Regional Artikel Utama

Memiliki Potensi, tapi Mengapa Mauk Tak Bersemangat Jadi Kota Bahari?

16 Juli 2017   09:05 Diperbarui: 16 Juli 2017   12:06 755 6 6
Memiliki Potensi, tapi Mengapa Mauk Tak Bersemangat Jadi Kota Bahari?
Sejumlah kapal tengah bersandar di Mauk. Foto | Dokumen Pribadi

Potensi Ada, Mengapa Mauk Tak Bersemangat Jadi Kota Bahari?

Tidak kukira, ternyata Mauk jauh dari Jakarta. Jika ditempuh dari kawasan Ceger, Jakarta Timur, perjalanan menggunakan kendaraan pribadi bisa membutuhkan waktu 3 jam. Itu dalam kondisi lalu lintas normal, tidak terlalu banyak macet di beberapa titik. Satu jam perjalanan baru masuk wilayah Grogol, dari sini butuh 2 jam lagi untuk menyentuh Mauk.

Penulis yang melakukan perjalanan ke kawasan Kecamatan Mauk, Tangerang, pada Sabtu (15/7) merasa gembira setelah sepanjang perjalanan merasa kesal lantaran kendaraan bertonase besar menghambat laju jalan. Jalur yang ditempuh melintasi Jalan Daan Mogot, menembus kawasan Kalideres dan Ceper. Kecamatan Mauk ternyata tidak jauh dari Bandara Soekarno-Hatta.

Kawasan yang berada di pesisir Pulau Jawa dan menjadi bagian Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten ini, dipenuhi pasar tradisional. Khususnya sepanjang Jalan Kedaung Barat, Sepatan Timur. Kawasan pemukiman yang biasa banyak dibangun para pengembang pun jumlahnya tidak banyak. Hanya dapat dihitung dengan jari.

Warga nelayan setempat dengan rumah bangunan semi permanen, tak tertata. Foto | Dokumen Pribadi
Warga nelayan setempat dengan rumah bangunan semi permanen, tak tertata. Foto | Dokumen Pribadi

WArga Sepatan Timur bersama penulis. Ia banyak cerita tentang perkembangan Mauk. Foto | Dokumen Pribadi
WArga Sepatan Timur bersama penulis. Ia banyak cerita tentang perkembangan Mauk. Foto | Dokumen Pribadi

Jadi, progres pembangunan di kawasan ini "geliatnya" tidak menonjol. Kawasan pemukiman pun berdinding gedeg atau bambu masih menonjol. Rumah-rumah tua dengan kontruksi semi permanen dan rapat berhimpitan masih cukup menojol jika ditelusuri lebih jauh. Itulah kesan yang kutangkap.

Tak percaya dengan celoteh banyak orang bahwa Kecamatan Mauk punya pantai yang dapat dibanggakan warga setempat sebagai daerah tujuan wisata bahari, penulis berupaya mencari tahu. Ternyata, betul. Warga  menyebutnya  Pantai Tanjung Kait. Baru kusadari ternyata pantai ini sudah lama dikenal oleh sebagian warga Jakarta.

Sayangnya,  kawasan yang menjadi salah satu destinasi idola masyarakat Tangerang dan sekitarnya tak terawat apik. Selain kumuh dengan diwarnai gubuk liar, pantainya kuamati mengalami abrasi. Pantai Tanjungkait seolah merana karena tak dikelola dengan baik. Di kecamatan ini ada 12 desa/kelurahan. Yaitu: Desa  Mauk Barat, Tegal Kunir Kidul, Tegal Kunir Lor, Sasak, Gunung Sari, Kedung Dalem, Marga Mulya, Tanjung Anom, Jatiwaringin, Banyu Asih, Ketapang, Mauk Timur.

Catatan Om Wikipedia menyebut,  ternyata Mauk itu berasal dari  nama seorang pejuang Tionghoa pada masa penjajahan kolonial Belanda, yakni Ma uk. Guna mengenang jasa-jasanya lalu masyarakat setempat mengabadikan namanya menjadi nama tempat, yang kini disebut Kecamatan Mauk. Karena tuntutan perkembangan zaman kecamatan ini lalu dimekarkan menjadi:  Kecamatan Sukadiri dan Kecamatan Kemiri.

Eko, nelayan asal Cirebon, lebih suka disebut etnis Banten.Foto: Dokumen Pribadi
Eko, nelayan asal Cirebon, lebih suka disebut etnis Banten.Foto: Dokumen Pribadi

Sekolah pelajaran memanggil pemuda dan pemudi untuk menjadi taruna. Foto | Dokumen Pribadi
Sekolah pelajaran memanggil pemuda dan pemudi untuk menjadi taruna. Foto | Dokumen Pribadi

Selain memiliki potensi objek wisata dengan pantai Tanjung Kait,  di wilayah kecataman Sukadiri terdapat sekolah pelayaran bergengsi.

Yaitu Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP). Di kawasan ini pula dapat dilihat jejak peradaban masa lalu seperti  bangunan bersejarah kolonial Belanda dan China, seperti jembatan, gedung-gedung tua dan vihara di kawasan Pantai Tanjung Kait.

Bagi penggemar kuliner dapat mengunjungi Pantai Sangrila. Lokasinya tak jauh dari Pantai Tanjung Kait. Di sini banyak tersedia  aneka seafood, seperti ikan bakar, cumi bakar. Kawasan ini juga cocok untuk liburan anggota keluarga sambil  mengobrol saat liburan. 

Jumlah penduduk Kabupaten Tangerang, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) setempat pada 2013 sebanyak 3.157.780 jiwa dan di Kecamatan Sukadiri tercatat sebanyak 55.039 dan Kecamatan Kemiri 41.964.  Di dua kecamatan ini warganya heterogen, terdiri dari etnis Jawa (Jawa Banten), Sunda, Betawi dan Tionghoa.  Jika ditilik lebih jauh, suku Jawa kebanyakan berasal dari Cirebon yang kemudian berasimilasi dengan penduduk Banten.

Jembatan di kawasan itu tengah diperlebar. Foto | Dokumen Pribadi
Jembatan di kawasan itu tengah diperlebar. Foto | Dokumen Pribadi

Pedagang Ikan di tepi jalan. Foto | Dokumen Pribadi
Pedagang Ikan di tepi jalan. Foto | Dokumen Pribadi
Sementara suku Sunda menjadi warga asli setempat. Hal ini dapat dipahami karena Mauk tempo doeloe masuk  kekuasaan Kerajaan Padjadjaran. Sedangkan suku Betawi dan Tionghoa adalah pendatang dari Batavia (Jakarta).

Eko, seorang nelayan di Mauk mengaku sudah usia kecil menjadi nelayan di kawasan itu. Ia memang "medok" dengan logat Cirebonnya tetapi lebih suka disebut sebagai etnis Banten. Nelayan di sini kebanyakan berasal dari Jawa Timur. Etnis dari Makassar pun ada. Mauk yang sudah dimekarkan menjadi dua kecamatan itu, seperti dikemukakan banyak warga nelayan setempat sangat ideal sebagai kawasan bahari.

Lihat pedagang ikan segar di sepanjang jalan. Sayangnya mereka tidak ditata dengan baik. Belum ada dorongan kuat dari para pemangku kepentingan menjadikan wilayah itu sebagai kawasan bahari. Perkembangan kota seperti berjalan sendiri. Pembangunan infrastruktur, seperti jalan dan bangunan, berlangsung tidak tertata apik. Tambal sulam. Padahal nenek moyang warga sudah lama dikenal sebagai pelaut.

Kenapa potensi mereka dibiarkan?