaku
sejak lama, kucing-kucing liar datang silih berganti ke rumah
untuk menumpang makan, bahkan menetap dan beranak pinak
hingga akhirnya dipelihara

Sejujurnya, aku sendiri tidak terlalu dekat dengan "Meong"
bulu-bulu halus kucing manja itu selalu rontok
maklum, namanya kucing kampung
dan itu membuatku "jijik"

Meskipun tidak terlalu dekat dengannya
tapi rasa sayang itu tidak hilang
sebab, "Meong" sudah kuanggap bungsu di antara adik-adikku

Sehabis bermain, entah di mana
magrib, kulihat "Meong" lunglai tak selincah biasanya
ia tak lagi melingkar meliuk di kakiku seperti biasanya
jika manjanya kumat,
paling tidak untuk dibelai atau digelitik

Tidak lama berjalan masuk ke rumahku
ia ambruk, kepalanya mengeluarkan darah kental
serupa sirup merah
: "Meong" mati!

Ternyata, saat bermain
"Meong" ditabrak mobil di jalan
ia masih berusaha bertahan
tidak mati di tempat
sebab, ingin mati di rumahnya
rumah kami, keluarganya
sekadar mengucapkan
: selamat berpisah!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x