Mohon tunggu...
syafrian ervan aulia
syafrian ervan aulia Mohon Tunggu... Mahasiswa

Ustad Abdul Somad alias UAS

Selanjutnya

Tutup

Digital

Fenomena Cyber Journalism Akibat "Kecanggihan" Masyarakat Indonesia

1 Agustus 2020   17:23 Diperbarui: 1 Agustus 2020   17:23 3 0 0 Mohon Tunggu...

Cyber Journalism adalah seorang jurnalis pada media online seperti website, blog, forum, sosial media atau media-media online lainnya. Sama seperti Jurnalistik konvensional, jurnalistik online juga harus menaati kode etik wartawan, dan melakukan tugas-tugas jurnalis pada umumnya. 

Bedanya hanya pada media yang digunakan untuk menyajikan berita. Jurnalistik online merupakan jurnalis generasi ketiga. Jurnalistik generasi pertama adala jurnalistik cetak, yang menyajikan berita melalui media cetak seperti surat kabar atau majalah. Jurnalisme generasi kedua adalah jurnalisti elektronik, yang menyajikan berita dalam media elektronik seperti radio atau televisi.

Cyber Journalism diberi keleluasaan untuk memilih berita/ informasi yang diinginkannya sendiri. Dengan begitu audiens dapat terlibat langsung untuk menentukan urutan bacaan dari mana lalu ke bacaan mana. Dari topik mana ke topic mana, bahkan loncat tahun. Audiens tidak hanya pasif menerima struktur/ urutan berita dari penerbit seperti pada media konvensional. 

Berita-berita yang disajikan oleh jurnalistik online bersifat independen. Setiap berita dapat berdiri sendiri, sehingga audiens tidak harus membaca seluruh rangkaian berita secara berurutan untuk dapat memahami isi berita.

Cyber jurnalisme sangat mendukung dan menunjang kebebasan pers di Indonesia. Selama masa orde baru media massa dikendalikan oleh kepentingan pemerintah. Perlahan setelah reformasi hal tersebut berubah. Kini masyarakat bebas untuk menyampaikan informasi. Namun permasalahannya ternyata media yang ada seperti surat kabar, tabloid, dan majalah perlahan-lahan sudah tidak mampu mewakili keinginan masyarakat. 

Oleh karena itulah internet digunakan sebagai media dalam jurnalisme dimasa kini. Masyarakat bisa berperan bak wartawan dari kecanggihan tangan mereka meliput kejadian yang dilihat untuk dipublikasikan ke portal berita, weblog, bahkan social medianya.

Di Indonesia sendiri, tak jarang  jurnalis online dengan lantangnya memberi opini ini itu dari hanya isu sampai berujung jeruji besi karena dianggap melanggar kode etik wartawan. Fenomena jurnalis online ini benar-benar membuat masyarakat menurunkan minatnya kepada berita yang ada di televesi maupun surat kabar. Internet terbilang sukses menghukum televisi dan surat kabar dengan telak. Dengan adanya cyber journalis ini mempermudah masyarakat dalam mengakses situs yang ingin dia ketahui.

Kecanggihan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan ponselnya tidak diragukan lagi, bemodal baterai 100% ia bisa menulis dan merekam dimana saja. Masyarakat Indonesia berhasil membuat banyak public figure menjadi resah karena kebutuhan konten mereka.  

Tidak jarang juga selebriti terkena masalah karena kekuatan cyber journalism, mereka meliput dari perselingkuhan hingga pembantaian. setiapkali berita di posting, maka berita itu akan langsung bisa diakses, dibaca oleh audiens dari seluruh dunia.

 Waktu yang diperlukan untuk menyampaikan berita tersebut jauh lebih cepat dibandingkan media konvensional yang memerlukan proses pencetakan dan pengiriman seperti Koran. Sungguh berbahaya untuk yang bersalah namun itulah mereka.

VIDEO PILIHAN